Possesive Man

Possesive Man
part 44


__ADS_3

"Hei sayang , kau sedang membuat apa heum? tanya Fathan yang mengejutkan Sania secara tiba-tiba. Pria itu kini memeluk Sania dari belakang dengan kedua tangan yang melingkar indah di perut Sania, sembari menenggelamkan kepalanya pada perpotongan leher milik Snaia. Benar-benar menenangkan sekali.


Fathan bahkan meniup-niup leher wanita tersebut hinngga membuat Sania merasa geli dan kesal diwaktu yang bersamaan.


"Aishh, Fathan! kamu jangan jahil deh, aku lagi bikin makan siang untuk Fedrcik,jangan mengangguku," ucap sania berusaha melepaskan lingkaran tangan Fathan yang malah semakin mengerat karena Fathan masih enggan untuk melepasannya.


"Aku tidak mau," Ucap Fathan membantah dan tetap pada posisinya sedangkan Sania menghela nafas melihat kelakuan pria itu. Pria itu suka sekali menganggunya.


"Loh, tadi bukannya kamu udah masak heum, kenapa masak lagi," tanya Fathan dengan heran karena dia dan Athan masih menyisakan banyak


"iya, tapi kurang. Mark dan Vandra tadi makan,  dan semuanya habis,"balas Sania seraya tersenyum


"Dasar, ,mereka memang rakus," ungkap Fathan.


"Orang yang kau katakan rakus itu adalah anakmu tuan," ucap Sania membuat Fathan terkekeh.


"Bisakah lepaskan dulu, aku ingin meletakkan ini ke sana," ucap Sania yang tengah memegang sebuah panci.


"Gak mau, cium aku dulu, lalu aku akan melepakannya," pinta Fathan memutar tubuh sania agar berhadapan langsung padanya lalu setelahnya Fathan mendekatkan wajahnya.


Fathan bahkan kini memejamkan matanya, menunggu Sania.


"No," tolak Sania malah mendorong wajah Fathan yang begitu dekat dengannya. Sania bisa merasakan nafas laki-laki itu yang menerpa wajahnya.


Fathan membuka matanya kembali, setelah mendapatkan penolakan dari saniaa. Menatap Sania dengan intens hingga membuat Sania menjadi salah tingkah dan memalingkan pandangannya ke arah lain.


Fathan tak menyukai hal itu, dia ingin agar Sania tetap menatapnya.


"Kiss me," ucap Fathan semakin mendekatkan tubuh mereka hingga keduanya kini tak memiliki jarak. Sania sampai menahan napas dibuatnya.


Lagi dan lagi Sania ingin mendorong Fathan agar menjauh dari tubuhnya, namun Fathan sepertinya sudah tahu hingga pria itu kini mengungung Sania membuat Snaia terpojok.


"Sudah kubilang aku tak akan melepaskanmu sayang, Kiss me now," pinta Fathan untuk yang kesekian kalinya.


"Ekhem oke," pasrah sania pada ahirnya kerena dia juga tak merasa nyaman dengan posisi yangseperti itu.

__ADS_1


Senyum Fathan langsung melebar menengar pernyataan yang memang sangat dia tunggu sedari tadi.


Fathan kini memalingkan wajhnya dan menunujuk sebelah pipinya.


Cup


Mata Sania melotot saat Fathan memalingkan wajahnya ke arahnya, hingga bukan pipi Fathan yang kini diciumnya melainkan tepat di bibir tebal  pria itu.


Fathan tersenyum miring lalu mengambil alih, pria itu kini mencium Sania menuntut tak membiarkan Sania untuk mnegeluarkan kata protes karena Fathan memperdalam ciumannya.


"emm," lenguh Sania meremas pantri meja dapur.


Sampai beberapa waktu, Sania memukul dada pria itu agar segera dilepaskan karena Sania tidak bisa bernafas.


Fathan yang mnegerti akhirnya mengakhiri ciuman tersebut meski dia belum puas, tapi dia tak boleh terlalu egois dan memikirkan dirinya sendiri saja.


"Kau gila," ucap Sania dengan wajah yang memerah, bukan karena malu tapi amarah. Sania menarik nafas-nafas dalm lalu menghembuskan nya secara kasar.


Sania menatap bengis ke arah Fathan, pria itu sudah keterlaluan menurutnya, meski dirinya sempat menikmati kegiatan mereka tadi, tapi tetap saja itu adalah hal yang salah. Mereka seharusnya tidak melakukan hal tersebut.


"KAu marah?" tanya Fathan.


Fathan hanya diam saja memperhatikannya sampai dia selesai membuat semuanya. Mata Fathan tak lepas dari Sania. Ekor matanya selalu mepehatikan wanita yang sudah dia klaim sebagai miliknya.


"Hey, maaf kan aku. Aku kehilangan kendali, aku tak bisa menahan diriku," ucap Fathan menurunkan egonya untuk meminta maaf, namun jujur dalam hatinya dia sama sekali tidak menyesal melakukan hal tadi.


"Kau tau ini salah," ucap Sania.


"Aku tahu sayang,  aku ingin segera mersemikan hubungan kita, aku tak kuat jika terus-terusan begini. Hanya saja aku harus  menyelesaikan masalah dalam kantor ku terlebih dahulu," jelas Fathan.


"Aku mnegerti, jangan melakukan hal itu lagi," peringat sania.


"Iya sayang,' ucap Fathan lega karena mereka tak bertengkar, jika saja hal itu terjadi maka dia akan semakin pusing.


"Sudah selesai kan acara masaknya, nah sekarang ayo kita jalan-jalan, aku ingin mencari udara segar," ajak Fathan.

__ADS_1


"Kita tunggu Fedrick pulang dulu," ucap Sania menatap makanan yang sidah dirinya sajikan di meja.


Fathan meringis dalam hati, fedrick biasanya akan telat pulang karena bermain atau urusannya yang lain bahkan pria itu jarang sekakali jika makan dirumah  dan lebih sering makan diluar.


Tapi melihat usaha dan niat Sania yang besar, Fatha  tak kuasa meihat jika Sania kecewa.


"Baiklah, setelah itu kita pergi oke, aku tak menerima alasan lain lagi," ucap fathan lalu mmeinta izin untuk kekmar mandi.


Fathan segera menghubungi Fedrick. "Apa yang sedang anak ini lakukan,' geram Fathan saat teleponnya sama sekali belum diangkat mmebuatnya kesal.


Fathan berkali-kali mencoba dan akhirnya putranya yang sangat menyebalkan menurutnya akhirnya mengangkat telpon darinya.


"APa? tanya Fedrick dengan nada datar dari seberang sana seperti tidak merasa bersalah. Fathan bahkan bisa membayangkan wajah Fedrick yang menampilkan raut wajah datar dan cuek.


"Cepat pulang sekarang, jika tidak kusita motr mu dan kubabrkan klub motormu, Now!!" ucap Fathan dengan tegas dan tanpa menungggu persetujuan dari Fedric, Fathan dengan seeenkanya langsung mematikan sambungan telponnya.


"Seperti ada yang kurang," ucap Fathan mengingat-ngingat.


"Ah benar, Intan! aku belum melihatnya hari ini," gumam Fathan lalu kini berniat melangkahkan kakinya untuk kekamar Intan.


Tok tok tok


"Princess," panggil Fathan seraya mengetuk pintu. Lama menunggu, Fathan tak kunjung  mendapatkan jawaban. Biasanya Intan snagat antusias dan tanpa lama langsung membuka pintu.


"Princess? kamu adaa didalam? daddy masuk ya," ucap Fathan seraya membuka pintu kamar Intan dengan perlahan.


"Loh kok kosong, Apa dia ada dibawah ya?" tanya nya pada drinya sendiri, Fathan lalu menutup pintu kamar Intan kembali dan menuruni tangga seraya melirik kesana kemari.


"Sayang, aku kok tidak melihat Intan?" tanya Fathan menghampiri Sania kembali.


" Oh itu, Intan memang tidak dirumah, dia menginap di rumah temannya," ucap sania.


"Teman? teman yang mana. Apa aku mengenalnya?"


"Ya, mereka yang pernah datang kemari, Mereka teman baik Intan. Tak perlu mengkhwatirkannya karena Intan sudah sering menginap bersama mereka," jelas Sania lagi.

__ADS_1


"Kenapa Intak tidak memberitahuku," ucap Fathan mengeluarkan ponselnya kembali dan melakukan panggilan video pada Intan.


TBC


__ADS_2