Possesive Man

Possesive Man
Part 69


__ADS_3

"Terus keadaan Atlas gimana mah, Atlas kecelakaan dimana dan bagaimana kejadian nya?" tanya Jesi yang sudah penasaran sejak tadi.


Keenan sudah tak ada bersama Meraka lagi sekarang, pria itu pulang ke rumah untuk mengambil semua keperluan Atlas untuk di rumah sakit yang pasti akan di rawat inap nanti nya.


Dokter pun juga belum keluar dari dalam sana sejak tadi. Membuat Jesi menjadi tidak tenang sama sekali karena belum mengetahui kondisi nya.


"Huft, jadi Atlas tertabrak mobil, pelaku nya untung saja mau bertanggung jawab dan langsung membawa Atlas kemari. Motor nya kesayangan Atlas sampai hancur," lirih Rita.


Jesi tersenyum getir seraya mengelus bahu wanita lagu baya itu, berniat untuk menguatkan.


"Atlas pasti akan baik-baik aja kok, tadi dia masih sadar sayang, dia masih bisa ngomong walaupun ngos-ngosan. Dia selalu nyebut nama kamu tadi," ucap Rita sambil tersenyum.


Saat itulah dia menanyakan pada Keenan mengapa Atlas selalu menyebut nama Jesi. Rita sempat terkejut mengetahui Atlas ternyata mencintai tunangan dari Kaka nya sendiri.


Tak lama dokter pun keluar membuat Rita dan juga Jesi langsung berdiri karena ingin segera mengetahui kondisi Atlas.


"Bagiamana keadaan nya dok?" tanya Rita dengan wajah yang khawatir.


"Pasien mengalami patah tulang yang mengharuskan pasien untuk di operasi,. tapi tenang saja, dia lasi akan segera baik-baik saja. Untung saja Pasien cepet dibawa kemari." ucap sang dokter tersenyum.


"Syukurlah, lakukan yang terbaik untuk anak saya dok, lalu kapan operasi nya akan dilakukan dokter?" tanya Rita.


"Secepatnya, saya akan memberitahu pada kalian. Kami akan segera menjadwal kan operasi nya segera," ucap Dokter membuat Rita dan Jesi lega. Lebih cepat memang lebih baik.


"Terimakasih dok, apa bisa kami melihat Atlas?" tanya Rita.


"Tentu,tapi jangan terlalu banyak mengajaknya untuk berbicara," ucap sangat dokter lalu pamit.


"Ayo sayang," ucap Rita sambil menggenggam tangan Jesi agar gadis itu ikut masuk bersama dengan nya.


Terdapat satu orang perawat disana yang sedang memeriksa infus milik Atlas.


Rita Segera menghampiri Atlas dan menjitak pelan kepala putra nya itu.


"Kamu bawa motor nya gimana sih, kenceng-kenceng ya. Udah mama bilang kan kalo bawa motor tuh pelan-pelan aja," gerutu Rita sambil duduk di kursi dekat Atlas yang sudah di sediakan oleh rumah sakit.


Rita tahu bagaimana Atlas jika membawa motor, pria itu suka seksi ngebut-ngebut sama seperti Keenan.


Tiap hari dia mengingatkan kedua anak nya, tetap saja dihiraukan.


"Mama harusnya tanya keadaan Atlas ih, kok malah ngomel," jawab Atlas dengan pelan.


"Apa ada yang masih sangat sakit Hem,' ucap Rita yang kini mengelus rambut Atlas dengan lembut.

__ADS_1


Wanita itu meringis melihat luka-luka di tubuh Atlas akibat tergores dengan aspal pasti nya.


Masih ada yang berdarah walau pun sudah dibalut. Rita merasa ngeri melihat nya.


"Udah mendingan kok mah, gak terlalu parah juga kan, Atlas kan kuat. Buktinya belum meninggal nih," canda Atlas yang malah kembali mendapatkan jitakan dari Rita.


"Kamu tuh ya, mulut nya tuh dilem bentar deh. Kata dokter kamu gak boleh banyak ngomong dulu," ucap Rita.


"Iya-iya," pasrah Atlas. Pria itu kini menatap ke arah Jesi yang diam mengamati keduanya.


Gadis itu berdiri tepat disamping Rita, terlihat sedang melihat luka yang berada di tubuh nya. Atlas tertawa kecil melihat raut wajah khwatir yang malah lucu di matanya.


"Apa yang kamu tertawa kan?" tanya Rita sambil melihat arah pandang Atlas.


Rita mengangguk mengerti. Pria itu pasti ingin berbicara dengan Jesi. Untung saja dia adalah orang yang peka.


"Mamah keluar bentar, Jes kamu jagain Atlas bentar ya. " ucap Rita


"Mama mau pulang, ko cepet banget ma," Rajuk Atlas menggenggam tangan wanita itu.


"Enggak, mamah cuma mau cari angin sebentar kan ada ayank tuh" Rita mengedipkan sebelah matanya seraya melirik Jesi.


Atlas menyengir kecil, " mama yang paling the best deh, thanks ma," ucap Atlas seraya tersenyum.


Setelah kepergian Rita, terdapat keheningan di antara mereka. Beberapa menit keduanya hanya saling memandang.


Sampai akhirnya kedua nya sama ingin berbicara.


"Jes"


"Atlas,"


Jesi tertawa kecil saat mereka menyebut kan nama secara bersamaan.


"Lo dulu deh," kata Jesi.


"Lu duduk disini dulu, betah banget berdiri kayak patung gitu. Gak cape?" ucap Atlas.


Jesi tersenyum kecil seraya duduk di kursi yang diduduki oleh Rita tadi. Benar saja dia merasa sedikit pegal.


"Maaf, sudah membuat mu seperti ini," cicit Jesi.


"Apa sih Jes, harusnya gue yang minta maaf udah bikin lu nunggu lama dan gak ada kabar dari gue, gue merasa bersalah pasti lu nungguin nya lama banget. Lu aja masih pake seragam sekarang. Maaf buat udha bikin lu nunggu," ucap Atlas panjang lebar.

__ADS_1


"Kok jadi Lo sih yang minta maaf, kan ini gara-gara gue juga, kalo Lo gak jemput gue pasti lu sekarang gak kenapa - Napa, " balas Jesi. Dia merasa semakin bersalah saat Atlas malah meminta maaf pada nya.


"No, gue yang salah. Lagian gua yang ngotot mau jemput lu kan. Udah sttstt gak usah ngomongin hal ini lagi," Pria itu tak mau memperpanjang masalah ini. Lagipula dia masih hidup sekarang.


" Mending lu bantu gue bentar Jes," ucap Atlas yang ingin bersandar di dasbor kasur.


"Jangan banyak gerak Tlas, tulang Lo pada patah," geram Jesi yang ngeri.


"Udah gapapa, gue kan kuat," ucap Atlas menyakinkan. Padahal memang tubuh nya masih terasa sakit. Dia tak ingin membuat Jesi semakin dirundung rasa bersalah Jika melihat nya kesakitan.


Atlas tau jika gadis itu masih merasa tidak enak atas kejadian yang menimpa diri nya. Lagi pula dia juga tidak ingin terlihat nampak lemah di depan gadis yang dia sukai.


Jesi menatap nya dengan jengkel,Jesi tak suka jika Atlas memaksakan diri dihadapan nya.


Dengan sengaja Jesi menekan luka di lengan Atlas dengan cukup kuat.


"Aduhhh, sakit Jess," ringis pria itu sembari melotot.


"Dasar, sok kuat," ucap Jesi menyentil dahi pria itu. Membuat Atlas mengaduh kesakitan kembali.


"Buset Jes, belum nikah aja lu udah pake kekerasan sama gue, bisa-bisa nanti kalo udah nikah lu kdrt mulu nih Ama gue," ucap Atlas mengusap jidat nya yang telah disentil oleh Jesi.


"Nikah-nikah, siapa yang mau nikah sama lu," ucap Jesi.


"Ya lu lah," jawab Atlas dengan enteng nya.


"Lu aja masih bocah, '


"Bocah-bocah gini gue udah bisa bikin bocah Jes, mau nyoba bareng gue gak bikin nya?" tanya Atlas sambil menaik-turunkan alisnya menggoda Jesi.


Itu adalah hobi nya sekarang. Begitu menyenangkan melihat gadis itu jengkel.


"Pikiran lu ngeres banget deh, heran,' lagi dan lagi Jesi menyentil kening pria itu.


"Sentil aja Jes, terus sampe benjol. Rela deh gue asal lu yang lakuin," ucap Atlas kian tersenyum manis.


"Udah. Lu istirahat sekarang. Jangan banyak omong. Lu mau operasi tadi gak. Tukang lu tuh pada patah."


"Cie, perhatian banget sih sayang,' ucap Atlas.


Jesi salting saat Atlas memanggil diri nya dengan sayang. Jesi bahkan sampai memalingkan wajahnya untuk menyembunyikan wajah nya yang kini memerah.


Atlas tekekeh geli melihat nya. Rasa sakit di tubuhnya seakan tidak terasa karena sangking senang nya diri nya saat Jesi kini berada di sisi nya.

__ADS_1


TBC


__ADS_2