Possesive Man

Possesive Man
Part 90


__ADS_3

"Are you sure dad?" tanya Athan yang kini hanya berdua saja dengan sang Daddy yang tengah berkutat dengan sekumpulan pekerjaan nya.


"Hem," balas pria paruh baya itu singkat seraya tetap melanjutkan pekerjaan nya yang masih begitu menumpuk.


Pria itu benar-benar cukup di pusing kan sekarang, masalah nya belum ada yang terselesaikan membuat nya benar - benar merasa frustasi apalagi orang yang selalu mengurus nya semangat kini berada jauh dari sisi nya.


"Pengendalian diri Daddy untuk ini, aku akui cukup bagus. Tapi apa Daddy benar-benar rela. Apa Daddy tak melihat nya. Mereka begitu sweet dan cocok bukan?" pancing Athan pada Fathan yang sedari tadi menuliskan pendengaran nya saat Athan selalu membahas Sania dan juga Intan.


Bruk


Fathan memukul meja dengan cukup kuat. Ayolah, putra nya itu masih saja menyempatkan diri untuk mengejek dan mengganggu nya.


Saat ini dia membutuhkan waktu dan juga fokus untuk mengerjakan pekerjaan nya.


Namun seperti nya Athan tak tinggal diam setelah mendapat laporan dari Keenan yang mengabari jika seorang pria tengah berusaha mendekati Sania dan juga Intan.


"Berhentilah membahas nya dan berhenti mengomporiku. Lebih baik kau kembali ke rumah sakit sekarang," desis Fathan sambil memejamkan mata nya mencoba untuk menekan amarah nya yang ingin meledak.


"Tapi Dad, kenapa Daddy malah membiarkan pria itu dengan begitu bebas nya," ucap Athan yang tak percaya.


Dia kesal jika ada orang lain yang lebih dekat dengan Sania dan juga Intan.


Terlebih dekat dengan Intan, Athan tidak rela adik nya lebih akrab dengan orang lain.


Sudah lama dia tsk bermain dengan intan, ingin sekali rasanya membawa gadis kecil itu ke rumah ini kembali.


Namun sang Daddy malah menahan dan tak membiarkan dengan dalih untuk memberikan waktu pada Sania dan juga Intan.


"Kita sudah pernah membahas ini Athan, keluar dari ruangan ku sekarang, atau aku akan menyuruh mu diseret paksa dari ruangan ku," ancam Fathan yang membuat Athan berdecak tidak suka.


Entah apa yang dipikirkan oleh pria paruh baya itu sampai bisa pasrah melepas orang yang begitu di cintai nya.


Athan tau pekerjaan cuma salah satu alasan untuk Fathan tidak terlampau memikirkan Sania dan juga dengan Intan.


"Aku harus kesana," telat Athan.


Untung saja dia sudah menonton cctv saat Sania dan juga Intan keluar dari rumah yang diantar kan oleh supir Fathan. Dengan begitu Athan bisa bertanya pada mereka karena dia yakin 100% jika Fathan tak akan mau memberi tahu pada nya, dimana Sania dan gadis kecil nya tinggal.


Setelah mendapat kan informasi yang lengkap dimana tepat nya alamat mereka, Athan langsung bergegas menuju kesana.

__ADS_1


Dia sengaja mengambil libur dari tumsh sakit untuk hari ini agar bisa menemui mereka yang juga di rindukan nya.


Athan mengemudikan mobil nya secara perlahan, ibu kota cukup macet hari ini membuat Athan menghabiskan cukup banyak waktu untuk bisa sampai ke tujuan nya.


Setelah perjalanan yang cukup memusingkan untuk nya, akhirnya pria itu sampai juga di kediaman yang dia tuju.


"Apa mereka tinggal disini, ck. Daddy benar-benar," geram Athan.


Bisa-bisa nya pria itu malah membiarkan mereka tinggal di tempat yang kecil seperti itu. Pasti begitu panas dan juga sempit pikir Athan saat pertama kali melihat kontrakan yang memang begitu kecil namun cukup untuk ditinggali oleh dua orang.


Setidaknya Fathan memperhatikan sedikit saja dan memberikan tempat yang lebih bagus jika memang ingin memberikan kedua sanita itu waktu.


Tak ada mobil atau kendaraan apa pun di depan kontrakan itu selain kendaraan milik nya.


Berarti pria yabg mencoba mendekati Sania dan Intan sudah pulang dari sana.


Sayang sekali padahal Fathan ingin bertemu dan memberikan kesan pada pria itu.


Tok tok tok


Athan mengetuk pintu itu cukup kuat.


Athan dapat mendengar suara langkah yang kini mulai mendekat ke arah pintu menandakan penghuni nya akan segera membuka pintu.


Athan kemudian memundurkan dirinya satu langkah dari arah pintu.


ceklek


Pintu itu terbuka dan menampilkan wanita paruh baya yang tersenyum lembut dan menenangkan


Awalnya begitu, namun setalah melihat jika tamu yang datang adalah Athan, dapat Athan liat jika Saja terkejut akan kedatangan nya dan senyum itu juga mulai meluntur.


"Athan?" tanya Sania memastikan seakan tidak percaya jika Athan bisa datang ke sana.


"Hay mom, how are you. I Miss you," ucap Athan tanpa beban.


Lagi dan lagi Sania dibuat terkejut dengan perkataan Athan yang kini malah memanggil nya mom.


Sania tidak sedang salah mendengar kan, Athan memanggil nya dengan sebutan mom setelah sekian lama hanya memanggil Tante.

__ADS_1


Ada apa gerangan tiba-tiba saja pria itu berubah pikiran.


"Mom gak mau ajak aku masuk, ehem aku cape berdiri," ucap Athan kembali.


Dia mengerti jika Sania masih merasa shock saat ini. Tapi dia tak perduli, toh panggilan itu ternyata menyenangkan juga.


Akhirnya dia bisa menggunakan panggilan itu pada seorang yang bisa menjadi mommy nya kelak.


"Hah, ahh iya, silahkan masuk," ucap Sania dengan kikuk.


Tak mungkin juga dia langsung menyuruh putra dari Fathan itu langsung meninggalkan rumah nya begitu saja.


Sania merasa tidak enak jika melakukan nya.


Mata Athan menyusuri setiap dalam yang ada dalam kontrakan.


Dalam hati dia berdecak kesal saat Daddy nya membiarkan kedua wanita itu tinggal disini.


Sungguh Athan tidak suka akan hal itu. Dia dan keluarga nya hidup sangat enak dan juga nyaman, bagaimana bisa orang yang mereka sayangi malah tinggal di tempat yang sangat berbeda dengan mereka.


"Intan mana mom," tanya Athan yang ingin sekali bertemu dengan adik nya itu


"Dia sedang tidur, " jawab Sania yang membuat Athan melotot kaget.


"Sore-sore begini, sebentar lagi akan Magrib," ucap Athan.


"Biar aku bangunkan saja," ucap Athan.


Sania ingin menahan nya karena putri nya baru saja tidur setelah Daniel kembali ke rumah nya tadi.


Tapi ada benar nya jjha kata Athan sudah sore dan sebentar lagi akan menjelang malam tak baik juga pikir Sania yang akhirnya membiarkan Athan membangun kan putri nya itu.


"Kamar nya yang sebelah kiri," tunjuk Sania yang membuat Athan mengangguk kecil dan segera masuk ke dalam kamar itu.


"Astaga, " geram Athan yang melihat posisi dan letak tidur adik nya itu.


Bagaimana tidak, Intan kini malah tertidur di lantai dengan kipas angin yang begitu dekat dengan wajah gadis itu membuat rambut Intan berantakan dan sebagian lagi menutupi rambut nya yang memang tergerai.


TBC

__ADS_1


__ADS_2