
Fathan kini sudah berada lam pesawat, dia tak main-main dengan ucapannya yang akan segera Kembali ke Indonesia walaupun dia belum menyelesaikan urusannya disana.
Semuanya hanya karena Sania dan untuk pertama kalinya Fathan memprioritaskan orang lain dibandingkan pekerjaan nya.
Fathan memejamkan matanya setelah puas memandangi gumpalan kapas yang menggantung di langit biru, ia sudah sangat tidak sabar untuk menunggu landing.
Ia rindu dengan kedua wanita yang akhir-akhir ini mengisi pikirannya namun sekarang rasa marah lah yang lebih mendominasi dirinya.
Bosan memandang jendela pesawat, perjalanan nya masih beberapa jam lagi. Dari California menuju ke Indonesia membutuhkan 8 jam.
Fathan menatap makanan yang berada dihadapannya yang belum dia sentuh sama sekali. Ia meminum sedikit kopi yang masih penuh, tak lama dirinya kembali mendapatkan pesan dari Carlos.
Farhan merasakan rahang nya mengeras kembali, tali wajahnya tetap datar, tidak menampilkan ekspresi apapun . Lagi-lagi ia memejamkan matanya sambil menembuskan nafasnya kasar, berusaha untuk bernafas tenang dan menenangkan dirinya.
Setelah cukup tenang ia membuka matanya perlahan, menghembuskan nafas gusar, kemudian melihat foto yang dikirimkan oleh Carlos.
Fathan terkekeh tanpa sadar, merasa geram sekaligus kesal dengan Sania, wanita yang begitu keras kepala. Padahal dirinya sudah berkali kali mengingat kan setiap menelpon Fathan selalu mengatakan untuk tak lagi menemui Daniel.
Salah satu sudut bibir Fathan terangkat, lidahnya menelusuri deretan gigi atasnya dari kanan ke kiri, ia memalingkan wajah keluar jendela pesawat, kemudian kembali menatap foto dihadapannya.
Foto demi foto dilihat oleh Fathan.
Bagus Sania.
"Fu*k" Desis nya saat melihat Sania yang menguapi Daniel yang sedang terbaring. Posisi mereka sangat dekat dan Daniel tak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari Sania.
Tangan Fathan mengepal mengenggam Ponsel nya, ia tidak tau harus berkata apalagi.
jika saja ia sedang tidak berada di dalam pesawat saat ini, ia pasti sudah berteriak frustasi. Ia mengusap wajahnya, menjambak wajahnya sendiri.
Sania bukan lagi hanya memancing emosinya, tapi wanita itu sudah benar-benar membuat Fathan benar -benar marah. Fathan akan memastikan Sania menyesal melakukan itu padanya.
***
Fathan akhirnya sampai di Indonesia setelah melakukan perjalanan yang cukup panjang. Fathan menuju ke rumahnya dan tak menghampiri Sania karena Sania yang akan datang padanya nanti. Dan Fathan bisa memastikan nya.
Lagipula dia juga ingin bertemu dengan princess nya Intan.
"Wah, kalian bersenang -senang?" tanya Fathan yang melihat Intan yang ternyata bersama ketiga putranya.
"Fedrick kemana?" tanya Fathan seraya menghampiri mereka.
Ketiga putranya saling menatap dan tak menjawab membuat Fathan menaikkan alisnya dan hendak bertanya lagi. Namun Intan segera menuju ke arah nya dan memeluknya erat.
Untan terlihat senang bukan main dan tak ada alasan untuk Fathan mengabaikan nya. Perlahan dia juga ikut membalas memeluk Intan.
Intan layaknya anak kecil yang sedang menemukan boneka beruang besar yang hilang.
"Daddy, Intan kangen," rengek nya.
__ADS_1
Fathan terkekeh kecil. "I Miss you too princess,"
"Dad, heheh," cengir Intan sambil melepaskan pelukannya dan menengok kanan kiri.
"Cari apa heum,.Daddy ada disini sayang,"
"Oleh-oleh Intan mana, Daddy kan udah janji tapi Daddy gak bawa apa-apa selain koper itu," tunjuk Intan ke arah Koper berwana hitam miliknya.
Astaga aku lupa. batin Fathan.
"Eh bukan begitu sayang, Daddy pulang nya kan buru-buru jadi nanti oleh-oleh nya nyusul dibawain sama asisten Daddy." Ucap Fathan ngeles.
"Oh gitu, yaudah deh gapapa intan bakal tunggu," ucap Intan.
Jika begini Fathan harus menyuruh Ivana segera pulang dan membelikan beberapa cinderamata dari California dan hadiah lainnya. Dia tak kuasa melihat Intan yang penuh harap itu.
"Ekhem Intan kekamar dulu gih, udah malem,"
"Masa langsung nyuruh intan tidur sih, Daddy beneran kangen sama Intan atau bohongan sih," ucap Intan mengembung kan pipinya.
"Intan ngeraguin Daddy Hem, bukan gitu sayang Daddy mau ngomong sama Abang kamu mereka pasti juga kangen sama dad, besok waktu daddy buat kamu sama mom oke, Deal."
"siapa juga yang kangen ," decih Athan dengan suara pelan.
Sedangkan Mark dan Vandra memutar bola matanya malas saat Fathan malah membawa nama mereka.
"Yaudah deh, Intan ngerti Intan gak mau egois, Daddy bukan cuma Daddy-nya Intan juga," ucap Intan.
"Ayo biar Daddy antar dan untuk kalian bertiga tunggu disini dan jangan berani pergi sebelum Daddy datang," perintahnya tegas sambil memandang ketiga putranya penuh peringatan lalu pergi mengantarkan Intan ke kamarnya.
"Daddy mau ngomong apa ya bang, serius amat," ucap Vandra sambil memainkan ponselnya.
Athan menggeleng pelan dia juga memikirkan hal yang sama sedangkan Mark ketar-ketir karena Fedrick tak ada disini pasal nya pria itu sedang balapan dan tadi Fathan menanyakannya.
Tak lama mereka menunggu akhirnya Fathan kembali ke ruang keluarga. Dia lantas langsung duduk di kursi sofa yang lumayan besar.
"Fedrick kemana?"
"Itu dad , nginep," cicit Mark .
"Nginep? benarkah? Anak itu, dia sering sekali menginap di rumah temannya, sebegitu tak betah kan dia dirumah ini."
"Udahlah Dad, yang penting dia gak ngelakuin hal yang diluar batas," sahut Athan.
"Daddy tak bodoh, kalian pikir Daddy tidak tau apa yang kalian lakukan?" desis Fathan.
"Jangan lupa Daddy memiliki banyak mata-mata Mark,"ucap nya penuh penekanan.
"Anu dad,"
__ADS_1
"Diam! Daddy tak menyuruh mu untuk berbicara, moodku sedang tidak bagus. Sejak kapan kau bergabung dengan geng Motor itu?"
Nafas Mark tercekat mendengarnya, dia tak berpikir Fathan akan mengetahui nya secepat itu.
"Geng motor?" tanya Athan.
"Kau tak tau jika adikmu yang satu ini mengikut Fedrick?"
Athan menoleh ke arah Mark meminta jawaban.
"Maaf, tapi kami tak melakukan hal yang buruk dad!" bantah Mark.
"Apanya yang tidak buruk hah? balapan liar? nanti apalagi tawuran," ucap Fathan telak.
Mark bungkam dia tak bisa mengelak.
"Athan, suruh Fedrik pulang sekarang juga, Daddy tak mau ada bantuan sedikit pun,"
"Dadan kau Mark, motor mu Daddy sita selama sebulan penuh, dan kau akan kukirim dengan Fedrick selama sebulan ke rumah Kakek mu,".ucap Fathan penuh penekanan.
Vandra yang sedari diam berdiri tidak setuju.
walaupun dirinya sering bertengkar dengan Fedrick dan Mark bukan berarti dia tak peduli pada kedua saudara nya itu.
"Dad? Daddy tak akan benar-benar melakukan nya kan?" tanya Athan.
"No, keputusan Daddy sudah bulat, kalian akan diantar bodyguard malam ini juga," ucap Fathan tanpa beban.
"Daddy!!" teriak Athan tak terima.
Fathan menajamkan pandangan nya pada Athan karena telah bermain berteriak padanya.
"Maaf dad, tapi dad tak ingatkah daddy terakhir kali mengirim Fedrick ke rumah Kakek," ucap Athan.
Ayah dari Fathan sangat lah keras dan jika melakukan kesalahan maka pria tua itu tak akan segan-segan memberi hukuman baik itu dengan kekerasan atau tidak.
"I know, kalian harusnya tau konsekuensi nya, Daddy tak mau kalian menjadi lemah dan tentu saja setiap kesalahan harus mendapatkan hukuman," ucap Fathan lalu beranjak tak mau berdebat terlalu lama.
Mark menghela nafas nya, kini dia harus mempersiapkan mental nya untuk berhadapan dengan Kakeknya yang menyebalkan.
"Kau kabur saja," usul Vandra yang mendapat jitakan dari Athan.
"Jangan menambahkan Masalah," ucap nya sembari menelpon Fedrick dan menyuruh nya untuk segera pulang dengan ancaman tentu saja karena Fedrik keras kepala.
"Huft tenanglah, Kakek sudah sedikit berubah dia tak sekeras dulu, lagipula dia sudah tua masa kalian tak bisa melawan nya," ucap Athan.
"Benar juga, dia pasti sudah peot," kekeh Vandra.
"Arghh andai begitu, kakek memiliki banyak anak buah yang sama menyeramkan nya, sekali kakek memberi perintah habislah aku dan Fedrik," keluh Mark .
__ADS_1
TBC