Possesive Man

Possesive Man
part 85


__ADS_3

"What the hell, apa-apaan lagi ini,"


Fathan mencengkram pulpen nya dengan begitu kuat saat mendapat laporan dari Carlos.


Padahal pria itu sedang bekerja sekarang dan mood nya menjadi jelek sekarang.


Berita yang dikabarkan oleh asisten nya itu adalah berita yang selalu mampu membuat nya muak juga membuat hati nya mendidih. Astaga Fathan rasanya ingin sekali berteriak sekarang.


Fathan Kembali merasakan sesak di dada nya melihat kenyataan yang telah di laporkan pada nya.


Padahal sudah berkali-kali Fathan mengatakan untuk tidak dekat-dekat dengan pria lain.


Ah dia lupa jika telah melepaskan wanita itu, membuat wanita menjadi bebas melakukan apa yang dia mau.


Tapi mengapa secepat itu. Dirinya sendiri bahkan tak pernah mendekati wanita manapun selain Sania.


"****, ****," ucap Fathan setelah kini Carloz memberikan bukti foto kepada nya.


"Sania! kenapa kau selalu saja berhasil membuat ku marah seperti ini, kau sangat pandai dalam hal ini sayang," desis Fathan yang melihat Sania yang tengah menjenguk Daniel-Daniel itu kembali.


"Aku benar - benar ingin langsung menyeret mu untuk segera pulang. Sial, seperti nya keputusan ku untuk melepaskan mu salah," gumam Fathan memandang tajam ke arah handphone milik nya. Sania adalah milik nya hanya milik nya.


Sejak pertama kali bertemu dengan Sania, Fathan sudah menandai dan mengklaim nya untuk menjadi milik nya.


Fathan tidak benar-benar membiarkan Sania dan Intan di luar sana karena dia memiliki banyak mata yang akan memberikan nya laporan setiap hari nya tentang kegiatan ke duanya.


Namun untuk sekarang yang harus dia lakukan adalah diam saja. Dia akan memberikan sedikit banyak waktu untuk mereka menghabiskan waktu bebas nys kembali sebelum Fathan mengikat dan mereka kembali bersama nya.


Fathan ingin melihat sejauh mana Sania dan Intan bertahan dengan ruang yang sudah dia berikan.


Fathan mengehela nafas nya panjang, dia meletakkan ponsel nya dengan keras.


"Bersenang-senang lah sekarang dengan pria itu selagi bisa sebelum aku menghancurkan nya kembali," Fathan tersenyum miring memikirkan berbagai cara agar membuat Sania menjadi kapok nantinya.

__ADS_1


Fathan tidak akan melupakan hal ini dan akan memberikan hukuman pada wanita itu yang sudah berhasil mengobrak - Abrik hati nya kembali.


Lalu pria itu kini memusatkan fokus nya pada pekerjaan nya. Dia memutuskan untuk menghabiskan waktunya agar tidak terlalu memikirkan Sania.


Dia harus memperbaiki perusahaan nya dan keuangan nya terlebih dahulu untuk bisa membawa Sania dan Intan kembali dalam kehidupan nya.


Para putranya juga kini berada di kantor bersama dengan nya. Kecuali Athan yang tak bisa lama karena harus ke rumah sakit juga.


Sedangkan ketiga putranya kini terlihat mengerjakan pekerjaan mereka diruangan sebelah Fathan meskipun terkadang mereka bertengkar.


Satu alasan itu yang membuat Fathan ingin terpisah dengan putra nya karena jika tidak sudah dapat dipastikan akan membuat nya menjadi pusing dengan keributan mereka yang terkadang hanya meributkan hal sepele dan tidak jelas.


Fathan lebih memilih untuk mereka bolak-balik mengetuk pintu ruangan nya jika mereka tidak mengerti dengan pekerjaan mereka dan bertanya pada nya.


Seperti yang terjadi sekarang, mereka bahkan ribut kembali.


"Bisakah kau diam, suara mu begitu berisik," tegur Fedrick lagi dan lagi untuk me sekian kalinya pada Mark yang mengoceh dan merengek tidak jelas.


"kenapa daddy malah meletakkan kita semua nya seruangan seperti ini,' runtuk Fedrick memijat kepala nya pusing.


"Yaudah lah, pura-pura gak denger aja," ucap Vandra yang tak mau ambil pusing dan mengerjakan bagian nya.


"Gimana mau pura-pura denger, gue punya telinga!" sentak Fedrick dengan kesal.


"Yaudah Abang pergi aja dari sini," ucap Mark.


"**** you, fokus lah Mark, masih banyak pekerjaan yang harus kita kerjakan di sini. Jangan hanya memikirkan nya sedangkan dia belum tentu memikirkan mu dan kau malah uring-uringan disini," ucap Fedrick yang sudah mencoba menekan kekesalan nya sejak tadi.


"Maaf bang," ucap Mark yang tau dia bersalah kali ini.


Mata nya melihat ke arah depan dsn melihat memang banyak berkas yang harus kerjakan, menyusun laporan dsn berbagai kerjasama perusahaan mereka dengan perusahaan lain nya juga.


"Huft, Mark cuma rindu aja," lirih Mark yang memang sedari tadi selalu membahas Intan dan Sania.

__ADS_1


Mark bahkan sampai meraung karena Intan masih mengabaikan nya dan dia malah mengabaikan gadis itu kembali.


Mark masih ingat bagaimana tatapan sedih dan kecewa Intan saat dia tidak menghiraukan bahkan sekedar menyapa Intan di sekolah.


Mark bukan nya secara sukarela melakukan nya, Mark terpaksa melakukan hal itu.


Mark hanya tidak ingin membuat Intan merasa risih jika Mark terlalu mendekati Intan mengingat bagaimana Intan yang juga masih enggan untuk berbicara dengan nya.


Mark akan menunggu sampai Intan mulai mau berbicara dengan nya nanti.


"Kerjakan saja ini Dulu, jika memang aku sangat merindukan mereka kau bisa mengecek keadaan mereka kan," ucap Vandra yang kini fokus dengan pekerjaan nya .


"Tentu saja aku akan melakukan nya, tapi ini sangat banyak," keluh Mark melihat lembaran-lembaran kertas yang masih terlihat menumpuk.


"Makanya jangan banyak omong, yang bekerja itu tangan dan pikiran bukan mulutmu!" ucap Fedrick dengan telak membuat Mark menjadi kembali terdiam.


"Huft, lihat lah ini," ucap Vandra menujuk pekerjaan Mark yang belum sepenuhnya sempurna. Vandra baru saja mengecek nya.


"Kenapa bang?" hanya Mark.


"Ini masih belum benar Mark, ayo lah fokuskan pikiran mu sekarang, jangan membuat ku semakin kesal dengan mu, perbaiki ini. Untung aku yang melihat nya Jika Daddy pasti kau akan kena amarah karena tidak beres," Vandra memberi kembali kerjaan Mark untuk segera diperbaiki kembali.


Vandra jika sudah serius akan memusatkan pikiran nya pada hal yang sedang diri nya kerjakan.


Vandra tidak bohong, dia juga merindukan Sania yang membuat dirinya merasakan kasih sayang ibu serta tingkah ceria Intan.


Namun kehidupan akan selalu terus berjalan dan tidak stuck disitu situ saja.


"Ini apa lagi astaga," decak Vandra geram seraya memandang datar ke arah Mark yang meringiss merasa bersalah.


"Maaf, jangan marah ya bang, gue bakal perbaiki," ucap Mark dengan cepat.


Fedrick hanya menghela nafas nya kembali. Dia Sudah lelah sekarang apalagi otak nya yang sudah terasa panas memikirkan pekerjaan ini dan belum lagi tugas kuliah nya yang banyak dan belum sempat di kerjakan nya.

__ADS_1


"Jangan mengoceh lagi jika tidak ingin kulemparkan mau dari gedung ini, " lrongst Fedrick dengan nada yang menyeramkan sedangkan Mark bergidik ngeri membayangkan nya.


TBC


__ADS_2