Possesive Man

Possesive Man
Part 75


__ADS_3

"Jadi ini cara Daddy untuk menenangkan diri," ucap Athan yang baru saja masuk.


Untung saja dia langsung diperbolehkan jika tidak bisa dipastikan dia akan membuat keributan.


"Hem," dehem Fathan tanpa mengalihkan pandangan nya.


Athan terdiam melihat beberapa bungkus rokok di meja balkon.


"Jagan bilang Daddy menghabiskan nya hanya dalam waktu satu malam," ucap Athan dengan nada tidak percaya. Itu sudah terlalu berlebihan tak baik untuk kesehatan nya.


"Berikan padaku," tegas Athan.


"Ck, kau selalu saja mengganggu kesenangan ku," ucap Farhan namun tetap melemparkan satu bungkus rokok yang berada ditangan nya. Dia sedang malas untuk mendengarkan ceramah dari Athan tentang rokok pada nya yang mana sudah sangat sering kali Fathan dengarkan.


"Untuk yang satu ini, aku tidak akan berikan," ucap Fathan seraya menunjuk satu rokok di tangan nya. Athan kemudian mengangguk kecil.


"Katakan padaku, apa yang kurang dariku. Aku cukup tampan dan mapan. Aku melakukan yang terbaik yang aku bisa untuk nya Athan. Lalu mengapa dia tak bisa menerima ku," ucap Fathan membuka obrolan.


Sekarang Athan mengerti arah pembicaraan laki-laki itu. Pria itu tengah membicarakan Sania pasti nya. Siapa lagi jika bukan wanita itu.


"Daddy ada problem sama Tante Sania? Sampai mereka angkat kaki dari rumah ini?" tanya Athan mencoba memahami keadaan dari Fathan tanpa mengajak ribut.


"Ya begitulah, sebelumnya dia pernah kabur tapi Daddy tidak biarkan dan daddy mengurung nya agar tetap bersama dengan Daddy," jelas Fathan setelah menghela nafas yang panjang.


"Vandra dan Mark sudah mengatakan hal itu padaku tadi, lalu mengapa sekarang Daddy malah melepaskan kan nya. Bukannya Daddy sangat mencintai Tante Sania. Aku ingat bagaimana Daddy mengatakan padaku jika akan menikahi nya meski tanpa restu dari Fedrick sekalipun," ucap Athan. Dia tak akan pernah lupa saat Fathan memberitahu nya soal rencana nya yang itu dengan penuh tekad dan bahkan mata Fathan sangat berbinar kala itu.


"Karena aku begitu mencintai nya maka dari itu aku melepas nya, dan lagi Intan yang meminta untuk pergi dari sini," ucap Fathan dengan nada sendu.


Dia sudah keterlaluan dengan merenggut kebebasan mereka hanya Karena keinginan nya. Fathan begitu Posesif tidak pada tempat nya. Jika mereka suami istri itu adalah hal yang wajar.


Bukan nya dia tak bisa memaksa Sania agar mau menikah dengan nya. Hanya saja Fathan ingin memberi kan waktu untuk Sania untuk memberikan keputusan yang dari hati nya.

__ADS_1


Fathan ingin menikah dengan Sania yang juga sudah mencintai diri nya agar tidak ada penyesalan di kemudian hari nya.


Tali ternyata perjuangan nya tak cukup untuk membuat Sania jatuh hati pada nya. Wanita itu malah ingin pergi dari sisinya. Lalu apa lagi yang bisa dia lakukan saat orang yang dia inginkan tak mau hidup bersama dengan nya.


Pria itu kini bahkan memegang erat tiang pembatas balkon untuk menyalurkan rasa sesak di dada nya.


"Intan yang meminta?" tanya Fathan terkejut. Tak mengangka jika adik kecil nya yang mau minggat.


"Heum, dia berkata tidak pantas berada di keluarga ini. Dan mereka ingin hidup sendiri dan mandiri," jelas Fathan.


Athan mengernyit kan dahinya. "Tidak mungkin hanya karena alasan itu saja dad, aku pernah menanyakan pada Intan jika dia sangat senang tinggal bersama dengan kita dan mau bersama dengan kita disini," ucap Athan.


"Begitukah? jika memang menyenangkan lalu mengapa meminta untuk pergi. Itu bohong, mereka tidak senang oleh karena itu mereka pergi," gumam Fathan yang masih bisa di dengar oleh Athan.


Athan memutar bola mata nya malas melihat Daddy nya yang lah menjadi seperti orang yang terpuruk.


"Oh ayolah, Sampai situ saja perjuangan Daddy? yang benar saja, masa langsung nyerah gitu aja sih. Kata nya cinta gitu aja udah gak kuat langsung lepas tangan," Athan Sampai berdecak kesal.


"Diamlah, kau tidak tau apa yang Daddy rasakan," ucap Fathan seraya membuang sisa rokok nya yang sudah mengecil.


"Ya terserah Daddy aja sih, yang penting Daddy tidak menyesali nya," ucap Athan mengingat kan.


Karena hidup itu memilih bukan, jadi saat sudah memilih sesuatu pilihan, tak seharus nya kita menyesali nya karena kita sendiri lah yang memilih sebuah keputusan yang telah dihadapkan kepada kita.


"Aku tidak akan menyesali nya, Daddy sudah memikirkan hal itu berulang kali," jelas Fathan mencoba untuk mengelak jika sebagian hati nya tidak terima.


"Ya baiklah Daddy hanya tinggal menunggu undangan dari pria lain Saja. Bayangkan mereka jadi keluarga yang bahagia, terus Tante Sania punya suami yang lebih baik dari Daddy serta Intan juga punya Daddy yang baru," ucap Athan memanas-manasi pria itu.


Dan benar saja pria itu menggeram tidak suka.


"****," umpat Fathan yang tak bisa membayangkan hal tersebut. Dia tak mau hal itu terjadi tentu saja sedangkan dia menderita seorang diri .

__ADS_1


"Tidak boleh begitu, dia tak akan melakukan nya, dia hanya ingin hidup berdua dengan Intan," sentak Fathan yang tidak terima sama sekali.


"Ya bisa saja kan Tante Sania berubah pikiran dan menikah," ucap Athan kembali.


"Berhenti mengatakan tentang pernikahan nya dengan pria lain sialan," marah Fathan yang merasa panas.


"Hahaha Daddy kepanasan ya, tadi katanya tidak akan menyesal," ejek Athan sambil tersenyum miring.


Fathan menatap Athan dengan tatapan tajam nya. Bukan hati nya saja yang panas sekarang. Kepala pria itu juga mendadak panas memikirkan perkataan Athan tadi.


Padahal udara luar sangat dingin sekarang, tapi tidak mampu membuat Fathan merasa adem.


"Aku tidak akan membiarkan nya," desis Fathan.


"Mana bisa begitu, Daddy kan sudah melepaskan nya. Daddy kan sudah menyerah sebelum berperang. Ck, ck, ck," ucap Athan.


Bug


Karena sudah sangat kesal dengan Athan yang mengompori nya. Fathan langsung melayangkan bungkus rokok yang ada di meja kenal arah Athan sedangkan pria itu malah mengejek nya.


"Aku akan menjemput nya kalo begitu, aishh tapi tidak bisa sekarang," ucap Fathan.


Kena kau. batin Athan bersorak.


Jika begini dia tidak akan kehilangan adik kecil nya kembali. Jika Fathan sudah bertekad pria itu tak akan main-main lagi. Tidak sia-sia dia memanas-manasi pria itu.


"Untuk apa mengulur waktu dad, gas aja sekarang jemput nya, Athan mau ikut jemput juga deh," seru Athan yang kesenangan.


"Tidak bisa sekarang," ucap Fathan dengan nada yang serius.


"Ada apa?" tanya Athan.

__ADS_1


TBC


__ADS_2