
"Eugh, " suara berisik handphonenya membangunkan tidur nyenyak Joice.
Dengan sedikit kesal dia mengangkat telponnya.
"Ada apa," Ucap Joice dengan suara yang serak khas orang bangun tidur.
"Apa kau lupa dengan jadwalmu, sekarang ada pemotretan," ucap manager Joice yang bernama Cole.
"Iya-iya sebentar lagi, aku bahkan baru tidur tadi aish," gerutu Joice.
"Setelah kontraknya habis aku tidak ingin menerima job dulu aku ingin istirahat," jelas Joice.
"Oh ayolah Joy karir mu lagi melejit sekarang. Kau sedang ada di pucuk daun bagaimana bisa kau membuang kesempatan ini." decak Cole dari seberang sana.
"Aku bukan robot Cole, aku juga ingin berlibur jika memang sudah tidak ada job nantinya aku sudah berencana untuk membangun bisnisku sendiri kau tak perlu khawatir akan hal itu karena aku sudah memikirkan hal itu ." ucap Joice.
"Ya baiklah, terserah padamu saja, lagipula aku yakin walaupun nanti sedang hiatus kau masih akan bersinar," balas Cole.
"Kau bisa saja, baiklah sudah dulu aku akan segera bersiap," Joice mematikan panggilan terlebih dahulu.
Joice segera bersiap dan pergi kekamar Miranda. Kamar mereka bersebelahan . Joice benar-benar beruntung memiliki teman seperti Miranda Karena Miranda selalu membantu dirinya saat dia kesulitan dan ikut senang saat dirinya juga merasa senang.
Tok tok tok
"Miranda," panggil Joice.
"Masuk saja," teriak Miranda dari dalam.
"Kau mau keluar juga?"tanya Joice yang melihat Miranda sudah rapi dengan balutan dress warna putih.
"Tentu saja, tunangan ku sudah ada dibawah menjemputku. Kau pergi sendiri ya," ucap Miranda terkekeh geli.
"Jangan menyindir ku," decak Joice. " Oh iya aku juga ingin pamit pergi aku ada pekerjaan sepertinya akan sedikit lama," ucap Joice.
"Makanya cepat cari kekasih sana biar ada yang menjemput dan mengantar mu , apa kau tidak bosan menyendiri," ucap Miranda.
__ADS_1
"Hm itu sangat merepotkan, aku harus mengabarinya setiap waktu belum lagi akan pertengkaran dan lain sebagainya, Aku tidak ingin pacaran lagipula aku sibuk," Joice berjalan meninggalkan Miranda.
"Jika kau punya kekasih aku yang akan tertawa duluan nanti," ucap Miranda mengikuti langkah Joice.
***
"Bagaimana dengannya?"
"Dia sedang ada project sekarang hanya pemotretan seperti biasanya," ucap Jay sambil membolak-balikkan jadwal Joice pada sahabat nya itu.
Lantas saat mendengar itu Athan pergi begitu saja.
"Hei selesaikan dulu pekerjaanmu, kenapa selalu harus aku yang mengerjakan ini aish langsung culik saja dia merepotkan sekali hanya melihat dia diam-diam tidak jelas," gerutu Jay
Jay bingung sekali dengan Athan, entah sejak kapan pria itu menjadi pengejar wanita seperti itu. Terlebih lagi dia masih baru mengenal wanita itu.
Setau nya hanya Sophie yang cukup dekat dan cukup mengejutkan untuk nya saat pria itu menyuruh nya mencari tahu tentang pasien nya yang bernama Joice itu.
Jay tidak habis pikir dengan Athan, walaupun sudah mengenal cukup lama, tetap saja dia kadang masih sulit untuk membaca pikiran pria itu.
Saat Vandra mendekati Sophie dia terlihat senang dan lihat lah sekarang, seorang Athan yang anti gadis Sekarang seperti orang yang tergila-gila.
"Diamlah, kerjakan saja atau kembalikan mobil yang kubelikan kemarin," ancam Athan membuat mata Jay membulat.
"Awas saja, aku akan bekerja lebih keras agar lebih kaya darimu nanti ," balas Jay mengeluh melihat tumpukan kertas di meja kakanya.
Jay masih kuliah namun dia juga ingin mempelajari tentang perusahaan jadi jika dia lulus nanti dia tidak akan bingung dan bisa membantu perusahaan keluarga nya nanti.
Athan tersenyum tipis dia menyanyangi Jay seperti adik nya. Memang dia tidak langsung mengatakanya namun dia selalu memperhatikan orang yang sudah dianggap adik itu.
Athan sangat senang dan bangga melihat Jay yang cukup berkembang. Anak seusia Jay biasanya akan nongkrong kesana kemari tapi tidak dengan Jay . Dia memiliki jiwa semangat yang sangat membara dalam mempelajari dunia bisnis.
Athan beranjak pergi ingin mengawasi Joice. Gadis yang menarik seluruh pergantian dirinya. Bahkan saat melihat gadis itu pertama kali rasanya dia ingin mengurung gadis itu hanya untuk diri sendiri.
Athan sebenarnya tak rela saat Joice harus menjadi model karena banyak pria yang akan suka padanya. Athan tak suka itu.
__ADS_1
Namun Athan jelas tau jika Joice sudah berusaha keras hingga dia bisa menjadi seperti sekarang, menjadi model terkenal bagaimana bisa Athan menghancurkan mimpi itu.
Inilah alasan Athan hanya mengawasi Joice diam-diam. Perusahaan Joice jelas melarang untuk menjalin hubungan dan Joice sudah menandatangani kontrak.
Kalandra juga ingin Joice menikmati masa-masa jayanya hingga nanti saat keluar dari dunia entertainment Athan bahkan tak akan mengijinkan Joice untuk lepas darinya dan akan mengurung Joice di rumah miliknya.
Athan mengetahui semua tentang Joice karena dia benar-benar selalu mencari tau apa saja kegiatan gadis itu tak pernah terlewatkan olehnya.
Athan dengan semangat seperti biasanya datang ke lokasi pemotretan Joice. Athan dari jauh melihat pemotretan Joice.
Kadang kala dia menggeram saat Joice melakukan pose yang cukup menggoda .
Athan sangat tidak rela jika banyak orang yang melihat keindahan Joice.
"Huft, hanya tinggal 1 tahun lagi, cukup sudah aku sudah tak tahan dengan semua ini," gumam Athan geram melihat gaya pemotretan Joice.
Saat sedang break Joice memandang segala arah dan matanya tepat terhenti pada sepasang mata tajam yang memandangnya tak berkedip.
Joice sedikit takut melihat raut wajah itu, terlihat sekali jika ada kemarahan disana.
Athan yang menyadari Joice melihat kearahnya menatap tajam ke arah Joice lalu sedetik kemudian menarik sudut bibirnya, tersenyum tipis.
Sedangkan Joice terpesona dengan senyuman itu meski tipis pria itu kelihatan sangat tampan dan gagah. Joice membayangkan bagaimana rasanya dipeluk oleh pria gagah itu badannya pasti keras dan menggoda.
Joice memukul kepalanya. "Kenapa pikiranku sangat kotor,"
Athan mengernyit melihat Joice yang memukul kepalanya. Ada apa dengan Joice? Apa kepala gadis itu sakit Kalandra jadi khawatir dibuatnya.
"Tuan," panggil seseorang yang mengalihkan anestesinya dari Joice.
"Silahkan duduk tuan, pasti sangat lelah jika berdiri terus-menerus," ucap Staf disana.
Athan memang bisa keluar masuk dengan bebas dan melihat pemotretan disini. Tak ada yang berani melarangnya untuk datang karena dia adalah sponsor terbesar disini dan juga sahamnya 12% ada di perusahaan tempat Joice bekerja.
Segila itu Athan, dengan cepat mendapatkan informasi dan tak tanggung - tanggung nya pria itu melakukan semua itu hanya karena satu wanita saja.
__ADS_1
"Terimakasih," ucap Athan .
TBC