Possesive Man

Possesive Man
Part 83


__ADS_3

"Kamu gak suka makan sayur?" tanya Jesi pada Atlas.


Pasal nya pria itu selalu menolak ketika disuap sayur. Hanya beberapa kali pria itu mau itupun terlihat dengan raut wajah yang terpaksa.


"Ehm, aku gak suka makan sayur, gak enak," ucap Jesi pada Atlas.


Walaupun begitu dia usahakan sesekali menerima sayur tersebut karena disuapi oleh Jesi jika tidak makan Atlas tak akan mau repot - repot menguyah sayuran tersebut.


Pria itu memang sangat sulit apabila disuruh untuk makan sayur. Dari kecil dia sangat membenci nya. Entahlah dia terkadang merasa mual jika makan sayur.


"Kamu tuh harus makan sayur biar cepet sembuh nya," ucap Jesi yang kembali memberikan sayur pada Atlas.


Sebab dokter juga tadi menyarankan untuk banyak makan sayur


"Enggak ah gak mau," ucap Atlas menutup mulut nya. Enggan untuk memakan sayuran itu lagi. Atlas sudah merasa cukup akan hal itu.


Jesi mengeja nafas nya dan tidak memaksa Atlas lagi. Dia juga cukup kasihan melihat wajah Atlas hang Seperti nya tertekan saat dia menyuapi nya.


"Yaudah nih minum obat nya dulu kalo gitu, " ucap Jesi memberikan sebutir obat pada Atlas.


"Pahit nggak?" tanya Atlas sambil melirik sekilas obat nya.


"Ya namanya obat pasti ya pahit lah Atas," ucap Jesi dengan sabar.


Sebutir obat kini sudah berada di tangan Jesi, gadis itu juga memberikan segelas air pada Atlas.


"Terimakasih Jesi, kau benar-benar sudah cocok menjadi istriku," goda Atlas kembali dengan candaan yang sama.


"Siapa juga yang mau jadi istri Lo," ucap Jesi dengan sebal.


"Kamu lah, masa orang lain," ucap Atlas menaik-turunkan alis nya.


"Terus nanti kita bakal punya anak, kalo cewe pasti secantik kamu deh," ucap Atlas yang mulai membahas nya lebih jauh.


"Aduh," ucap Atlas meringis saat Jesi menjitak kepala nya. Jitakaan dari Jesi cukup keras.


"Mending diem deh, udah tidur aja istirahat kek banyak bacot," ucap Jesii berbeda dengan hati nya yang menghangat karena Ucapan dari Atlas.


"Belum nikah aja udah kdrt," ucap Atlas mengerucutkan bibir nya.


"Hmm," Jesi hanya bergumam pelan menanggapi karena menahan sesuatu sedari tadi.


Kruk Kruk Kruk


Akhirnya apa yang di tahan nya keluar begitu saja. Padahal dia sudah mencoba menahan nya namun tetap saja keluar begitu saja.


Bunyi perut Jesi yang meminta untuk diisi. Jesi meringis kecil karena suara perut nya cukup keras membuat dia menahan malu di depan Atlas, Bahkan pipi gadis itu sampai memerah.

__ADS_1


Aduh knapa harus bunyi sekarang sih, batin Jesi meruntuki diri nya sendiri.


Jesi memang mudah lapar, jika sudah waktu nya untuk makan gadis itu harus segera mengisi nya tanpa menunda.


Jika tidak begini lah kondisinya.


Jesi meruntuki diri nya yang entah mengapa hari ini lupa untuk membeli Snack dan roti biasa nya itu akan selalu ada dalam tas nya.


Sedangkan Atlas kini terdiam dan menatap ke arah Jesi dengan pandangan yang bersalah.


Dia malah hanya memikirkan dirinya tadi tanpa menanyakan jika gadis itu sudah makan atau belum.


Dirinya sudah merasa kenyang, tapi ternyata gadis gang


"Kamu belum makan?" tanya Atlas dengan pasangan datar.


Mengapa Jesi juga tadi tidak bilang pada nya.


"Belum," cicit Jesi menggelengkan kepala nya.


Atlas menghembuskan nafas nya kasar.


Lalu mengambil ponsel nya untuk memesan makanan.


"Sendirinya belum makan, tadi aja ngomel sama aku, kamu gak boleh lewatin jam makan kamu juga Jes, nani kalo jadi sakit maag gimana, aku gak mau calon ibu anak-anak aku sakit," ucap Atlas sibuk dengan ponsel nya.


Wajah Jesi memerah saa mendengar perkataan dari Atlas. Degup jantung nya berdetak dengan keras, biarlah dikatakan hati nya memang murahan, hanya dengan Atlas mengatakan hal seperti itu pada nya mampu membuat Jesi sampai salting berat.


Atlas yang sudah selesai dengan kegiatan nya melihat wajah Jesi yang memerah, dia tekekeh geli karena merasa Jesi Sangat lucu.


"Kenapa tuh mukanya merah gitu, cieee salting ya," goda Atlas sambil mencolek pipi Jesi dengan gemas.


"Tangan lu yeh," ucap Jesi yang membuat Atlas menyengir kecil.


Jesi dan Atlas serempak melihat ke arah pintu saat mendengar suara orang yang berbincang.


"Apa makanan nya, kok cepet Banget," ucap Jesi heran pasal nya Atlas baru saja memesan.


"Gak tau, masa iya. Emangnya kurirnya pake jurus ninja apa ya," ucap Atlas yang juga ikutan bingung.


"Hay everyone," ucap Ayyara dengan suara yang memekik setelah membuka pintu.


"Astaga Aya, aku kirain siapa, suara kamu juga gede banget buset," ucap Jesi.


"Hehe maaf," ucap Ayyara masuk diikuti oleh Steven.


Jangan salahkan dirinya yang seperti itu, setelah galau berhari-hari akhir nya mood Ayyara kembali membaik membuat dia begitu happy hari ini.

__ADS_1


"Lu kenapa Sampe bisa begini," ucap Steven menepuk lengan Atlas.


"Ahk sakit bang, main nampol-nampol aja," gerutu Atlas meringis.


"Jes, tangan aku sakit dipukul sama Steven," adu nya dengan nada yang manja.


"Masa gitu doang langsung sakit ," ucap Steven menyinyir.


Jesi memutar bola mata nya malas namun tetap mengelus lengan pria itu dengan lembut membuat Atlas full senyum dan menatap Steven dengan pandangan mengejek.


"Lo kok mau sih Jes Ama dia," ucap Steven.


"iyalah gue kan ganteng," ucap Atlas dengan pede nya Sedangkan Steven memandang sinis ke arah Atlas.


"Emang lu mau gue sama ka Ayyara imut aja?" pancing Atlas.


"Pala lo, gue hajar Lo entar, gak sudah liat-liat Aya gue," ucap Steven menyembunyikan Ayyara di belakang tubuh nya.


"Posesif banget elah," ucap Atlas yang dibalas gedikan bahu dari Steven.


"Yuk kita duduk di situ aja sayang," ucap Steven menuntun Ayyara untuk duduk di kursi yang disediakan di rumah sakit.


Karena Atlas memang di tempat kan di kamar VIP.


"Oh iya, Intan mana kok gak keliatan? dia lagi keluar kah?" tanya Ayyara yang menyadari jika mereka kurang satu orang lagi.


"Gak tau, tadi bareng sama Keenan, gak tau deh Keenan bawa kemana." balas Jesi.


Dia juga heran mengapa mereka belum datang padahal Keenan mengatakan hanya sebentar dan akan sehera menyusul.


Tapi tak perlu ada yang dia khawatir kan karena Keenan tak mungkin mencelakai Intan.


"Widih, Keenan udah mulai gas nih," ucap Steven.


"Hooh, bagus lah jadi Jesi jadi buat gue deh ," ucap Atlas.


Sedangkan Jesi yang nama nya disebut mencoba untuk pura - pura tidak mendengar saja karena sudah beberapa kali Atlas selalu mengatakan hal itu membuat dia baler sendiri.


Dia tak mau terlalu banyak berharap lebih takut nya selama ini Atlas hanya bercanda saja tanpa ada niat serius di dalam nya.


"Jiakhh, Jesi bentar lagi udah gak jomblo nih," Ucap Ayyara menggoda sahabat nya tersebut.


"Apa sih Aya," ucap Jesi.


***


"

__ADS_1


__ADS_2