
"Perasan ku mengapa tidak enak ya?" gumam Sania seraya melihat ke arah dan ke kiri serta terkadang ke arah belakang nya.
Sania merasa tengah di ikuti, tapi saat dia menoleh tidak ada yang mengikuti nya sama sekali dan semua nya terlihat sibuk dengan kegiatan nya masing-masing.
Sania mencoba untuk tetap berfikir positif dan menghiraukan perasan nya.
Wanita itu kini tengah menuju keruang inap milik Daniel.
"Huft hampir saja," ucap asisten Fatah. yang selalu mengikuti wanita paruh baya itu.
Calroz selalu dipercaya oleh Fathan Untuk melakukan pekerjaan ini.
Untung saja Sania tidak sampai melihat nya walaupun Sania sempat sadar.
Carlos menjadi cukup berhati-hati sekarang. Pria itu mengambil jarak yang cukup jauh agar Sania tak lagi menyadari keberadaan nya.
Sedangkan Sania kini sudah sampai di dalam ruang inap milik Daniel.
Diana sudah berada di sana dan semua pakaian Daniel selama di rumah sakit juga sudah di bereskan semua nya.
Pria itu juga sudah duduk di brankar rumah sakit bersiap untuk segera pulang.
"Nak Sania, ayo sini masuk," seru Diana yang melihat Sania.
Sania mengangguk kecil lalu masuk ke dalam kamar inap Daniel.
Wanita paruh baya itu disambut dengan senyuman merekah oleh Daniel dan juga Diana terlebih Daniel yang begitu kentara yang memang terlihat begitu senang.
Bagiamana tidak, sudah lama dia tidak melihat wanita itu. Perasaan rindu kian membuncah dalam hati nya.
"Sania," panggil Daniel dengan pelan seraya memarkan deretan gigi nya.
"Hai, maaf aku sudah lama tidak kemari, bagaimana perasaan mu?" tanya Sania seraya meletakkan buah yang di bawa nya dalam meja nakas.
"Yaampun sayang, seharusnya kau tidak perlu repot-repot untuk membawa nya," ucap Diana yang melihat itu.
"Gapapa Bu, buat Daniel," ucap Sania tersenyum teduh.
"Terimakasih Sania aku akan senang hati memakan nya, dan sekarang aku sudah merasa baikan," ucap Daniel.
Tentu saja pria itu akan menghabiskan buah tangan dari Sania dengan semangat, siapa yang tidak senang jika orang yang kita sukai memberikan kita sesuatu. Tentu saja merasa senang dan juga merasa berbunga - bunga.
__ADS_1
Terlihat simpel memang, tapi mampu membuat hati menjadi diobrak-abrik sangking senang nya.
"iya sama - sama," balas Sania. Dia tidak tahu apa yang ingin dikatakan nya lagi.
Karena Sania menjadi merasa canggung sekarang dan merasa tengah berselingkuh dari Fathan.
Padahal sudah jelas-jelas mereka berakhir namun tetap saja di saat yang seperti ini dia masih memikirkan bagaimana dengan Fathan.
Biasanya laki-laki itu akan tau jika dia sedang bersama dengan laki-laki lain entah darimana Sania pun tidak tau. Pria itu akan tiba-tiba datang dan memarahi nya.
Sekarang entah mengapa dia mengharap kan Fathan datang kembali seperti dulu, tapi itu hanya angan belaka saja sekarang.
"Apa sekarang langsung pulang ke rumah?" tanya Sania.
"Iya, kita lagi nunggu kamu sayang, Daniel tuh tadi gak mau sebelum kamu datang," ucap Diana membuat Daniel tersenyum malu.
Sania meringis pelan, karena dirinya mereka menjadi menunggu lama.
"Maaf membuat kalian jadi nunggu," sesal Sania.
"Aish sudah lah, mengapa dari tadi kamu jadi meminta maaf," ucap Daniel yang tidak suka dengan penuturan Sania yang terlihat merasa bersalah.
"Yasudah jika begitu, kita langsung pulang saja ya sekarang," ucap Diana mengangkut beberapa barang Daniel.
"Tidak perlu, nanti suruhan ku akan datsng membawanya, mama juga gak usah bawa ma biarin aja, bentar lagi juga mereka akan datang," jelas Daniel pada Sania.
"Baguslah kalo begitu," ucap Diana meletakkan kembali barang yang sudah sempat dia ambil tadi.
"Yaudah Ayuk pulang, supir kamu udah di depan katanya," Diana mengecek ponsel nya.
"Sania tolong bantu Daniel ya kebawah, Tante mau urus administrasi nya dulu," ucap Diana yang membuat Daniel kebingungan.
"Loh ma bukannya..."
Diana memberikan kode dengan mengedip kan mata nya lalu melangkah pergi duluan dan meninggalkan Daniel dan Sania di ruangan itu hanya berdua saja . Daniel berusaha mencerna dan tersenyum setelah dia mengetahui apa maksud dari Diana.
Dia memang sangat pengertian sekali terhadap situasi nya.
"Em, kamu bisa tolong bantu aku berdiri gak," ucap Daniel pada Sania.
Luka nya memang masih menimbulkan bekas namun Daniel sudah tidak terlalu merasakan sakit lagi.
__ADS_1
Dia hanya ingin berpura - pura lemah saja di hadapan Sania sekarang, agar wanita itu mau membantu nya.
Sania mengangguk kecil, dia membantu pria itu karena pasti masih dalam masa pemulihan membuat Daniel tidak bisa bergerak dengan leluasa. Begitulah pikir Sania.
Sania lalu membantu pria itu untuk berdiri.
Daniel memegang tangan Sania sebagai tumpuan nya.
"Terimakasih," ucap Daniel pada Sania yang sudah menuntun nya.
"iya," balas Sania dengan singkat.
"Kamu langsung pulang kerumah pria itu atau mau mampir sebentar di rumah ku nanti?" tanya Daniel.
Meski sudah mendapatkan peringatan dari pria yang dekat dengan Sania tak membuat Daniel merasa goyah dan menyerah untuk mendapatkan hati wanita yang ada di samping nya itu.
Daniel tak akan mudah kalah dengan begitu saja, malah dia menjadi semangat Karena memiliki rival dalam mengambil hati Sania.
"Aku sudah tidak tinggal bersama nya lagi," ucap Sania seraya memelankan langkah nya untuk menyamai langkah kaki Daniel yang memang hati - hati.
Daniel berhenti sejenak, entah mengapa dia malah merasa senang disaat Sania yang terlihat lesu saat mengatakan nya.
"Benarkah?" tanya Daniel.
"Hm, aku tidak enak dengan orang yang tinggal dalam komplek itu, karena aku masih belum menikah dengan Fathan, jadi aku takut nanti akan menimbulkan fitnah," jelas Sania yang membuat Daniel mengangguk.
Dia merasa sangat setuju akan hal itu, tidak seharusnya wanita dan pria yang belum menikah malah tinggal dalam satu rumah bukan.
Dengan begini dia menjadi memiliki kebebasan dan kesempatan untuk mendekati Sania lagi. Daniel bersorak dalam hati dan sekarang dalam pikiran nya kini tersusun bagaimana cara untuk membuat Sania senang akan kehadiran nya serta melihat hanya pada nya saja dan tidak ada pria yang lain selain dirinya seorang.
"Jadi, sekarang kamu tinggal nya bareng Intan aja ya," tanya Daniel kembali.
"Iya, aku bareng Intan, cuma dia yang aku punya sekarang," ucap Sania.
Daniel tersenyum lembut. " sekarang bukan cuma Intan aja yang kamu punya, tapi aku juga," ucap Daniel dengan pandangan yang sulit di artikan oleh Sania.
"Hah," beo Sania karena kalimat Daniel yang ambigu menurut nya.
"Kamu punya aku, aku bakal bantu kamu sama Intan jika ada sesuatu, jadi jangan sungkan untuk meminta bantuan," ucap Daniel yang melihat kebingungan di wajah Sania.
"Terimakasih sudha menjadi teman baik ku Daniel," ucap Sania yang membuat Daniel tersenyum masam.
__ADS_1
Biarlah sekarang wanita itu menganggap nya hanya sebatas teman saja tapi selanjut nya Daniel akan mengubah hal itu sesuai dengan apa yang telah di rancang oleh nya.
TBC