
"Ini minum obat nya, buat redaiin nyeri di perut kamu," ucap Athan memberikan sebutir obat pada Intan.
"Gak mau, pahit," tolak Intan sembari menutup mulut nya.
"Ga kok, langsung teken sama air nya baby," desak Athan kembali.
Intan akhirnya menerima saja, daripada dia seharian akan merasa sakit.
"Pinter, gak pahit kan," ucap Athan yang di angguki oleh Intan.
Athan menyerahkan kompresan nya pada Intan agar dimasukkan ke dalam kaos nya.
"Ini," ucap Athan yang dimengerti oleh Intan.
"Makasih abang, maaf ya jadi bikin repot," ucap Intan tak enak hati.
Athan tentu saja tidak suka mendengar nya. " Hei jangan bilang seperti itu baby, kita bukan orang asing sekarang. Sudah menjadi tugas kami buat rawat dan bantu Intan," jelas Athan.
"Intan mau sesuatu gak?"
"Enggak bang, lagian udah malem,Intan cuma pengen cepet-cepet buat bobo," ucap Intan.
"Yaudah, tunggu bentar lagi yah, bang Mark bentar lagi Dateng kok," ucap Athan yang diangguki oleh Intan.
Athan keluar dari kamar Intan dan Vandra tetap berada di sana ternyata.
"Kamu tidur saja, Intan tidak apa-apa, sudah kubilang tadi jika dia mengalami masa period nya," ucap Athan.
"Hem baguslah jika begitu," ucap Vandra yang kembali ke kamar nya.
Yang penting Intan tidak kenapa-kenapa, dia hanya memastikan itu saja.
"Ck, anak itu kenapa lama sekali. Hanya membeli pembalut saja begitu lama," dengus Athan mencoba menghubungi Mark namun tidak bisa karena pria itu sama sekali tidak mengangkat nya.
Athan memilih menunggu sampai Mark datang. Sebenernya dia sangat ingin istirahat sekarang. Hari ini cukup melelahkan setelah berkeliling bersama dengan Intan dan kedua teman nya.
"Bang," Mark datang dengan tergesa-gesa.
Tuk
Athan menjitak kepala Mark dengan cukup kuat.
"Aishh, sakit bang, apa-apaan dah langsung jitak-jitak aja," ketus Mark seraya mengusap kepala nya itu.
"Kau sangat lama," ucap Athan.
"Ya gimana, Orang aku tidak tahu ukuran nya yang mana, udha gitu aku ditertawakan oleh orang di sana tadi," curhat nya.
__ADS_1
"Yaudah sini, itu deritamu dan aku tidak peduli," ucap Athan merampas plastik besar yang dibawa oleh Mark.
"Eh entar dulu dong bang, buru-buru amat heran deh," cegah Mark saat Athan ingin beranjak ke kamar milik Intan.
"Apa lagi, Intan sudah menunggu ini sedari tadi," ucap Athan yang jengah.
"Uang nya kah bang, aku menggunakan yang jajan ku untuk membeli itu, Abang kan udah kerja pasti banyak duit," ucap Mark.
"Hanya itu saja, nanti Abang akan segera transfer ke rekening mu," ucap Athan yang membuat Mark bersorak senang.
Athan kembali masuk ke dalam kamar Intan dan memberikan apa yang dibutuhkan oleh gadis itu.
"Ini baby, kamu tinggal milih mau pake yang mana aja," Athan menyerahkan kantung yang besar berisi banyak pembalut pada Intan.
Intan tercengang, itu banyak sekali.
"Banyak banget bang," ucap Intan.
"Udah gapapa, biar nanti bukan depan bisa kamu pake lagi kan," ucap Athan yang membuat Intan tersenyum kaku.
"Iya bang, makasih ya, bilang sama bang Mark juga," ucap Intan yang diangguki oleh Athan.
"Yaudah gih ganti, habis itu langsung istirahat," ucap Athan lalu keluar dari kamar Intan.
"Wah, tapi ini banyak banget, satu tahun ke depan kayaknya masih bisa," ucap nya menatap berbagai macam pembalut dengan berbagai macam bentuk dan merk.
Salah nya yang tidak memberitahu detail pembalut seperti apa yang biasa nya dipakai oleh Intan.
***
Di lain tempat, tepat nya di negara lain kedua orang yang sudah menjadi pasangan tersebut sedang menghabiskan waktu bersama.
Ke duanya kini tengah berjalan sambil bergandengan menyusuri kota Paris yang Amat indah.
"You like it?" tanya Fathan pada wanita nya itu.
"Tentu saja, terimakasih sudah membawakan ku kemari. Aku tidak pernah terpikir bisa kesini," ucap Sania terharu.
"Apapun untuk mu sayang," ucap Fathan. Ini hanya sebagian kecil yang masih dia berikan. Masih banyak tempat yang ingin dia dan Sania kunjungi nanti nya.
Fathan akan memastikan jika wanita itu akan bahagia bersama dengan nya.
"Sekarang di Indonesia pasti sudah malam ya, Intan pasti udah tidur," ucap nya mengingat sang putri.
"Hem tentu saja, jangan khwatir kan Intan sayang, abang-abang nya pasti akan menjaga nya," ucap Fathan yang mengerti kekhwatiran wanita itu.
"Aku sama sekali tidak khawatir, aku percaya pada mereka. Aku hanya sedikit merindukan nya saja," jelas Sania.
__ADS_1
"Baiklah, aku mengerti. Tapi aku tidak ingin cepat pulang sayang, tidak apa-apa kan,"
"Em, tapi nanti pas sebelum Intan dan Mark ujian kita harus kembali," ucap Sania yang disetujui oleh Fathan.
Toh setelah itu dia berencana mengajak seluruh keluarga nya untuk liburan pasca sudah kelulusan Intan dan Mark dari SMA.
"Aku ingin melihat Menara Eifel nanti malam, boleh kan?" tanya Sania dengan penuh harap.
Pasal nya saat meminta hal tersebut kemarin, Fathan tak memberikan nya izin karena pria itu mengurung nya saat malam untuk melakukan kewajiban nya sebagai istri.
"Em bagaimana ya," ucap Fathan yang seperti menimang-nimang.
"Oh ayolah, aku ingin sekali melihat nya saat dimalam hari, pasti sangat indah," ucap Sania.
Dari jendela saja dia menatap susah begitu indah apalagi jika dekat.
"Baiklah, boleh tentu saja. Jika aku mengijinkan mu, apa imbalan untuk ku sayang," ucap Fathan.
"Really, kau perhitungan sekali pada istrimu," dengus Sania.
"Yasudah kalo begitu," ucap Fathan seraya tersenyum menyebalkan.
"Emang nya apa yang kau inginkan?" tanya Sania yang membuat Fathan tersenyum nakal.
Sania tau arti dari senyuman itu, senyum mesum begitu terlihat jelas di wajah Fathan.
"Kurasa kau mengerti apa yang aku inginkan sayang," ucap Athan tersenyum miring.
"Besok aku ingin seharian, jadi nsu malam aku akan menahan diri dan berpuasa agar kau bisa melihat Eifel di malam hari, bagiamana? deal?"
"Seharian?" tanya Sania memastikan.
"Yaps, seharian penuh," ucap Athan dengan begitu Santai nya dan tanpa beban sama sekali.
Bug
Sania kesal dan memukul dada bidang pria itu.
"Kau mau membuat ku mati hsh!"
"Tentu saja tidak, aku kan hanya memberikan mu kenikmatan saja paling kau tidak bisa berjalan selama beberapa hari," ucap Fathan.
"Dasar mesum, " ucap Sania. Setelah mereka melakukan hubungan suami istri, Fathan memang semakin menendang tak mau jauh-jauh dengan nya dan lagi pria itu semakin mesum setiap hari nya
"Mesum sama istri sendiri tidak ada salah nya," ucap Fathan mengecup bibir Sania berulang kali
"Hey, jangan disini banyak orang. Aku malu," ucap Sania menutup bibir nya yang membuat Fathan terkekeh.
__ADS_1
"Tidak akan ada yang memperhatikan nya sayang, ini tidak seperti di Indonesia. Gak seperti ini sudah biasa disini," jelas Athan tersenyum kecil merasa gemas dengan istri nya itu.
TBC