Possesive Man

Possesive Man
Part 51


__ADS_3

Sania bersyukur saat dia kerumah Ayyara, Kedua putra Fathan sudah tak berada disana.


Dia sengaja untuk memperlama dirinya Sampai ditujuan agar tidak bertemu dengan keduanya.


"Mommy," teriak Intan yang heboh seraya berlari dan menghampiri Sania yang berada didepan pintu.


"Masuk Tan," ucap Ayyara dengan ramah.


Sania mengangguk dan mengikuti sang tuan rumah.


"Mommy kesini mau ngapain, kangen Intan ya," ucap Intan sambil menaik-turunkan alisnya.


Sania menyipitkan matanya menatap ke arah wajah Intan yang masih nampak sedikit memerah.


"Wajah kamu kenapa merah sayang?" tanya Sania.


Intan terdiam tak tau harus menjawab apa, dia Tia mungkin untuk memberi tahu apa yang dialaminya disekolah. dia tak mau wanita paruh baya itu menjadi khwatir padanya.


"Eh itu Tan ehehe tadi ada nyamuk terus aku mukulnya agak keras gitu, maaf ya Tan," ucap Jesi dengan nada yang sangat memelas.


"Astaga, yaudah gapapa yang penting Intan nya juga gak papa. Masih sakit sayang ," ucap Sania mengelus pipi Intan.


"Enggak kok mom, udah gak sakit," ucap intan dengan nada yang manja sembari memeluk wanita itu.


"Kita pulang sekarang gapapa kan, lain kali bisa nginep lagi disini," ucap Sania.


"Memangnya kenapa mommy,"


"Emm, malam ini mommy pengen tidur bareng Intan, mom semalam gak bisa tidur," bohong Sania.


"Aaa maaf mommy, kita udah jarang tidur bareng ya," ucap Intan.

__ADS_1


"Yaudah gapapa Intan, lain kali aja nginep disini lagi," ucap Ayyara yang setuju i oleh Jesi.


"Terus Jesi jadi nginep juga?" tanya Intan lagi.


"Em, gak deh hehehe kayaknya aku pulang juga, gapapa kan Aya," ucap Jesi tidak enak. Padahal dirinya yang tadi sangat bersemangat untuk menginap dirumah Ayyara.


"Yaelah kayak sama siapa aja, santai aja kali," ucap Ayyara seraya tertawa kecil.


"Yaudah hayuk," ucap Sania, karena memang sekarang udah sangat sore dan takut nya Mereka akan kemalaman nanti nya.


"Intan mau ngambil barang Intan dulu di kamar Aya mom," Intan langsung bergegas diikuti oleh Jesi yang ingin mengambil barang nya juga.


"Aya, kamu sekelas kan yah sama Intan Sama Mark juga," ucap Sania.


"Ya Tan, emang kenapa Tan? tanya Ayyara.


"Mark sama Intan itu kalo disekolah sedekat apa sih?" tanya Sania. Dia ingin jika masih bisa, Intan bisa menjaga jarak dengan Mark nantinya. Dia ingin mencoba menjauh dan tak memiliki urusan lagi dengan Fathan dan keluarganya.


"Bisa dibilang tuh, mereka lumayan dekat sih Tan, apalagi Mark dia selalu ngawasin Intan Bakan setiap istirahat selalu nunggu Intan dulu," jelas Ayyara.


Orang tuanya boro-boro menanyakan hal itu, berkumpul saja mereka jarang karena kedua orang tuanya yang sibuk kerja dan akan pulang pada malam hari.


Mereka sama sekali tak memiliki waktu bersama. Hari weekend pun tidak juga, karena disaat itu keduanya lelah dan beristirahat.


Ayyara bahkan lupa kapan mereka terakhir kalinya menghabiskan waktu bersama.


"Tante bisa minta tolong gak Aya," ucap Sania pada Ayyara.


"Ya boleh dong tan, masa ga boleh sih, Tante mau minta tolong apa emangnya tan," jarang jarang Sania mengatakan hal itu padanya.


"Eum, Tante gak bisa jelasin semuanya sama Ayyara, tapi Tante pengen Ayara Sama Jesi tolong bantu Intan buat jaga jarak sama Mark ya. kalo disekolah tolong kalian berdua selalu ajak Intan tanpa Mark. Bisa kan sayang?" ucap Sania dengan hati-hati. Sania yakin 100% jika Ayyara pasti bingung akan permintaan nya itu.

__ADS_1


"Loh kenapa Tan? kok gitu. Ada masalah ya Tan," bisik Ayyara dengan pelan.


Sania mengangguk seraya tersenyum. "Kamu tau kan Daddy Mark dekat sama tante, tapi Tante tidak bisa untuk melanjutkan nya. jadi Tante gak mau masuk kedalam kehidupan mereka lagi begitupun dengan Intan. Tante gak mau ada terjadi Masalah - masalah lainnya karena Tante," ucap Sania panjang lebar.


Ayyara terdiam sejenak, dia mengerti pasti sangat sulit untuk Sania mengambil keputusan itu.


"Pasti Intan bakalan sedih sih Tan kalo tau, apalagi dia dari dulu kan pengen punya Abang dan Mark bisa kasih itu," ucap Ayyara.


"Tante tau, tapi itu yang terbaik untuk semua nya,"


"Tapi Tan, tidak masalah bukan jika Mark dan Intan tetap seperti biasanya, yang penting Tante gak ada hubungan apa-apa sama Daddy Mark. Untuk Intan dan Mark seharusnya tidak masalah Tan," ucap Ayyara. Dia tak bisa membayangkan bagaimana Intan dan Mark jika berjauhan.


Mengingat saat Mark yang membela Intan habis-habisan dan memberikan pelajaran pada orang yang membully Intan, Ayyara bisa melihat bagaimana sayangnya Mark pada Intan. Ayyara bisa melihat nya, Mark benar-benar memperlakukan Intan seperti adik kandung nya sendiri.


"Apa menurut Aya baik-baik saja? Tante benar-benar ingin tidak mau ikut campur dalam kehidupan mereka lagi,"lirih Sania. Apalagi mengingat jika dirinya nya lah penyebab semakin retak nya antara fathan dengan anaknya.


"Eum, nanti coba omongin sama Intan dulu Tan, Intan pasti ngerti. Kalo dia setuju aku bakal bantu ngawasin Intan Tan," ucap Ayyara yang mengerti akan keluh kesah paruh baya tersebut.


"Makasih ya Aya, beruntung banget deh Intan punya teman kayak kalian. Tante jadi seneng gak terlalu khwatir karena ada kalian," ucap Sania dengan tulus.


"Sama sama Tan," balas Ayyara.


"Pada ngobrolin apa sih, asik banget keliatannya, kita ko gak diajak," ucap Intan yang berpura - pura berwajah lesu dan tidak bersemangat.


"Haha Kasin gak diajak," ucap Ayyara.


"Udah - udah, kita pulang sekarang yah, udah sorean juga. Mom mau pesan grab car dulu, " ucap Sania mengeluarkan ponselnya.


"Eh, gak usah tan. Kalian diantar sama supir Ayara aja," ucap Ayyara sambil memanggil supirnya untuk menyediakan mobil.


"Hati-hati ya pak bawanya,Tante nanti kabarin ya kalo udah nyampe. Kamu juga Jes," ucap Ayyara.

__ADS_1


Sebuah kabar sangat penting bukan, walaupun itu hanya dengan mengirim kan pesan singkat saja.


Ayyara selalu melakukan hal itu dengan steven, tak peduli sesibuk apapun. Mereka selalu menyempatkan untuk mengirimkan pesan singkat. Steven yang menyuruhnya dan untung saja pria itu sangat berkomitmen.


__ADS_2