
Setelah menentukan film yang mereka tonton kini keluarga itu mengambil posisi yang nyaman untuk mereka.
Sama hal nya dengan Sania, wanita itu mencari posisi aman dengan duduk di sofa yang mendekati pintu keluar. Jika saja nanti memiliki kesempatan,Sania akan keluar dari ruangan itu terlebih jika film nya menyeramkan.
"Mom, mengapa kesana?" tanya Mark saat Sania malah bernajak dari Samping nya.
Mereka semua berpindah duduk di karpet sambil menghadap televisi yang besar itu.
"Em mom disini saja, mom juga tidak terlalu menyukai film horor,"
"Mommy juga takut ya sama seperti Intan," sambung Vandra.
"Tidak, mommy tidak takut kok," elak Sania.
"Hem tidak takut tapi hanya kurang berani right?" ucap Fedrick.
Sania bergumam pelan saat Fedrick berbicara. Benarkah pria itu berbicara dengan nya. Sungguh dia belum merasa terbiasa. Tapi Sania cukup senang karena melihat Fedrick yang seperti nya sudah mulai membuka diri.
"Udah senyaman mommy aja," ucap Athan yang kini memainkan rambut Intan.
"Mommy mau mengambil selimut, Intan mau tidak?" tanya Sania.
"Buat apa mom,"
"Buat nutup mata kalo hantu nya nongol," ucap Sania yang menimbulkan gelak tawa dari anak-anak Adam itu.
"Sampai segitunya mom," ucap Mark yang mengusap air mata di sudut mata nya yang keluar karena tertawa keras.
"Mommy aja, ada aku," ucap Athan.
Dia lalu menyuruh adik nya itu untuk duduk tepat di depan nya.
"Wah, kalian tidak mengajak ku, sungguh keterlaluan. Aku akan memotong uang jajan kalian," ucap FAthan yang baru saja datang.
Athan tidak terpengaruh dengan itu karena dia sudah tak mendapat uang jajan dari Fathan lagi sejak dia mulai berkerja.
"Eh jangan gitu dong dad," ucap Mark yang panik. Dia masih membutuhkan uang dari Fathan.
Fathan tidak menanggapi lagi, pria itu beralih duduk bersama dengan Sania yang tengah sendiri di kursi sofa.
Sania menahan nafas dan fokus ke depan, dia berpura-pura tidak menyadari keberadaan Fathan.
Tak sadar wajah nya kembali memanas dan merona saat mengingat dia yang mengungkapkan perasaan nya.
Dia masih belum siap untuk bertemu dengan pria itu tapi sekarang mereka malah begitu dekat karena Fathan duduk di samping nya.
"Aku selalu suka wajah mu yang merah merona, begitu cantik."
Mata Sania membelalak, dia makin merasa malu. Padahal lampu sedang dalam keadaan remang-remang mengapa pria itu masih tetap saja bisa melihat nya.
__ADS_1
"Okayy guys, here we go," ucap Vandra saat film nya sudah diputar.
Sania memalingkan wajah nya namun Fathan langsung menangkup dagu itu agar menatap nya.
Anak-anak tak tau apa yang terjadi di belakang mereka karena film sudah dimulai dan mereka fokus menonton.
"Kau mau kabur lagi setelah mengatakan kata cinta heum, tak akan kubiarkan," ucap Fathan dengan suara serak nya.
"Jangan seperti ini, ada anak-anak," ucap Sania pelan seraya menjauhkan tangan Fathan dari dagu nya.
"Mereka tak akan melihat nya, lihatlah mereka sedang menonton,"
"Diamlah, aku juga ingin menonton," ucap Sania mengalihkan topik pembicaraan.
"Oke sayang," ucap Farhan menurut.
Pria itu langsung merangkul Sania dan menjatuhkan Kepala wanita paruh baya itu di bahu nya.
"Jangan bergerak, biarkan saja seperti itu," tahan Fathan saat Sania hendak menyingkirkan rangkulan tangan nya.
Sania menahan nafas tak kala Fathan malah fokus melihat diri nya bukan ke arah televisi.
"Jangan memandang ku seperti itu," ucap Sania. Tak tahukah Fathan bagaimana kondisi jantung nya sekarang.
"Tv nya ada didepan Fathan," ucap Sania lagi saat Fathan malah tak menghiraukan protesan dari nya.
"Kau tidak perduli dengan film itu sayang, mau hanya ingin menonton dirimu saja, kau lebih menarik dari pada film itu." ucap Fathan dengan tersenyum manis. Dia tak ingin melewatkan kesempatan dimana bisa menatap Sania dengan jarak yang sedekat ini.
Sania mulai menonton film nya. Dan sesuai yang sudah dibayang kan oleh nya Sania pasti akan menciut ketakutan.
Dia melihat ke arah anak gadis nya yang kini mata nya ditutup oleh Athan. Dia tak perlu mengkhawatirkan putri nya itu karena ada Athan disana.
Sania sudah akan hendak menutup wajah nya dengan selimut untuk menutupi tubuh nya.
Namun tidak jadi karena dia juga sebenarnya penasaran. hal yang paling mengesal kan dari menonton film horor adalah ketika Sania takut menonton kelanjutan nya tetapi ingin mengetahui kelanjutan nya.
Dan alhasil Sania malah menutup wajah nya dengan kedua tangan nya dan sedikit mengintip dari jari-jari tangan nya yang terbuka.
Hal itu tak luput dari pandangan Fathan, setiap eekpresi yang dikeluarkan oleh Sania begitu lucu dan menggemaskan.
Sania Seperti nya tak menghiraukan lagi Fathan yang selalu melihat nya karena terlalu larut dengan tontonan di depan nya.
"Aaa," pekik nya saat hantu nya muncul secara mendadak membuat Sania kaget setengah mati.
"Mom are you okeyyy," Mark menoleh ke belakang saat mendengar teriakkan Sania.
Dia sempat merasa khwatir namun saat melihat ada Daddy nya disana, Mark menjadi tenang dan melanjutkan film nya.
"Bermesraan tidak tahu tempat," dengus Fedrick.
__ADS_1
Sania mendengar ucapan Fedrick itu dan melihat dirinya dan Fathan yang memang sudah begitu dekat. Lihat saja bahkan sekarang dia malah tak sadar memeluk pria itu karena takut.
"Ekhemm cieee," ucap Intan menggoda.
"Wiii sebar undangan nya aja langsung dad," sembur Vandra.
"Heum secepatnya," ucap Fathan.
"Mommy betah sekali dalam dekapan Daddy, nyaman ya mom," ucap Vandra terkekeh.
"Aku tidak mau memiliki adik kecil lagi, cukup Intan," Mark menyipitkan mata nya.
Sania tercengang mendengar nya, siapa juga yang mau memiliki anak lagi. Dia sudah tidak muda lagi.
"Sudah-sudah, jangan menggoda mommy kalian lagi, lanjutkan film kalian,"ucap Fathan
Pria itu berdiri dari duduk nya dan memegang tangan Sania untuk di bawa oleh nya.
"Mau kemana?" tanya Fedrick.
"Bukan urusan mu, ini urusan orang dewasa," ucap Fathan.
"Dad jangan lupa pesan ku, pakai pengaman kalo perlu," teriak Mark yang mendapat tatapan tajam dari ke tiga saudara nya.
"Heheh maaf," cengir Mark.
"Pengaman apa bang," tanya Intan.
Mark menelan ludah nya kasar saat Athan menatap nya dengan sangat tajam.
"Bukan apa-apa sayang, tidak usah dengarkan perkataan tidak jelas Mark," ucap Athan.
"Mampus Lo," ucap Vandra dengan nada mengejek.
Puas sekali dia melihat Mark yang ciut jika dihadapan Athan.
"Berisik," ketus Mark sebal.
Dia bahkan melempar kan botol minum milik nya ke arah Vandra.
Vandra yang tak mau mengalah ikut melemparkan nya kembali dan alhasil mereka malah menjadi saling melempar.
"Mark, Vandra," desis Athan dengan tatapan dingin.
"Lo sih," ucap Mark.
"Lo,"
"Lo,"
__ADS_1
"Shut up!" geram Athan menimpuk kedua nya dengan bantal.
TBC