Possesive Man

Possesive Man
Part 64


__ADS_3

"Makasih yah Ayya, maaf jadi ngerepotin Aya," ucap Intan saat mereka sudah sampai di rumah Fathan.


"Yaelah Intan, gapapa kali. Kayak sama siapa aja," Ayyara sampai tertawa kecil.


Ini hal yang tak disukai nya dari Intan, gadis itu sering sekali merasa tidak enak lada nya. Padahal menurut nya itu adalah hal yang biasa apalagi Intan adalah sahabat nya.


"Yaudah, Intan masuk dulu ya, Ayyara pulang nya hati-hati. Jangan bawa mobil ngebut-ngebut," peringat Intan. Takut tejadi sesuatu hal yang tak diinginkan.


"Siap bos," ucap Ayyara memberi hormat.


"Kabarin kalo udah nyampe," ucap Intan laku turun dari mobil milik Ayyara.


"Dah Ntan, sampe ketemu besok," dadah Ayyara dari jendela mobil.


Intan memperhatikan mobil Ayyara sampai kekuar dari gerbang rumah baru lah dia masuk ke rumah.


Rumah kali ini sepi hanya ada para pelayan yang berlalu lalang melakukan tugas mereka masing-masing.


Fathan dan Athan yang bekerja serta yang lain nya belum pada pulang.


Biasanya mommy nya akan menyambut kepulangan nya. Hanya saja kali ini Sania tidak ada disana.


Intan sangat ingin menemui wanita paruh baya itu sekarang, lelah karena itu dia pulang dengan terburu-buru dari sekolah.


Intan sudah tau kamar Sania dan juga letak kunci nya dimana.


Tadi pagi dia sengaja bangun lebih pagi dari jam biasanya di bangun. Intan mengikuti Fathan lagi yang ternyata ke kamar Sania.


Pria itu datang membawa sarapan untuk Sania. Intan penasaran mengapa Fathan sangat tidak mau dia menemui Sania.


Padahal Intan adalah putrinya. Jika benar Sania sakit setidaknya kan Intan dibiarkan melihat mommy nya dan merawat nya.


Intan tanpa mengganti seragam nya mausk kedalam ruangan Fathan. Mencari kunci kamar mommy nya.


Untung saja pria itu tidak membawa nya dan meninggalkan kunci nya di atas meja kerjanya. Fathan mungkin tak pernah berpikir jika Intan akan mencari nya.


"Yes, akhirnya dapet," senang Intan. Tidak sia-sia diri nya untuk menguntit Fathan tadi pagi.


"Ih tapi kok kuncinya ada banyak, ini yang mana ya," bingung Intan memijit alisnya seraya melihat gantungan kunci di tangan nya.

__ADS_1


Seperti nya Fathan menggabungkan kunci nya hingga bisa menjadi sebanyak itu


"Huft, Intan harus coba satu-satu dong kalo gitu," Intan menghela nafas nya. Karena pasti membutuhkan waktu yang lumayan hanya untuk mencoba kunci yang mana untuk membuka satu pintu.


Tanpa berlama-lama lagi Intan segera menuju ke kamar yang ditempati oleh Sania.


Intan mencoba satu persatu kunci nya.


"Yang mana sih, Intan udha coba banyak kok belum bisa-bisa," ucap Intan yang mulai kesal. Lelah mencoba dan sekarang dia lapar.


"Huft, ayo dong, mudah-mudahan yang ini bisa," Intan berdoa dalam hati nya.


"Nah dari tadi dong," ucap Intan girang saat kunci yang bisa berhasil.


"Mom," panggil Intan sambil membuka pintu nya.


Sania menoleh ke arah pintu, di berpikir jika Fathan lah yang datang.


"Intan," ucap nya saat melihat Intan yang sudah berada diambang pintu menatap nya dengan pandangan sulit diartikan.


"Intan kok.."


Intan tak menjawab, gadis itu melangkah kaki nya untuk segera dekat dengan Sania.


"Intan, kamu kenapa sayang. Ko nangis? ada yang jahatin Intan di sekolah?" tanya Sania tak tenang.


Ingin sekali rasanya Sania membakas pelukan Intan dan mengelus lembut bahu putri nya itu seperti yang biasa dis lakukan.


Namun kali ini Sania tidak dsost melakukan nya ksrens tangan nya masih dalam posisi terikat.


Begitulah Fathan, setelah selesai dengan kegiatan makan nya, Fathan akan datang kembali hanya untuk mengikat dirinya dan pergi tanpa mengatakan apa pun.


"Hiks, mom maafin Intan," isak Intan di bahu wanita paruh baya tersebut.


"Intan kenapa sayang, kenapa tiba-tiba minta maaf sama mommy. Intan mana ada buat apa -apa," ucap Sania.


"Intinya Intan minta maaf, maaf masih belum bisa bikin mommy bangga, belum bisa bantuin mommy dan jadi beban buat mommy, maafin Intan belum bisa berguna buat mommy," tangis Intan pecah saat mengatakan hal itu.


Sania tak senang mendengar nya, Sania berusaha melepas ikatan tangan nya terlebih dahulu agar bisa leluasa berbicara dengan Intan.

__ADS_1


Namun Sania kesusahan dan tidak bisa melepaskan nya sendiri. Intan yang melihat itu segera melepaskan pelukannya.


Dan tanpa banyak kata, Intan membuka ikatan di tangan dan kaki Sania. Terdengar isakan kecil yang masih keluar dari mulut Intan.


Intan juga kesusahan membuka nya. Ikatan itu ternyata cukup kuat.


"Om Fathan yang melakukan ini bukan?" tanya Intan seraya tetap berusaha membuka tali nya.


"Om," Sania mengertyitkan dahi nya saat Intan menyebut Fathan dengan Om. Dia tak sedang salah mendengar bukan.


"Hm," gumam Intan.


"Shhhh," ringis Sania saat Intan mengelus tangan nya. Intan akhirnya berhasil membuka ikatan yang melekat di tangan nya.


Terdapat bekas dan Bahakan tangan Sania sedikit membiru sekarang.


"Mom, it hurts? i am sorry," sesal Intan.


"No, itu bukan salah kamu sayang," ucap Sania yang kini mengelus pipi Intan.


Wanita paruh baya itu lalu mengusap air mata yang mengalir di wajah Intan.


"Kok nangis sih anak mom heum,"


Intan menggeleng kan kepala-nya lalu menubruk tubuh Sania dan melingkar kan kedua tangan nya pada tubuh Sania.


"Intan bukan beban mommy, Intan adalah hal yang berharga yang dikirim kan oleh Tuhan untuk mommy. Jangan pernah ngomong kayak gitu lagi! ngerti! mommy gak suka Intan ngomong kayak gitu," Sania mengelus Pucak rambut Intan dengan lembut.


"Intan itu tanggung jawab mommy, Mom juga gak mau nuntut Intan harus gini harus jadi orang yang kayak gimana. Tugas Intan sekarang hanya harus belajar biar nanti Intan bisa dapetin cita-cita Intan. Terus disitu deh nanti Intan baru bantu mom,"


"Intan kan pengen jadi sukses kan? Sukses itu gak harus kaya. Yang penting hidup Intan nanti terjamin udah. Masa depan Intan bagus dan Intan bisa nikmatin apa yang udah Intan perjuangkan selama ini," jelas Sania dengan panjang lebar.


"Iya sih, tapi Intan tetap pengen jadi kaya juga hehehe," ucap Intan menyengir.


"Kalo ada uang banyak kan pasti otomatis terjamin dong mom," lanjut Intan.


"Betul, tapi pas nanti kalo udah di atas, jangan lupa kenapa kamu bisa jadi seperti itu. Ingat jangan menyombongkan hal yang sudah kamu punya, Tuhan bisa ambil itu kapan saja. Semuanya cuma titipan aja," ucap Sania.


"Aku mengerti mom,"

__ADS_1


"Jadi, kapan kita akan pergi dari sini," ucap Intan mengangkat wajahnya untuk menatap Sania yang terlihat terkejut dengan pernyataan yang baru saja keluar dari mulut nya.


TBC


__ADS_2