Possesive Man

Possesive Man
Part 71


__ADS_3

"Biarkan aku masuk,' ucap Mark dengan berteriak.


Kesal sekali rasanya saat dia bodyguard Fathan tidak memberikan nya untuk masuk ke ruangan sang Daddy.


Mark juga dilanda kebingungan saat kedua bodyguard itu berada di depan pintu ruangan kerja milik Fathan.


Tapi syukur saja jika Fathan ada di rumah jadi dia tak repot-repot untuk ke kantor seperti yang dikatakan oleh Vandra.


"Maaf tuan, tapi tuan Fathan sedang tidak ingin diganggu," ucap bodyguard itu dengan tegas. Itu adalah perintah dari Fathan langsung, oleh sebab itu kedua nya berada disana sejak Fathan menyuruh mereka.


"Maksud Lo apa, gua anak nya dan disini gue juga adalah tuan di rumah ini," sentak Mark yang sudah tidak sabaran.


"Maaf tuan ,tapi tuan Fathan tak mengijinkan siapapun untuk menemui nya termasuk tuan muda dan yang lain nya. Tuan berpesan akan menemui kalian sendiri nantinya jadi tuan muda tidak perlu untuk menemui tuan Fathan sekarang," jelas salah satu bodyguard tersebut dengan tegas.


"Kenapa Daddy tak mau ditemui?" tanya Vandra yang baru datang. Pria itu sempat mendengar pembicaraan Mark dengan bodyguard Fathan.


"Saya tidak tau tuan," ucap Bodyguard tersebut.


"Apa terjadi sesuatu di rumah?" tanya Mark lagi.


"Iya tuan, sebenarnya nona Intan dan Sania sudah tidak lagi di rumah ini," ucap Bodyguard tersebut dengan nada yang pelan saat di akhir kalimat.


Mark menoleh ke arah Vandra.


"Mereka beneran pergi bang," lirih Mark dengan sendu.


"Tapi kenapa kok Daddy malah biarin mereka pergi sih, kemarin aja mom mau pergi Daddy gak terima dan ngurung mommy," ucap Mark.


Vandra mengeryit kan dahi nya. "Ngurung?" tanya nya yang tidak tahu menahu soal itu.


"Iya, Daddy kemarin ngurung mommy di ruangan lain karena mau pergi dari rumah. Tapi aku tidak tau alasan mommy ingin pergi. Apa mereka merasa tidak nyaman? ini semua karena bang Fedrick, pasti bang Fedrick yang bikin mereka pergi. Aku akan menghajar nya nanti," ucap Mark dengan penuh tekad.

__ADS_1


"Gila aja Lo, yang ada Lo yang habis kena gibeng sama Fedrick. Dia lebih kuat dari Lo tolol," ucap Vandra yang tidak mengerti arah jalan pikiran Mark yang terburu-buru mengambil sebuah tindakan yang malah akan memperburuk keadaan nya.


"Tapi itu karena dia iuga bang, kalo aja mulut pedas nya yang dicabein itu gak ngomong yang enggak-enggak, pasti mommy dan Intan tak akan berpikir untuk pergi dari sini," ucap Mark yang tidak terima.


"Lo gak boleh asal tuduh gitu dulu,"


"Gue gak asal nuduh ya, emang kenyataan nya begitu kok, Lo kenapa jadi belain dia si, oh iya gue lupa dia kembaran Lo, Lo pasti cuma peduli sama dia kan." ucap Mark dengan nada yang tak bersahabat.


"Lo kenapa sih, kata-kata Lo malah merambat kemana-mana. Gua gak ada beda-bedain. Lu berdua Ade gue," balas Vandra mencoba untuk tidak ikut tersulut emosi.


"Tenangkan diri Lo Mark, kita bisa bahas ini pelan-pelan," saran Vandra yang tak tega melihat Mark yang begitu kacau.


"Gak bisa! mana bisa gue tenang saat gue gak tau keberadaan mereka ada dimana. Setidaknya gue tau mereka ada dimana," ucap Mark keras kepala dan segera menuju pintu kamar Fathan walaupun diri nya dihalangi oleh bodyguard Fathan.


"Dad," teriak Mark seraya mengetuk pintu secara brutal. Dia ingin tau alasan Intan dan Sania meninggalkan rumah dan mengapa Fathan malah membiarkan nya dan lebih memilih mendekam di ruangan kerja nya.


"Daddy," teriak nya.


"Mark cukup, kamu tau Daddy seperti apa. Tak ada gunanya kau berteriak sekarang. Seperti yang dikatakan oleh bodyguard tadi, kita hanya perlu menunggu sampai Daddy yang mau berbicara sendiri pada kita. Daddy pasti memiliki alasan untuk itu." ucap Vandra dengan bijak.


"Tapi kan bang--"


"Udah, jangan khawatir. Daddy gak mungkin biarin Intan dan mom tanpa pengawasan. Kembali lah ke kamarmu," ucap Vandra menepuk pundak Mark lalu setelah nya berlalu meninggalkan Mark bersama dengan bodyguard di sana.


"Huft, aku hanya ingin tau alasan nya. Terus mereka tinggal dimana sekarang, rumah mereka kan udah kebakar semua," pikir Mark. Dia sama sekali tak bisa tenang sekarang.


Mark akhirnya melangkah lesu menuju kamar nya. Benar kata Vandra, tak ada gunanya dia disana sekarang, Fathan tak akan menghiraukan.


"Aku harap mommy dan Intan baik-baik saja Dimana pun mereka berada," ucap Mark seraya mendudukkan diri nya di kasur king size nya.


Pria itu lalu merogoh saku celana nya dan membuka handphone nya.

__ADS_1


Dia mengelus layar handphone milik nya yang menampilkan foto dirinya dengan Intan dan juga Sania.


Dia mengambil gambar itu saat berada di rumah Sania Kala itu.


Mark bahkan menggunakan foto itu sebagai lock screen dan layar utama ponsel nya. Mark mengelus foto tersebut dimana ketiga nya begitu bahagia saat itu.


"Mana gue diblokir lagi sama Intan. Kamu kenapa sih dek, kalo Abang ada salah harusnya kan kamu ngomong sama Abang," gumam nya.


Baru saja dia merasakan kebahagiaan setelah lama. Hal yang dia inginkan terwujud kan oleh kehadiran mereka.


Kasih sayang ibu yang dia dapatkan dari Sania serta memiliki adik, intan juga mewujudkan impian nya menjadi seorang abang.


Kehidupan nya akan kembali seperti dulu. Tak ada yang akan diganggu nya lagi dirumah. Tak akan ada yang menunggu nya pulang dan memasak untuk nya, memperhatikan semua tentang nya.


Mark menghela nafas nya untuk yang kesekian kali nya. Pria itu merebahkan tubuh nya di kasur milik nya seraya memejamkan mata nya yang terasa berat.


Mark bahkan tak memikirkan diri nya yang masih memakai sepatu dan bola basket.


Dia ingin mengistirahatkan tubuh nya dan tidur untuk sejenak, berharap jika kepergian Sanai dan Intan hanya mimpi buruk nya saja. Berharap saat bangun dia masih menemukan kedua wanita yang sudah sangat dia sayangi.


Sementara di sisi lain, Fathan kini sedang berdiri di rooftoof ruang kerjanya.


Pikiran nya kian bercabang. Pria itu melamun dan lebih memilih menikmati angin malam serta melihat langit yang indah. Sedikit dapat mengurangi kegundahan yang berada dalam hati nya.


Fathan menghirup aroma nikotin yang berada di sela jari nya. Entah sudah berapa banyak yang sudah dia hisap.


Sejak kepergian Sania dan Intan, Fathan masih tetap setia berada di rooftoof ruangan kerjanya dengan rokok yang menemani dirinya.


Pria itu sebenarnya mendengar pertengkaran antara Vandra dan Mark. Namun untuk malam ini dia ingin menghabiskan waktu nya sendiri.


Mencoba merenung dan memikirkan kesalahan nya dan mencoba memperbaiki semua yang sudah terjadi.

__ADS_1


Dia berharap masih memiliki kesempatan untuk membuat semua nya menjadi utuh kembali. membuat keluarga kecil nya bahagia dan lengkap kembali. tentu nya tanpa paksaan dan tekanan.


TBC


__ADS_2