
"Ini," Athan menyerahkan keranjang stroberi yang sudah penuh dengan stroberi yang di petik nya kepada Intan.
Intan menerima nya dengan senang hati, dia menjadi memiliki banyak.
Dia melihat milik Athan yang lebih merah dan jiha lebih besar dari milik nya.
Intan memang asal mengambil saja karena semangat nya sedangkan Athan memilah mana yang lebih matang.
"Yeyy, makasih Abang," seru Intan.
"Your welcome, but itu tidak gratis sayang," balas pria itu.
"Intan harus bayar ini ya," ucap Intan mengangkat keranjang nya.
Intan bahkan merogoh kantung nya untuk mencari uang.
"Bukan dengan uang," ucap Athan saat melihat Intan yang malah mencari uang. Ayolah dia memiliki banyak uang, untuk apa meminta pada Intan.
"Lalu dengan apa?" tanya Intan yang bingung.
"Cium abang," ucap Athan menunjuk pipi nya.
"Ooo," beo Intan lalu terkekeh kecil saat menyadari apa yang dilakukan nya tadi. Dia mengira harus membayar dengan uang padahal sudah lebih jelas uang Athan lebih banyak dari nya.
Cup
Intan mengecup pipi Athan singkat. Hal itu bukan lah hal yang sulit untuk dia lakukan.
"Thank you baby,"
"Ih jangan panggil Intan dengan baby lagi, intan bukan baby," sungut Intan saat mendengar panggilan yang sudah lama hilang itu.
"No, abang menyukai nya, mulai sekarang Anang akan memanggil kamu dengan itu, Intan harus mulai terbiasa," ucap Athan.
"Terserah deh," ucap Intan, dipikiran nya sekarang hanya ingin segera memakan stroberi - stroberi ini saja.
Mereka sudah tidak sabar untuk segera memakan stroberi tersebut, terlebih Mark yang sedari tadi mencuri waktu untuk memakan nya namun selalu ketauan oleh Athan yang alhasil pria itu mengurung kan niat nya saat mendapat tatapan tajam milik Athan.
Pria itu berkata stroberi nya harus dicuci terlebih dahulu baru bisa dimakan. Mereka hanya bisa menuruti perkataan Athan yang sedang dalam mode dokter.
"Ini pasti enak kalo dibikin es," ucap Vandra.
"Hooh, gue juga mau bilang itu tadi," sahut Mark.
"Ngikut aja lo," semprot Vandra.
"Suka-suka gue dong," balas Mark yang tak mau kalah.
"Intan mau es," ucap Intan yang menyimak pembicaraan mereka.
__ADS_1
Athan memelototi kedua adik nya yang kini saling menyalahkan.
"Intan juga mau bang," ucap Intan dengan mata yang memelas menatap Athan.
Athan memalingkan wajah nya karena tidak tahan melihat wajah menggemaskan Intan.
Dan pada akhirnya Athan mengangguk karena tidak bisa menolak.
"Fine, hanya satu," ucap Athan.
"Yahhh," desah ketiga orang itu.
"Tanggung banget bang, ini stroberi nya kan banyak, " protes Mark.
"Oke, dua cukup. Tak ada penawaran lainnya. Dua cup atau tidak sama sekali." ucap Athan Final.
"Aku akan menyuruh orang untuk membeli kan mesin eksrim nya," ucap Athan merogoh ponselnya.
Intan tercengang, hanya untuk membuat sedikit eskrim saja harus membelikan mesin eskrim. Apa itu tidak membuang uang, memang anak orang kaya itu beda ya pikir Intan.
Athan mengajak ke tiga nya untuk segera masuk ke rumah menunggu mesin eksrim yang akan segera datang.
"Huft cape banget gue," ucap Mark menyadarkan tubuh nya di sofa.
"Dih gitu doang langsung encok," ejek Vandra.
"Diem dah bang, gue gak ngomong sama Lo, jangan cari masalah mulu Napa," seru Mark yang memejamkan mata nya.
***
Sania tidak tau dia harus kemana sekarang. Sampai Sania mendengar gelak tawa dari ruang keluarga.
Sania menghampiri ruangan itu dan ternyata Intan berada disana bersama dengan yang lain nya.
Sania merasa senang saat Intan masih begitu akrab dengan para pria itu. Terlihat sekali jika putri nya itu menikmati kebersamaan nya dengan para Abang nya.
"Mengapa disini? tidak mau ikut menonton?" tanya Fedrick yang baru saja datang.
Sania kaget saat Fedrick sudah berada di samping nya sekarang. Pria itu sedang membawa beberapa kaleng minuman dan cemilan lain nya.
Sania sudah menyiapkan hati nya jika Fedrick marah saat dia kembali ke rumah ini. Sania bahkan sudah akan langsung segera pergi jika Fedrick mengibarkan bendera permusuhan.
Namun tak ada yang dikatakan oleh pria itu. Malah Fedrick langsung ikut bergabung dengan yang lain nya seraya memakan cemilan yang dibawa nya dan fokus pada televisi yang menyala.
Tak hanya Sania, anak-anak yang tengah menonton juga mengalihkan pandangan nya dan menunggu reaksi Fedrick.
Mereka menghela nafas lega saat Fedrick tak mengajak untuk ribut.
"Wuhh kupikir akan terjadi perang lagi," ucap Vandra yang diangguki oleh Mark.
__ADS_1
"Mom," ucap Intan menghampiri Sania dan langsung menerjang wanita paruh baya itu dalam pelukan.
"Syukurlah mom baik-baik saja,"
"Mom mau stroberi tidak? ini hasil petikan ku semua," ucap Mark membawa beberapa butir stroberi yang berwarna merah.
"Dasar anak itu, mencari perhatian saja," dengus Vandra.
"Aaa, coba yang ini mom," ucap Mark memberikan pada Sania.
Sania membuka mulut nya yang langsung disuapi oleh Mark.
"Bagaimana rasanya mom?" tanya Mark seperti anak kecil yang sedang menunggu tanggapan.
"Manis dan enak," ucap Sania jujur yang membuat Mark tersenyum manis menampilkan deretan gigi nya.
"Ayo menonton bersama," ucap Mark menarik Sania untuk duduk di kursi sofa.
Intan memajukan bibir nya karena Mark berhasil memonopoli mommy nya.
Sania hanya mengikuti saja dan tidak protes, sesekali Mark memberikan stroberi untuk Sania.
"Dek sini samping Abang," panggil Athan . Dia terkekeh melihat Intan yang kakah dengan Mark yang terlihat ingin dekat dengan Sania.
"Bang Mark menyebalkan," adu Intan.
Mark pura-pura tidak mendengar kan dan sibuk dengan kegiatan nya.
"Bagiamana jika kita menonton horor saja, rame-rame begini kayak nya seru," pekik Vandra memberikan usul.
"Aaa gak mau, Intan gak mau nonton horor, takut," ucap Intan yang tidak setuju.
Intan bingung dengan para bang nya itu, Mark juga sempat mengajak nys untuk menonton film horor dan sekarang Vandra juga. Seperti nya mereka semua menyukai genre film itu.
"Ah gak asik Intan mah, tenang aja kan rame - rame," ucap Vandra.
"Jangan memaksa!" tegas Athan. Dia tak ingin menonton jika Intan juga tak ingin.
Intan dapat melihat Vandra yang mendesah lesu, seperti nya pria itu memang benar-benar ingin menonton film horor.
"Yaudah deh nonton aja, tapi Intan nanti tutup mata kalo hantu nya nongol," ucap Intan.
"Nice," Vandra langsung Menganti siaran tv nya.
"What the hell," seru Mark saat lampu nya mati.
Sedetik kemudian lampu nya kembali menyala namun remang-remang karena ternyata itu adalah ulah Vandra yang hanya menyalakan satu lampu saja.
"Biar nambah horor," kekeh Vandra.
__ADS_1
TBC