
"Maafin abang ya sayang," ucap Mark berkali-kali hingga berhasil membuat Intan jengah mendengar nya.
Padahal Intan sudah memaafkan dan lagipula itu bukanlah salah Mark. Pria itu terlalu berlebihan.
"Aduh bang, kan Intan tadi udah bilang iyaa, kalo Abang ngomong kayak gitu sekali lagi, Intan gak jadi maafin abang, Intan tarik kata-kata Intan yang tadi," kesal Intan sambil menghembuskan nafas nya lalu menggembung kan pipi nya.
"Eh jangan dong, iya iya Abang gak bilang itu lagi. Abang kan cuma merasa bersalah gak bisa jaga kamu," cicit Mark gelagapan dan panik saat Intan hendak merajuk.
"Jangan ngerasa kayak gitu Abang, nah mulai sekarang berarti Abang harus lebih ekstra dong bukannya malah kayak orang frustasi gini," seru Intan.
"Siap laksanakan," ucap Mark sambil menghormat membuat Intan tertawa, Tawa tersebut tentu saja menular ke Mark juga.
"Lama banget sih si curut, si Steven juga pasti mojok dulu, ****," geram Mark. Pasalnya kini mereka berdua tengah berada diparkiran menunggu Ayara dan Steven, serta Jesi.
"Sabar bang, entar juga abang kalo ada pacar pasti kayak gitu kan, harus prioritasin pacar dulu baru teman," sahut Intan.
"Apaan, emang kamu ngerti cinta-cintaan begitu, Abang juga gak ada pacar, ribet," ucap Mark menjelaskan.
Mark memang belum dekat dengan wanita manapun. Tapi bukan berarti tidak ada yang dia sukai karena dia adalah pria yang normal.
Hanya saja Mark belum berani mengatakan perasaan nya pada sesosok orang yang sudah mengambil separuh hati nya.
"Masa sih gak ada bang, Abang kan ganteng, populer, pinter udah gitu kayak pula, siapa sih yang mau nolak Abang," heran Intan, hingga dia teringat dengan teman-teman seangkatan nya yang terobsesi dengan Mark.
"Ah, intan Tau, bang Mark sama Bela aja, hahah," ledek Intan.
"Dih ogah, kayak gak ada cewe lain aja," tolak Mark dengan mentah-mentah.
"Lagian Intan juga gak bakal kasih restu," ucap Intan.
"Gimana Ya rasanya punya pacar,iat Aya sama Steven intan jadi pengen pacar juga deh," gumam Intan sambil membayangkan seseorang yang memperlakukan nya dengan baik.
Dia sungguh iri dengan hubungan Ayara dan Jesi.
Terlintas dipikirannya tentang paras Keenan. Intan tak tahu apa dia benar-benar mencintai pria itu. Apa itu hanya sebatas kagum atau tidak.
Intan tak mau berharap lebih, takutnya Keenan tidak merasakan hal yang sama.
"Udah sekolah aja dulu, entar lagi kan mau ujian. Gak usah mikirin pacaran. Abang gak bolehin Intan pacaran!" tegas Mark dengan wajah yang kini serius.
Mark tidak ingin Intan memiliki hubungan spesial dengan orang lain sementara waktu. Takut kasih sayang dan waktu Intan berkurang padanya, mana dia memiliki 4 orang saingan dirumahnya.
Tak hanya itu, Mark takut jika Intan mengalami patah hati dan sebagainya. Terlalu cepat untuk Intan.
__ADS_1
Jikapun nanti Intan akan berpacaran, maka calon nya harus lulus seleksi terlebih dahulu. Tentunya ujiannya bukan hanya dia saja, tali ada sang Daddy dan para Abangnya.
"Loh kok begitu sih, kenapa gak boleh," protes Intan tidak terima.
"Ya pokoknya gak boleh untuk sekarang, kalo pun Intan pengen, harus lulus seleksi sama Abang, Daddy, bang Athan sama bang Vandra,"
Mata Intan melotot mendengar nya. "Kasian banget jodoh Intan,"
"Ya biarin, kalo beneran serius pasti dia akan perjuangin kalo enggak yaudah lah tinggalin," ucap Mark enteng. Untuk ala pusing memikirkan nya.
"Terserah deh," pasrah Intan.
"Intan!" panggil Jesi yang melambaikan tangan nya diikuti oleh Ayara dan Steven yang tengah bergandengan tangan.
Intan sudah tak heran lagi, dia mulai terbiasa dengan pasangan bucin tersebut.
"Kenapa lama sekali," Mark menatap sinis ke arah Steven.
"Suka-suka gue lah," jawab Steven yang membuat Mark jengkel.
"Yaudah, kita berangkat sekarang. Kerumahnya Aya kan,"
"Dek, sini dekatan," ucap Mark yang tengah memegang helm. Mark berniat untuk memasang kan helm yang sedang dipegangnya ke kepala Intan.
Warnanya pink, Mark sengaja membelikan nya khusus untuk Intan.
Selama ini dia selalu membayangkan hal tersebut, bagaimana jika dia memiliki Abang atau Kaka. Dan sekarang mimpinya benar-benar terwujud.
Intan merasa sangat bersyukur sekali memiliki Abang.
Selesai memasang helm untuk Intan
Mark langsung menyuruh Intan untuk naik kemotornya dengan hati - hati.
Sedangkan Jesi nebeng di mobil milik Steven. Gadis itu duduk dibelakang seperti biasanya.
Steven yang memimpin jalan dengan diikuti Mark.
"Dek, kamu berapa hari nginep nya?" teriak Mark seraya fokus dalam membawa motornya dan memelankan nya.
"Hah! apa?" teriak Intan juga, sebab dia kurang jelas mendengar apa yang dikatakan oleh Mark.
"Adek mau nginep berapa hari disana?" teriak Mark kembali.
__ADS_1
Tapi Intan sama sekali tak mendengar nya juga. "Abang ngomong apa sih, intan hak denger,"
"Gak jadi," singkat Mark.
Memutuskan untuk menanyakan nanti saja.
Perjalan dari sekolah ke rumah Ayyara hanya menghabiskan waktu 45 menit.
"Dah Abang pulang'dulu buat ambil keperluan kamu," ucap Mark yang masih di motor nya.
"Gak mau masuk dulu Mark, istirahat bentar," ucap Ayyara.
"Gak usah, udah sono Lo," usir Steve. yang mendapat cubitan dari sang kekasih.
"Aduh sakit yang," rengek Steven yang membuat Mark memutar bola matanya malas. Sungguh alay pikir nya.
"Yaudah Abang pergi ya dek," ucap Mark memutar motor nya kembali.
"Hati-hati," ucap Intan dan Jesi berbarengan.
Mark mengangguk dan menutup helm full face, lalu langsung melakukan motor milik nya meninggalkan pekarangan rumah Ayyara.
"Kamu gak pulang juga?" tanya Ayyara pada Steven yang masih berdiri disana.
"Kamu ngusir aku?" tatap Steven sinis.
"Bukan gitu, yaudah kalo mau mampir,"ucap Ayyara dan menyuruh mereka semua masuk.
Intan dan Jesii yang memang sudah sering kesini, langsung pergi ke kamar milik Ayyara untuk membersihkan diri.
"Sayang, kamu mau ninggalin aku, disini aja dulu," tarik Steven agar Sang gadis duduk bersamanya.
Steven memeluk lengan Ayyara sembari menenggelamkan kepalanya di ceruk leher milik Ayyara.
"Manja banget sih, dasar bayi gede," ucap Ayyara mengelus elus surai milik Steven.
Steven yang diperlakukan begitu langsung mendekati Ayyara agar keduanya lebih dekat lagi.
"Sayang aku lapar," adu Steven.
"Yaudah bentar, kamu mau makan apa biar aku buat sekalian buat intan dan Jesi," ucap Ayyara hendak berdiri
"Suruh bibi aja, kamu disini sama aku," ucap Steven tak membiarkan Ayyara untuk menjauh dari sisinya.
__ADS_1
"Yaudah iya," ucap Ayyara menurut.
TBC