
Mark tak mengalihkan pandangan nya dari Intan yang tengah berada di depan nya saat ini.
Mark tidak salah liat kan, Intan tersenyum pada nya walaupun hanya senyuman tipis saja.
Mark berpikir apa dia berhalusinasi tapi itu terasa begitu nyata.
Daripada dia sibuk berpikiran yang tidak jelas, Mark memutuskan untuk menanyakan nya nanti atau menunggu Intan menyapa nya terlebih dahulu.
Tak lama mereka akhirnya di suruh untuk kembali ke kelas.
"Abang langsung masuk kan," ucap Intan menoleh ke arah Mark.
"Ah i..iya," balas Mark yang entah mengapa merasa canggung.
"Abang kenapa deh, sakit ya?" tanya Intan dengan menempelkan telapak tangan nya pada dahi Mark.
"Tapi enggak panas kok," ucap Intan melepaskan tangan nya.
Nark akhirnya tersadar, itu artinya dia bisa kembali berbicara dengan Intan karena gadis itu yang memulai nya.
"Abang gak papa kok, kamu.. udah maafin abang kah?" tanya Mark dengan pelan untung saja pendengaran Intan tajam jadi dia bisa mendengar pertanyaan Mark yang dikeluarkan dengan suara pelan.
"Emang Abang ada salah apa, kan gak ada," ucap Intan.
"Ehm,"
Mark mengangguk kecil, lalu bertanya-tanya akan Intan yang menyueki nya dan sekarang berubah drastis Kembali.
__ADS_1
"Maafin sifat Intan yang kekanak-kanakan yah bang, maaf Intan nyuekin Abang," lirih Intan.
"No, itu bukan salah kamu, Abang ngerti ko," balas Mark.
"Sekarang kekelas yuk," ajak Mark merangkul Intan dengan akrab.
Akhirnya dia bisa melakukan itu lagi pada Intan, dia sudah hampir frustasi karena Intan yang selalu cuek pada nya.
"Jangan diemin abang lagi pokoknya, lebih baik Intan marah-marah sama ngomel daripada diem-dieman sama Abang," Pinta Mark.
"Iya Abang," balas Intan.
"Good, nah gitu dong," ucap Mark.
"Jes tukeran tempat duduk ya," pinta Mark pada Jesi. Dia ingin kembali satu meja dengan adik nya tersebut.
Dia ikut senang keduanya menjadi akur kembali.
***
Mark mengajak Intan untuk menonton film sebelum pulang.
Pria itu benar-benar ingin menghabiskan banyak waktu bersama dengan Intan.
"Yah, tapi filmnya horor semua bang, Intan gak mau ah, takut." ucap Intan
"Kan ada Abang, kalo takut bisa pelik entar," ucap Amek tersenyum menenangkan.
__ADS_1
"Gak mau, Intan gak mau nonton film horor takut nya nanti Intan jadi mimpi buruk. Yang lain aja deh bang," ucap Intan.
Mark mengangguk kecil dan mencari film lain yang bisa mereka tonton.
"Ini aja mau gak," tunjuk Mark pada layar yang menampilkan pencarian film nya.
Intan menyipitkan mata nya lalu mengangguk setuju, asal tidak film horor maka Intan akan iya-iya saja.
Mark akhirnya membooking dia tiket untuk mereka.
"Let's go," ucap Mark.
"Yuk," ucap Intan.
"Abang bawa motor kamu gapapa kan, panas banget lagi,"
"Gapapa bang," ucap Intan. lagipula dia sudah sering dan seperti nya lebih menyenangkan naik motor.
Mark tidak langsung setuju.
"Kita naik taksi aja deh, beneran panas ini. Abang juga gak bawa dia helm," ucap Mark.
"Lah kalo kayak gitu nanti motor Abang jadi nya gimana?' tanya Intan.
"Soal itu mah urusan gampang, Intan gak perlu pikirin soal itu,"
Mark bisa meminta bantuan pada teman nya untuk membawa motor itu kembali ke rumah nya.
__ADS_1