
"Mom," kesal Intan saat melihat Sania yang malah asik dengan Daniel.
Pria baruh baya dan wanita paruh baya itu kerap kali semakin dekat tiga bulan belakangan ini.
Daniel begitu gencar nya untuk mendekati mommy nya. Di setiap ada kesempatan Daniel tidak akan melewatkan nya dan mommy nya malah welcome saja.
Seperti sekarang dia malah diabaikan oleh Sania karena tengah asik bercanda ria dengan Daniel.
Mereka tengah berada di pasar malam sekarang. Daniel lah yang mengajak nya.
Awalnya dia senang karena sudah lama dia tak berada di sana tapi makin lama dia hanya menjadi seekor nyamuk saja bagi keduanya.
Sania yang sadar jika kini Intan berhenti di belakang mereka mendekati putri nya yang sedang memegang permen kapas di tangan nya.
Gadis itu tengah menggembung kan pipi nya kesal karena lelah hanya mengikuti Sania dan Daniel saja.
Intan bahkan sudah hampir akan menangis sekarang.
"Intan kenapa sayang?" tanya Daniel dengan selembut mungkin.
"Gapapa," ucap Intan dengan ketus.
"Ntan jangan ngomong kayak gitu sama orang tua, gak sopan sayang. Mom kan gak pernah ajarin kamu kayak gitu," ucap Sania yang tak suka mendengar bagaimana cara intan menjawab dengan begitu ketus nya.
"Maafin Intan om," ucap Intan pada akhirnya karena takut nanti Mom nya akan marah pada nya.
"Tidak apa-apa," ucap Daniel tersenyum maklum. Dia baru menyadari jika dia tidak hanya jalan-jalan dengan Sania tetapi juga dengan Intan.
Sangking begitu senang nya dia bersama Sania sampai membuat Daniel melupakan keberadaan Intan.
"Maafin om ya gak merhatiin Intan, pasti Intan kesal karena itu ya," ucap Daniel.
Intan lantas mengangguk saat benar itu adalah alasan nya.
Mendengar itu Sania menjadi merasa bersalah pada putri nya tersebut.
"Maafin mom juga ya, seharusnya Intan juga ikut bersenang-senang. Sekarang biar mom dan om Daniel temenin Intan main apa yang intan mau sampai Intan merasa puas,"
"Benarkah?" tanya Intan dengan begitu antusias.
"Tentu saja, Intan mau naik apa?" tanya Daniel tersenyum kecil.
"Intan mau naik yang itu," tunjuk Intan pada bianglala yang berputar.
Daniel membulat kan mata nya, dia tentu tidak berani menaiki itu lagi setalah saat SD yang terakhir kali nya dia menaiki itu.
Pernah dia berhenti di atas dan membuat Daniel Tremor karena dia juga sebenarnya phobia akan ketinggian.
__ADS_1
"Intan yakin?" tanya Daniel dengan wajsh yang sedikit pucat.
"iya, ayukk," ucap Intan yang pergi membeli tiketnya.
"Kamu tidak apa-apa? jika tidak bisa tidak usah dipaksakan. Biar aku saja yang menemani Intan," ucap Sania.
"Tidak, aku bisa kok." ucap Daniel menetralkan raut wajah nya.
Dia harus menujuk kan jika dia bisa. Malu dirinya di depan wanita yang dia puja.
"Udah beli tiket nya Intan?"
"Udah," Intan lalu memberikan Sania dan Daniel tiket nya perorang.
"Yes, aku tidak sabar," ucap Intan.
Ke tiganya akhirnya disuruh untuk haik setelah memberikan tiket. Intan lah yang lebih dulu naik diikuti oleh Sania.
Daniel terlihat berpikir sejenak, dia sedikit ragu.
"Ayo om, kok malah bengong," ucap Intan yang sudah tak dapat menunggu.
"Iya," cicit Daniel yang duduk di depan kedua wanita yang berdampingan itu.
Baru saja bianglala nya berputar, Daniel merasa jantung nya seakan mau copot saja. Sungguh dia benar-benar merasa takut sekarang.
Sedangkan Intan terlihat sangat enjoy karena bisa melihat pemandangan yang begitu indah dari atas sana.
"Mom lihat dibawah sana!" seru Intan yang bersemangat.
Sania tidak fokus dengan apa yang di katakan oleh Intan. Putri nya itu terlihat begitu melirik kesana sini.
Dan Sania malah tengah menatap ke arah Daniel yang wajah nya kian memucat.
Sedetik kemudian pria itu akhirnya berteriak histeris membuat Sania menjadi kaget begitu pun dengan Intan yang mengalihkan pandangan nya ke arah Daniel.
"Aaa, berhenti.... berhenti ....," teriak nya dengan begitu kencang.
Daniel mengulang-ulang kalimat itu seraya memejamkan mata nya tak memperdulikan lagi image nya.
"Tolong berhenti.. kumohon," lirih nya.
Sania yang tidak tega akan hal itu menunggu mereka sampai bawah dan mengatakan pada penjaga nya untuk mengehentikan bianglala nya sejenak agar mereka bisa turun.
Daniel akhirnya bisa lebih tenang. Namun napas nya tidak beraturan DNS lebih dulu turun dengan tubuh yang linglung.
"Ayo sayang turun, maaf ya jadi gagal. Tapi kasian on Daniel nya," ucap Sania yang diangguki oleh Intan.
__ADS_1
Meski sedikit tidak terima namun setelah melihat kondisi Daniel yang memang tidak baik-baik saja membuat Intan harus mengalah dns tidak boleh menjadi egois hanya untuk mendapatkan apa yang dia mau.
Sania menghampiri Daniel yang tengah terduduk yang masih menetralkan nafas nya.
Sania memberikan air minum pada oria itu yang langsung diterima oleh Daniel dengan cepat. Dia membutuhkan itu.
"Terimakasih Sania," ucap nya dengan pelan.
"Om udah gak papa? kalo om gak bisa seharusnya om hilang aja om. Intan jadi gak enak," ucap Intan
"Tidak apa-apa, om udah baik-baik aja. Bukan salah nya Intan," balas Daniel yang mengerti kegundahan hati Intan.
"Berarti kita bisa naik wahana yang lain nya kan," ucap Intan yang mendapat tatapan teguran dari Sania.
"Ekehem maaf, Intan terlalu excited hehehe," cengir Intan dengan menggaruk tengkuk nya yang tidak gatal.
"Boleh, tali om cuma nemenin ya, om gak mau naik lagi," ucap Daniel yang dimengerti oleh Intan.
Dia juga tidak ingin memaksa pria itu memang jika tidak bisa.
"Em Intan mau main trampolin deh," ucap Intan.
"Yaudah yuk kesana," ucap Daniel yang mulai berdiri.
"Memangs nya tidak apa - apa, beristirahat lah sebentar lagi. Intan bisa nunggu beberapa menit lagi kan sayang," ucap Intan mengelus wajah gadis itu lembut.
"Bisa Mommy,"
"Good,"
Daniel tersenyum bahagia, dia tak bisa menyembunyikan rasa senang nya sekarang melihat ternyata Sania perduli pada nya.
Dia semakin yakin bisa untuk mendapatkan wanita itu.
Melihat Sania yang mulai membuka diri.
Beberapa menitan mereka menunggu akhirnya Daniel lah yang terlebih dahulu mengajak. Dia tak ingin Intan menunggu lebih lama.
"Wih rame," ucap Intan.
Gadis itu kian bergabung dengan pengunjung yang tengah asik dengan trampoline.
Yang kebanyakan dimainkan oleh anak-anak dan remaja yang tengah di temani oleh orang tua mereka.
Sania tak berhenti-henti nya tersenyum melihat Intan yang masih seperti anak kecil saja.
Benar, Intan masih anak kecil untu nya dan akan selalu begitu.
__ADS_1
TBC