Possesive Man

Possesive Man
Part 105


__ADS_3

"Kemana kau akan membawaku, aku masih ingin menonton," ucap Sania yang ditarik oleh Fathan.


"Benarkah ingin menonton? apa yang aku tonton jika menutup mata mu heum," ucap Fathan yang membuat Sania menyengir.


Fathan membawa Sania ke dalam ruangan pribadi nya yang hanya bisa dimasuki oleh nya saja.


Tak ada yang pernah kesana meski para anak nya sekali pun.


Sania adalah orang pertama yang Farhan bawa ke dalam ruangan itu.


Tak ada yang sepesial di dalam nya, hanya ruangan santai saja dengan fasilitas yang juga lengkap seperti di kamar nya.


Hanya saja kadang Farhan menyukai di sana karena saat dia ingin sendiri maka Fathan akan langsung kesana karena tak ada yang tahu.


"Daripada menonton horor mending kita menonton film romansa. Kau mau?" tanya Fathan.


"Bukan yang ide yang buruk," ucap sania yang mengikuti saja.


"Berbalik lah sebentar," ucap Fathan pada Sania.


"Untuk apa?"


"Berbalik saja sayang," ucap Fathan.


Sania pada akhirnya menurut saja karena menurut nya Fathan tak akan melakukan hal yang aneh.


"Kalung," cicit nya saat Fathan memasang kan sebuah kalung yang terlihat simpel namun elegan. Dengan melihat nya saja Sania tahu jika kalung itu dibeli mahal oleh Fathan.


"Kau membelikan ini untuk ku?" tanya Sania memegang kalung yang sudah melekat di leher nya.

__ADS_1


"Heum, kau suka?" tanya Fathan.


"Iya, aku suka. Terimakasih," ucap Sania.


Dia tak ingin menolak pemberian Fathan itu karena dia memang menyukai nya.


"Aku senang sekali saat kamu mengungkapkan perasaan mu padaku selama ini, artinya aku tidak bertepuk sebelah tangan," ucap Farhan.


"Tapi aku tak akan melupakan kau yang bersama Daniel saat kita sedang bertengkar," ada nada tidak suka dalam penuturan Fathan.


"Em kau tau?" tanya Sania.


"Of source, kau bersenang-senang dengan nya kan?" tanya Fathan dengan sinis.


Sania mengigit bibir dalamnya, mana mungkin Fathan tidak tahu saat lelaki itu memiliki banyak mata-mata. Pasti mereka selama ini mengawasi kegiatan nya dan melaporkan nya pada Fathan.


Dia memang salah saat itu, hanya saja Daniel yang selalu datang dan mengajak nya untuk jalan.


Beberapa kali Sania memberikan alasan dan tak mungkin sampai seterusnya dia harus seperti itu.


Lagi yang dia memang membutuhkan waktu untuk menenangkan pikiran nya dan Daniel membantu nya untuk mengawasi nya.


Fathan mengehela nafas, yang terpenting sekarang adalah Sania sudah menjadi milik nya dan Fathan hanya tinggal meresmikan nya saja.


"Aku akan menghukum mu nanti setelah kita menikah," ucap Fathan dengan seringai penuh arti.


Sania meneguk ludah nya kasar, melihat tatapan Fathan yang seperti itu membuat nya merinding. Sania jelas tau apa maksud dari pria itu.


"Persiapkan dirimu sayang," ucap Fathan tersenyum kemenangan.

__ADS_1


"Kau yakin sekali jika kita akan menikah, bagaimana kalau aku tidak setuju," ucap Sania tersenyum.


"Boleh saja kau tak setuju, tapi aku tidak perduli, dan aku akan mengurung mu /lagi jika perlu," ucap Fathan tak mau kalah.


"Ish kalo gitu itu namanya pemaksaan," ucap Sania. Dia tidak ingin lagi dikurung cukup satu kali saja


Sania sudah tak ingin lagi. Sania benar-benar kapok


Fathan kini mengambil posisi di paha Sania. Pria itu tiduran disana.


"Nyaman sekali," ungkap Fathan seraya menatap Sania dari bawah sana.


Sania tak menolak sama sekali, wanita paruh baya itu kini malah mengusap kepala Sania sembari menonton begitupun dengan Fathan yang sesekali melihat ke arah Sania.


"Aku selalu memimpikan hal ini sayang, sungguh. Dan akhirnya aku sekarang mendapatkan kan nya, terimakasih, terimakasih karena sudah bersama dengan ku, kau adalah hal bahagia yang kutemukan tahun ini," ucap Fathan.


Sania menjeda film nya, dia sama sekali tidak fokus lagi dengan film nya karena perkataan Fathan yang dalam membuat nya merasa begitu di hargai dan dicintai.


"Kau juga adalah hal bahagia yang kutemukan Fathan, terimakasih juga karena sudah memilih ku diantara banyak nya wanita yang pasti menyukai mu,"


Tentu saja Sania harus siap dengan konsukuensi itu karena Fathan cukup tampan dan dia harus siap untuk banyaknya wanita yang akan mengangumi pria itu.


"Aku tidak perduli dengan banyak nya wanita hebat di luar sana , meski mereka mencintai ku aku hanya akan mencintai mu. Bukankah kau menang, mereka hanya bisa mengagumi saja sedangkan kau bisa memiliki ku," Ucap Fathan.


Dalam hati Sania membenarkan hal itu, dia yang menang dan tak perlu ada yang dia khwatir kan selagi Fathan hanya melihat nya saja.


TBC


TBC

__ADS_1


__ADS_2