
Setiap langkah yang diambil oleh Steven kali ini sangat cepat dan begitu tergesa-gesa.
Menandakan dirinya begitu terburu-buru dan sedang tidak sabaran.
Bagiamana tidak, orang yang sedang dia tunggu-tunggu akhirnya bangun juga dari tidur nya yang sudah cukup panjang menurut Steven.
Saat mendengar kan kabar dari Jesi yang mengatakan jika Ayyara sudah sadar, dengan semangat empat lima dia langsung menuju ke arah rumah sakit dan meninggal kan kesenangan untuk memberikan pelajaran pada orang yang sudah membuat gadis nya ada di rumah sakit ini sekarang.
"Steven, akhirnya kamu datang juga, cepat lah masuk ke dalam sekarang, Ayyara tadi udah nyari kamu, kamu harus cepat sebelum Tante dan om Arsen datang, Merkea sedang di rumah lain mengunjungi Bi Ana," ucap Intan panjang lebar saat sesampai nya Steven di depan ruangan Ayyara.
Steven mengangguk antusias. "Terimakasih sudah menjaga nya," ucap Steven.
"Jangan berterima kasih begitu, Ayyara adalah teman kami, cepat kau masuk," suruh Jesi cepat.
Steven memegang kenop pintu nya secara perlahan, entah mengapa dia sedikit gugup sekarang setelah tak beberapa lama berbincang dengan gadis itu.
Steven menutup pintu nya setelah berhasil masuk. Seperti nya gadis yang tengah berbaring itu menyadari kehadiran nya.
Terbukti dari mata nya yang tadi terpejam kini terbuka dan memandang ke arah Steven yang sedang memandang ke arah gadis nya itu juga.
Sudah lama dia tidak menatap manik favorit nya itu, mata yang selalu menatap nya dengan cinta.
"Steven, kamu datang," seru Ayyara tersenyum senang dan melebarkan senyuman nya.
Steven masih berdiri mematung di tempat nya. Dia tidak tau harus mengatakan apa sekarang.
Dia malu karena tak bisa menjaga gadis itu dan marah pada dirinya karena sudah memutuskan gadis itu segera sepihak.
"Steven, mengapa kau hanya berdiri di sana, apa ku tak merindukan ku seperti aku merindukanmu," ucap Ayyara dengan getir.
Ayyara berpikir jika Steven masih menganggap serius dengan putus nya hubungan mereka. Seperti nya memang hanya dia yang masih berharap lebih dengan hubungan mereka ini.
Lalu apa yang dia harus lakukan, tak mungkin dia memohon dan memaksa Steven seperti saat sebelum nya, disaat Steven sendiri tak ingin.
Tak ada gunanya bukan mempertahankan hubungan yang hanya diinginkan oleh sepihak saja. Hanya akan menyakiti kedua nya termasuk diri nya sendiri.
"Jika kau ingin keluar kamu bisa pergi, maaf karena telah meminta Jesi untuk memanggil mu kemari padahal kamu tidak ingin kesini," lanjut Ayyara yang kini memejamkan mata nya kembali.
__ADS_1
Steven tidak senang mendengar nya, bagaimana bisa gadis itu mengatakan hal yang seperti itu disaat dia hampir gila seperti ini.
Steven mendekati ranjang yang di tempati oleh gadis nya itu dan duduk di samping nya.
Steven mengelus pipi Ayyara dengan pelan dan lembut.
"Apa ini masih sakit?" tanya nya.
Ayyara membuka mata nya dan menoleh ke arah Steven yang memasang wajah lembut ke arah nya.
Tatapan yang sama yang selalu di berikan oleh Steven saat mereka masih berpacaran tentu saja.
Ayyara menggeleng kecil, pipi bekas tamparan itu sudah tidak sakit lagi.
Seketika Ayyara menjadi mengingat kejadian itu kembali. Kejadian yang tak pernah di duga nya yang dilakukan oleh orang yang sudah dia anggap sebagai teman nya juga.
Dia masih ingat bagaimana Keenan memukul nya dan memperlakukan nya dengan tidak baik.
Steven yang merasa jika gadis yang sedang di hadapan nya merasa gelisah langsung saja berdiri dan menangkup kedua pipi Ayyara.
"Ada apa? katakan sayang, apa ada yang sakit hemm?" tanya Steven khawatir.
"Tidak, jangan pergi. Disini saja kumohon," ucap nya dengan lirih dan bercampur dengan senang. Dia yakin pendengaran nya masih bagus dan dia benar-benar mendengar Steven memanggil nya dengan sebutan sayang.
"Aku tidak akan pergi, i'm here. Tidak akan terjadi apa-apa," ucap Steven menenangkan gadis itu.
"Kee- Keenan hiks," Ayyara menitikkan air mata nya membuat hati Steven nyeri di buat nya.
Dia sedang mencoba untuk menahan amarah nya melihat Ayyara yang takut seperti ini karena ulah Keenan.
Tapi sebisa mungkin, Steven menahan amarah nya karena tidak mungkin dia menujuk kan wajah emosi nya pada Ayyara sekarang.
"Sttss, sudah jangan membahas nya jika kamu tidak ingin," ungkap Steven tak ingin Ayyara memaksakan diri nya sendiri.
"Tapi--"
"No, jika kamu sudah merasa baikan kamu baru boleh mengatakan nya padaku sayang, not now. Jangan memaksa dirimu sendiri, i don't like it," balas Steven yang diangguki oleh Ayyara pada akhirnya.
__ADS_1
"Em, so kita ini apa?" tanya Ayyara ingin memperjelas semua nya.
Dia tidak ingin baper seperti ini padahal mereka sudah tidak memiliki hubungan dan malah tidak jelas bagaimana.
"Why do you ask, you are my lover," ucap Steven dengan serius.
"Tapi katamu kita sudah putus," cicit Ayyara memelankan kalimat akhirnya.
Rasanya sangat tidak menyenangkan jika mengingat fakta yang satu itu.
"Ah sekarang kita balikan, kamu mau kan balikan sama aku?" tanya Steven.
Ayyara menggigit bibir nya kecil. " Em iya mau," ucap nya.
Dia tentu saja tidak akan menolak karena inilah yang dia inginkan.
"My girl," ucap Steven seraya memeluk Ayyara yang dibalas oleh gadis itu juga dengan erat.
"Terimakasih karena sudah menolong kubsaat itu Steven, jika kamu tidak datang, aku tidak tahu bagaimana jadi nya," ucap Ayyara pada Steven dengan begitu tulus nya.
"Sudah menjadi tugas ku sayang," ucap Steven yang membuat Ayayra tersenyum hangat.
Entah sudah berapa kali dirinya tersenyum hari ini. Rasanya rahang nya menjadi sedikit pegal karena terlalu banyak melebarkan senyum nya.
"Kau tau Stev, aku sangat senang bisa seperti ini kembali bersama mu. Aku membenci wajah datar mu kemarin padaku, kau sangat cuek saat itu dan ketus, aku membenci nya," Adu Ayyara mengeluarkan unek-unek nya selama ini.
Steven terkekeh mendengar ucapan Ayyara, dia mengerti akan kekesalan gadis nya itu.
"Maaf kan aku Hem, aku tak akan melakukan nya lagi padamu," sesal Steven yang masih setia semabri memeluk Ayyara dalam dekapan hangat nya.
"Eum, ini baru Steven ku yang sebenar nya," ucap Ayyara.
Kedua sejoli itu begitu larut dalam dunia mereka sendiri sampai tidak sadar ada beberapa orang yang menatap marah dan khwatir ke arah kedua nya yang masih sibuk berpelukan.
"Jes, gimana nih, om Arsen pasti bakalan marah," bisik Intan dengan panik.
Jesi mengangkat bahu nya, dia tak dapat melakukan apapun sekarang. Entah mengapa kedua orang itu begitu cepat kembali dari rumah sakit tempat Bi Ana sedang dirawat.
__ADS_1
TBC