
"Fathan!" Alaric menggedor pintu ruangan Fathan dengan sedikit kasar, hingga membuat tangannya menajadi memerah dan sedikit terluka karena terlalu keras.
Berulang-ulang Alaric menggedor dan menendang pintu itu meski tak ada guannya karena Fathan tak akan menedengarnya. Alaric benar-benar merasa geram dengan tindakan Fathan yang terlalu gegabah menurutnya kali ini.
Dia hanya takut jika Fathan akan menghabisi Fedrick secara tidak sengaja karena emosi sesaat yang tak bisa dia kendalikan. Padahal baru saja Fathan mengatakan inngin memprerat hubungannya dengan putra-putranya, tapi lihatlah sekarang.
Dia sangat yakin, saat pria itu telah sadar nanti, pasti Fathan akan menyesal karena itu bukanlah yang pertama kalinya dia menghukum anak-anaknya dengan memeberikan tinjuan atau semcamnya, hanya saja yang untuk Fedric kali ini lebih parah.
"Dad!! geram Athan yang sud ah lama menunggu namun Fathan tak kunjung keluar dari dalam sana. Apa yang dilakukan oleh Fathan pada Fedrick hingga memakan waktu sejam lebih.
"****, dia sudah gila," frustasi Alaric. Keduanya sama sekali tak bisa masuk karena pintunya memang tak akan bisa didobrak sekalipun. Fathan benar-benar memadai ruangan tersebut dengan fasilitas yang baik, hingga pintu tersebut terbuat dari besi.
"Fathan tak akan mendengar kita, ruangan itu kedap suara," ucap Alaric yang baru mengingat. Alaric akhirnya duduk menunggu, karena hanya itu yang bisa mereka lakukan sekarang. Tak ada guannaya mereka berteriak-teriak sekarang.
"Daddy sudah keterlaluan! tak bisakaah dia membicarakan dengan baik, mengapa harus pakai kekerasan!! desis Athan mengepalkan tangannya. Fathan selalu mengatakan pada mereka ana alki-laki harus kuat dan tak noleh cengeng. Kata-kata dari kecil selalu dia dengarkan karena Fathan sangat sering mengatakannya.
Athan membenarkan hal itu, tapi tetap saja dia berharap Fathan lebih bisa mengerti mereka, dan bukan hanya memaksakan kehendaknya.
Athan memang terlihat acuh tak acuh pada adiknya namun sebenarnya tidak, Athan selalu memperhatikan dan mengawasi ketiganya. Athan juga memiliki banyak mata yang dia suruh diam-diam untuk melaporkan kegiatan mereka.
***
"Yey, Intan menang, kalian kalah lagi hahah," tawa intan bahagia sedangkan kedua abangnya hanya bisa menghela pasrah dnegan apa yang dilakukan oleh Intan kepadanya. Menurut apa yang dikatakan oleh Intan daripada gadis itu akan mengadakan acara ngambek.
Wajah Vandra dan Mark kini cemong dengan coret-coretan lipstik yang diberikan oleh Intan di wajahnya, bahkan wajah keduanya juga diberikan bedak putih serta rambut yang dikuncir
Keduanya kembali tersenyum masam saat mereka lagi dan lagi kalah dalam permainan stacko. Vandra da Mark memang tidak terlau jago dalam permainan itu sangat berbeda dengan Intan yang terlihat mudah menaklukannya hingga Intan selalu memenangkan permainan.
Cara bermainnya cukup mudah karena hanya perlu mengambil satu balok dari susunan menara bagian masa saja, bisa di bawah atau tengah tanpa membuat susunan menara jatuh. Lalu, di letakkan kembali di bagian paling atas. Jika menara roboh, artinya kalah.
"Sini abang deketan ih, mau kabur ya,"ucap Intan mengeluarkan kembali lipstiknya untuk dipakaikan kewajah keduanya.
__ADS_1
"Aduh, udah ya dek. Ini yang terakhir, susah tau nanti bersihannya," ucap Vandra dengan nada yang sangat memelas seraya menatap Intan denagn pandangan sendunya. Wajahya benar-benar sudah penuh dengan lipstik merah milik Jesi yang dipinjam oleh Intan. Pasalnya Intan biasanya hanya memakai lipgloss yang tidak terlalu terang. Akan snagat repot untuk membersihkanya nanti.
"Nah iya tuh dek, Lipstiknya Jesi entar habis lagi," kompor Mark yang juga sudah tak ingin lagi mendapat lukisan lipstik itu di wajahnya yang tampan.
"Yaudah deh, ini yang terakhir," ucap Intan yang membuat keduanya mengucap syukur dalam hati. Apalagi Vandra bahkan dia samapi berteriak kegirangan. Dia sebenarnya sedari tadi tidak iuk menolak ajakan Ingin permainan yang dipilihkan oleh Intan tapi dia tidak tega untuk menolak ajakan Intan yang terlihat antusias.
"Abang kenapa teriak-teriak gitu," heran Intan yang membuat Vandra meggeleng dan menampilkan cengiran khasnya.
Intan lebih dulu mencoret-coret wajah Vanda lalu beralih Ke Mark. Untuk Mark Intan membuatkan mata Mark menjadi seperti mata panda namun berwarna merah lipstik.
Vandra yang melihat wajah Mark yang semakin berantakan tertawa dengan keras hingga dia memegang perutnya dan mengeluarkan air mata dari sudut matanya.
Ayara dan Steven yang sedari tadi membucin di sofa ikut memperhatikan mereka dan menertawakan Vandra dan Mark sedangkan Intan dengan wajah yang tak berdosanya malah tersenyum senang sambil bertepuk tangan seperti anak kecil.
"ahhah kalian jadi tambah lucu," tawa Intan.
"untung aja adek, kalo bukan udah gue lempar," gumam Mark seraya tersenyum melihat Intan yang tertawa bahagia.
"Ayok foto!!" seru Intan mengeluarkan ponselnya. Dia tak bisa mengabaikan momen ini, Intan harus memiliki foto nya untuk bisa dia lihat dikemudian hari sebagai kenang-kenangan.
"Ah masa muka kaya gini ngajak foto dek, gak mau ah," tolak Mark menggelengkan kepalanya.
"Ayo," ucap Intan seperti akan menangis dengan mengerucutkan bibirnya karena mendnegar penolakan dari Mark.
"udah ayo, ayo cepat Mark janagan banyak omong, sini!" tegas Vandra untuk menuruti permintaan Intan. Karena menurutnya permintaan intan tidaklah berat untuk dilakukan.
"Oke," pasrah mark lalu mendekat kearah keduanya.
Mereka bertiga akhirya melakukan bebragai macam pose, dengan Intan yang berada diantara keduanya seraya memegang kamera.
Pose terakhir, Vandra smaa-sama mencium pipi Intan. 'yey, fotonya lucu-lucu dan bagus, Intan suka yang ini," ucap Intan menunjuk Mark dan Vandra ynag berpose konyol.
__ADS_1
"Eh bagi fotonya entar ya dek," uca mark yang ternyata menyukai fotonya.
"yeh dasar, tadiaja sok-sok-an mau nolak. " sinis Vandra.
"Udah ah, Intan mau sama Jesi, Intan mau berenang juga," ucap Intan sesudah menghentikan tawanya.
"Lah, emang bisa renang? sejak kapan dah. Kok gue baru tau. Yang ? tanya Steven bertanya pada Ayyara.
"Kamu nanya?kamu bertanya-tanya? aku kasih tau ya, Intan itu gak bisa renang ya." Ucap Ayyara langsung tertawa ngakak.
"Hah?" cengo Steven yang tidak mengerti.
"Itu Dilan Cepmek woi ahaha, dimana-mana temen gue bilang gitu semua cok,pada kena sindrom nya Dilan." ucap Vandra.
"Hooh, gue kesal, dimaana-mana orang orang selalu bilang gitu kalo gue lagi nanya,." kesal Mark.
"Ih lucu tau, Intan juga tau Dilan Cepmek, Intan liat di tiktok. Rambutnya lucu," kikik Intan.
"Bener banget Ntan, masa kamu gak tau sih yank, padahal lagi rame banget loh,"jelas Ayyara.
"Aku gak tau," balas Steven yang memang tidak terlalu suka membuka aplikasi yang sangat banyak digemari oleh orang-orang sekarang.
"Aku kamu mah kudet, udah ah aku juga mau sama Jesi" balas Ayyara.
"Ntan, kamu beneran mau renang, kamu kan bisanya cuma gaya batu," kata Ayayyara yang membuat Vandra tergelak.
"emang iya dek," sembur Vandra.
"Iya, padahal Intan mau berenang tapi gak bisa, Intan cuma rendam kaki aja kok sama main air," keluh Intan yang membuat Mark menaikkan sebelah alisnya.
"Kamu mau abang ajarin renang gak?" tanya Mark menawarkan.
__ADS_1