Possesive Man

Possesive Man
Part 92


__ADS_3

"Kalian sungguh ingin tinggal disini?" tanya Athan pada Sania dan Intan.


Sudah beberapa kali Athan mengulang pertanyaan yang sama dan dia berharap kedua nya tidak menjawab hal yang sama seperti sebelum nya.


"Iya, mom sama Intan akan tinggal disini, Athan tidak perlu repot-repot," balas Sania dengan tersenyum lembut.


Athan mengembuskan nafas nya dengan kasar. Padahal dia sudah menawarkan untuk ke duuanya tinggal di apartemen nya yang jauh lebih bagus dan luas.


"Ayolah, apartemen ku tidak ada yang menempati mom, aku selalu pulang ke rumah Daddy akhir-akhir ini. Daripada kosong kan," ucap Athan keras kepala.


Jika Sania dan Intan bisa keras kepala maka ia juga bisa .


"Tapi.."


"Udah, Athan gak mau denger penolakan lagi. Anggap aja kalian sambil membersihkan apartemen nya karena memang sudah lama tidak ditempati. Aku tidak mau apartemen nya jadi tidak terurus mom," jelas Athan.


Padahal sebenernya sangat mudah untuk Athan menyewa orang hanya untuk membersihkan apartemen nya itu.


Athan menggunakan alasan itu agar mereka mau tinggal di sana.


Intan menoleh ke arah Sania yang tengah berpikir.


"Mom sangat senang melihat Athan sepeduli itu sama Intan dan mom, tapi tetap saja mom mau tinggal di sini, soalnya mommy sudah bayar satu kedepan, sayang jika harus ditinggal kan," ucap Sania kembali membuat Athan menjadi tersenyum sangat masam.


Mengapa susah sekali untuk membujuk Sania, ini lebih jauh daripada mendapatkan projek di perusahaan Daddy nya.


"Aku tidak bisa membiarkan kalian tinggal di kontrakan kecil seperti ini, tolong jangan menolak nya lagi. Intan mau tinggal di apartemen Abang kan?" tanya Athan mengalihkan pandangan nya ke arah Intan.


"Eum, aku ikut mom aja bang," ucap Intan.


"Mom, please," mohon Athan dengan pandangan yang memelas.


Walaupun ke duanya tak tinggal bersama dengan keluarga nya lagi, setidak nya Athan bisa memastikan mereka tinggal dengan aman dan nyaman.


"Jangan seperti itu Athan, mom jadi tidak tega melihat pandangan melas mu itu," ucap Sania.


"Yaudah kalo gitu, pokoknya kalian harus tinggal di apartemen Athan, kali ini Athan gak mau dengar penolakan apapun lagi," ucap Athan final.


Pria itu lalu menelpon anak buah nya untuk segera datang ke kontrakan tersebut.

__ADS_1


Athan ingin secepat nya agar mereka bisa pindah.


"Kalian bisa bereskan pakaian kalian sekarang. Kita akan segera ke apartemen ku setelah ank buah mu datang," ucap Athan tersenyum.


Intan dan Sania sampai tercengang mendengar nya. Secepat itukah, Athan benar-benar sangat niat sekali.


"Mau Athan bantu?" tawar Athan yang melihat ke dua orang di depan nya yang masih terdiam dan tak beranjak.


Sania meringis pelan, dia tak mau merepotkan Athan bukan hanya itu saja dia tak ingin dikatakan sebagai wanita yang memanfaatkan orang lain untuk ke pentingan pribadi nya.


Apalagi dia sendiri yang bilang pada Daddy Athan agar dia bisa hidup mandiri dan berdiri sendiri tanpa bantuan Fathan.


Apa kata Fathan nanti saat tau jika dia menerima bantuan dari Athan.


"Tidak perlu Athan, mom dan Intan sudah nyaman tinggal di sini kok," ucap Sania dengan tersenyum menangkan untuk membuat Athan mengerti.


Athan diam tak menanggapi. Pria itu kini duduk di kursi kayu yang berada di ruang tamu sambil memainkan ponsel nya.


Sania dan Intan saling melirik melihat ekspresi Athan yang datar dan kembali dingin.


Pria itu terlihat bad mood sekali dan tak membuka suara nya lagi.


Intan akhirnya mendekati pria itu dan menoel-noel lengan Athan.


"Abang marah ya," ucap Intan.


"Abang lagi liat apa?" tanya Intan kembali yang tak mendapat jawaban apa-apa.


"Athan," panggil Sania dengan lembut.


Ingin Athan mengabaikan juga namun tak dilakukan nya karena merasa tidak sopan pada wanita itu.


Athan mengalihkan pandangan nya yang semula dari handphone ke arah Sania.


"Mommy sama Intan gak mau ngerepotin keluarga kalian, ehm kau tau kan kita ini hanya orang asing, tak seharusnya berlebihan seperti ini, tidak enak sama orang-orang yang malah akan berpikiran negatif nanti nya," ucap Sania.


Athan sudah mengerti sekarang, Ke dia wanita tiup hanya takut akan pikiran orang-orang pada mereka. Padahal seharusnya tidak usah diperdulikan saja.


Orang-orang hanya melihat saja dan tidak tau apa - apa yang terjadi. Lagipula kita tidak dapat membuat semua orang suka pada kita.

__ADS_1


"Jadi ini alasan nya? apa itu juga alasan kalian pergi dari rumah. Katakan padaku siapa yang berkata buruk pada kalian?" tanya Athan dengan pandangan mengintimidasi.


"Iya betul banget bang, kok Abang tau sih," ucap Intan yang lalu menutup mulut nya karena dengan begitu lancar nya dia menjawab.


Intan memukul pelan mulut nya yang tidak bisa di kontrol.


Sania memejamkan mata nya mendengar intan yang menyerobot dengan begitu lancar nya.


"Ehm, maksud Intan ehm.."


Intan tak bisa melanjutkan perkataan nya karena mendadak dia menjadi blank.


"I See, Intan siapa yang bilang heum,'ulang Athan dengan nada yang rendah.


Intan diam tak menjawab, Intan enggan dan bahkan sekarang dia mengalihkan pandangan nya dari Athan.


"Fine, aku bisa mencari tahu sendiri. Akan kuberi pelajaran mulut orang yang sudah mengatakan hal buruk pada kalian," ucap Athan dengan serius.


Mata Sania membelalak, akan sangat panjang urusan nya nanti. Sania tidak hal itu malah menjadi masalah besar, dia ingin hidup tenang tanpa ada keributan dengan orang lain.


"No, jangan melakukan hal itu, lagipula mereka benar, tak seharusnya pria dan wanita yang tidak menikah tinggal bersama dan kita hanya lah orang asing," jelas Sania.


"Mereka? jadi lebih dari satu orang ya," Athan mengetuk-ngetuk jari nya.


"Jadi masalah nya karena status, kalo begitu menikah saja dengan Daddy," ucap Athan dengan sangat enteng.


Sania mendelik kan mata nya, Athan dan Fathan sama saja. Mereka tidak berpikir panjang dalam mengambil sebuah keputusan yang besar seperti ini.


"Tidak semudah itu Athan," ucap Sania


"Apa nya yang tidak mudah mom, jika mom menikah dengan Daddy why not. Kalian tidak perlu mendengar omongan orang lain, mereka hanya iri saja," ucap Athan.


"Tapi tetap saja,"


"Ststst udah, Athan gak mau denger lagi, intinya kalian tetap tinggal di apartemen Athan, dan soal hubungan antara mom dan Dad, biar lah kalian yang mengurusi nya, tapi jika kalian memutuskan untuk segera menikah maka Athan akan senang sekali," ucap Athan.


"Nah itu mereka sudah datang," ucap Athan yang mendengar suara mobil dan dia yakin jika itu adalah anak buah nya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2