
"Ck, untuk apa pria tua itu menyuruhku utnuk pulang! Aku tidak melakukan kesalaham, lagipulan bukannya dia pergi bekerja?" gerutu fedrick. Pria itu baru saja selesai kuliah dan awalnya berniat ingin pergi nongkrong bersama dengan anak The Boys.
Tapi karena Fathan mengancam dengan akan menyita motor kesayangannya jika drinya tidak datang, membuat Fedrick pasrah dan membatalkan kepergiannya untuk ke markas.
Pria itu lalu menaiki motornya dan menancap gas agar segera motornyaa dengrnykerumah, karena sejujurnya dia juga penasaran untuk apa Fathan menyuruhnya untuk pulang cepat hari ini. Hal itu sangat jarang terjadi bahkan tak pernah.
Fathan membawa motornya dengan kecepatan sedang, namu saat dilampu merah dia tak sengaja melihat seorang kakek-kakek yang ingin menyebrang sambil membawa banyak tisu yang da yakini untuk dijual.
Pria tua itu terlihat kelelahan dan berekringat, namun pria tua itu tak menyerah sama sekali dalam menawarkan tisu yang dijualnya pada pengendara. Mengtuk pintu demi pintu mobil orang yang tak dikenlanya, berharap ada satu orang yang membeli jualannya.
Fedrick sama sekali tidak mengalihkan matanya dari arah sang kakek dan belum ada yang membeli tisu dari kakek tersebut.
Hati Fedrick berdesir melihat hal itu, entah mengapa dia merasa iba dan kasihan. Dia kemudian menyadari hidupnya yang tak pernah kekurangan. Betapa beruntunya dia, terkadang dia lupa untuk bersyukur akan hal yang sudah diua dapatkan.
Fedrick akhirnya memanggil kakek tersebut, terbesit di pikirannya ada dimana keluarga pria tua tiu, kemana anak-anaknya hingga membiarkan seroang kakek yang seharusnya beristirahat dirumah dimasa tua malah garus banting tulang untuk hidupnya.
"Mau beli tisunya nak?" tanya sang kake dengan suara yang lirih.
"ya, saya beli satu, " balas fedrick.
Pria itu kelihgatan bahagia dan hampir menangis haru. "terimakasih, kamu adalah pembeli pertama saya hari ini," ucapnya bahagia sambil memberikan tisu pada Fedrick.
Dengan cepat Fedrick lalu merogoh kantung celananya karena tak memiliki waktu yang banyak, pasalanya lampu akan segera berwarna hijau.
Fedrick mebgeluarkanb beberapa lembar uang seratus ribuan dan memberikannya pada kakek tersebut.
"Ini kelebihan," tolak sang kakek namun Fedrick tak menanggapi sang kakek dan kini menatap lurus kedepan, hingga bebrapa detik kemudian lampu berwarna hijau Fedrcik lalu melajukan motornya.
Sang kakek juga langsung meminggirkan dirinya. Menatap ke arah motor Fedrick yang semakin menjauh. Terimakasih Ya tuhan, Semoga berkat Tuhan selalu bersama anak muda itu," doa kakek penuh syukur.
__ADS_1
Tak beberapa lama akhirnya Fedrick samapi di pekarangan rumahnyaa. Dia melihat jika ada beberpa mobil disana ternaasuk mili si sulung.
"Dia ada driuam?' tanya nya padaa dirinya sendiri.
"Aku pulang," seru Fedrick datar saat memasuki rumah dan disambut oleh Sania.
Wanita itu terlihat menebar senyum nya kearah Fedrick yang tak bereaksi apa-apa.
"kau pasti lelah, makanlah, tane udah buatin makanan untuk kamu," ucap Sani. Menyebut dirinya ssebagai tante karena biasnya Fedrick memanggilnya seperti itu sama dengan Athan.
Sania dapat mengerti dan memakluminya, memang tak mudah untuk menerima orang baru.
"Dimana daddy?" tanya Fedrcik tak menghiraukan ucapan Sania yang mengajaknya untuk makan.
Sejujurnya dia masih enggan dan belum menerima Sania dan Intan masuk kedalam keluarganya meski kedua wanita itu terlihgat baiuk dan tak memiliki niat buruk untuk keluarganya.
"Ada apa mencariku?" tanya Fathan yang tiba-tiba datang lalu memberikan sneyum indahgnya pda Sania.
Fedrick mengeryitkan keningnya saat fathan malah bertanya padanya, padahal sudah jelas-jelas pria itu yang menyurnhnya untuk segera pulang.
"Daddy yang meintaku unutk pulang, kenapa malah bertanya balik?"
"Memangnya suatu kesalahan, saat orang tua menuruh anak nya untuk pulang," tandas Fathan yang membuat Fedrick memutar bola matanya malas.
"Sudahlah, aku mau pergi saja kalo begitu, membuang waktu saja," pungkas Fedrci kesal. Jika tau begitu dai tidak akan kemari. dia pikir ada suatu hal yang penting dan mendesak.
Saat Fedrcik hendal berbalik untuk pergi, fathan langsung mencegahnya. Hei, siapa yang menyuruh mu untuk pulang , Kemari!"
Fedrick berdecak. "Apa lagi?" tanya fedrick yang tak suka menunggu terlalu lama.
__ADS_1
"Apa kau tak mendengarkan apa yang dikatakan oleh Sania tadi! kau makanlah. Jangan membuat usaha nya menajdi sia-sia. Sania sudh berusaha semaksimal mungkin utnuk membuat kan makanan siang untukmu," jelas Fathanm sedangkan Sania diam medengarkan kedua orang itu berbicara seraya menunggu tanggapan dari fedrcik selanjutnya.
"Untuk apa repot-repot, aku sama sekali tak memintanya," ketus Fedrick.
"Fedrick! bisakah kau menghargai orang lain sedikit saja," peringat Fathan pada Fedrcik apalagi saat melihat wajah Sania yang terlihat kecewa karena mendapatkan penolakan dari Fedrick.
"Bela saja terus wanita itu! kenapa daddy hanya memperhatikannya saja, dai ahnya orang asing yang tiba-tiba datang seperti paraasit!!' desis Fedrcik yang tanpa sadar membuat hati Sania berdenyut sakit mendengarnya
"Fedrick!" ucap Fathan dengan nada yang rendah menandakan dia sedang menahan amarahya. Sepertinya mereka akan berakhir bertengkar hebat seperti terakhir kali.
"Apa? kau mau memukuku kembali? iya? silahkan," tantang Fedrick.
Sania menahan pergerakan Fathan yang sepertinya hendak memenuhi permintaan dari Fedrick.
"Jangan," lirih Sania sambil menggelengkan kepalanya. Dia tak ingin fedrick semakin membeci dirinya.
Fathan menghela nafas, untung saja Sania dengan sigap memperingatkannya.
"Aku anggap kau tak pernah mengatakan hal itu," ucap fathaan.
Fedrick tersneyum sinis,hanya karena Sania mengatakan jangan, pria itu dengan sangat mudah sekali menurut. Bisakah dia iri terhadap Sania, Fathan begitu takut jika Sania sakit hati seakan tak mau jika wanita itu rapuh.Fathan begitu menjaga perasaan wanita itu tanpa pernah mengerti akan bagaimana perasaanya sebagai putra dari pria itu.
Fathan saja tak pernah membela nya sedemikian rupa. Entahlah mengapa Fathan bisa dengan cepat mrubah sikapnya pada kedua wanita itu. Sikap yang tak pernah duntjukkna pada nya dan abang serta adiknya Mark.
Fedrcik benar-benar iri melihat kedekatan Fathan dengan Sania dan juga Intan. Pria tiu bisa dengan mudah akrab dengan keduanya. Menunjukkan kasih sayang ayah pada Intan yang bahkan dia tak pernah dapatkan dari Fathan.
Dia selalu bertanya dalam hati, mengapa Fathan juga tak bisa memebrikan kasih syang itu padanya dan ketiga saudarnya, mengapa hanya untuk Intan saja. Itulah yang membuat fedrcik tak menyukai intan dan Sania.
Andai saja Fathan bisa adil dan memperhatikannya juga, pasti dia akan menerima kehadiran dua wanita yang sekarang telah dicintai oleh Fathan lebih dari anak kandungnya sendiri.
__ADS_1