
"Aya,"
"Jawab sayang," ucap Steven dengan nada yang rendah. Mencoba untuk bersabar menanti jawaban dari sang kekasih.
"Maaf, aku ingin memberi tahumu saat aku akan pergi. Daddy sudah merencanakan ini Stev, dad ingin aku sekolah di luar negeri,"
"Sejak kapan Daddy Arsen bilang ke kamu?" tanya Steven.
"2 bulan yang lalu," jawab Ayyara.
"Apa yang lain tau, atau cuma aku yang gak tau," tekan Steven. Sungguh dia tidak terima jika Ayyara pergi ke luar negeri.
Rasanya Steven tidak akan sanggup akan hal itu.
"Ga ada yang tau, aku belum kaish tau sama siapapun," balas Ayyara dengan jujur. Ayyara yakin jika sahabat nya juga pasti akan kaget mendapatkan kabar itu.
"Jadi, kamu beneran mau pergi? kamu mau sekolah disana?" tanya Steven.
"Aku sebenarnya mau disini Steven, barengan sama kamu, Intan dan Jesi. Tapi kamu tau kan kalo Daddy itu gak bisa dibantah. Ingat Stev, Daddy masih belum setuju akan hubungan kita ini," ucap Ayyara mengehela nafas.
Melelahkan rasanya jika harus bersembunyi-sembunyi jika ingin bertemu dengan Steven.
"Oke," ucap Steven dengan singkat, berbeda dengan otak ya yang tengah berpikir. Hanya Steven dan Tuhan saja yang tahu.
Ayyara mengernyit kan Kening nya saat Steven tidak ingin mengomentari lebih jauh lagi.
"Kamu marah stev?" tanya nya dengan hati-hati.
"Apa aku bisa? aku tidak bisa menghalangi jika itu adalah untuk masa depan mu. Kau yang memilih. Aku tidak berhak karena aku hanya pacar mu saja," ucap Steven.
"Ayo ke kelas," ucap Steven yang berjalan terlebih dahulu.
Ayyara memandang Steven yang tetap melanjutkan jalan nya dan bahkan sama sekali tidak menoleh ke arah nya lagi.
__ADS_1
Pria itu juga langsung mengambil jalur ke kelas nya. Tidak seperti biasa nya yang akan selalu mengantar kan diri nya .
"Steven pasti kecewa right." cicit nya.
Ayyara mengerti akan hal itu, dia akan memberikan waktu untuk Steven.
Bukan nist untuk merahasiakan soal kepergian nya. Hanya saja Ayyara perlu melakukan itu karena takut akan seperti ini jadi nya. Steven seperti menjauh dari nya.
Padahal Ayyara ingin di waktu yang hanya tinggal sedikit di Indonesia bisa menghabiskan lebih banyak waktu lagi bersama dengan pria itu.
Dengan lesu Ayyara akhir nya masuk ke dalam kelas nya.
"Lesu banget, mana ayank mu? tumben gak masuk," ucap Marcel melihat Ayyara
"Hooh, Steven kemana Aya? gue juga mau ada yang mau diomongin sama tuh anak. Dari tadi gue cariin gak ketemu kirain gue bareng lu," ujar Daffa.
Ayyara menggeleng pelan dan langsung menghampiri Intan dan Jesi.
"Kenapa Aya?" tanya Jesi yang peka saat melihat wajah gadis itu yang terlihat sangat suram.
Intan yang mendengar obrolan di sekitar nya langsung membuka mata nya.
"Iyakah, Aya berantem sama Steven? karena apa lagi?" tanya Intan.
"Yah begitulah, bukan masalah besae kok guys," ucap Ayyara berusaha tersenyum.
,"Don't lie," peringat Jesi.
"I'm okayyy,"
"Yaudah, kalo ada apa-apa pokok nya Aya harus langsung bilang," ucap Intan kembali memejamkan mata nya.
"Dasar kebo," ucap Jesi.
__ADS_1
"Intan ngsntuk Jesi," ucap Intan
"Sama Ntan, mending kita turu. Untung aja guru nya belum dateng. Moga aja jam kosong," sahut Ayara yang ikutan tidur.
"Lah malah jadi pada tidur," Jesi menggeleng -gelengkan kepala nya.
Suasana kelas itu menjadi ricuh saat guru belum masuk ke dalam kelas. Ada yang merumpi, tidur dan lain sebagainya.
Daffa awal nya ingin memanggil guru tapi dia urung kan, karena dia menginginkan break.
"Guys, jangan terllau berisik supaya tidak ada guru yang kemari. Pelankan suara kalian. Aku sedang berbaik hati hari ini," ucap ketua kelas tersebut.
"Mantep, gitu dong pak ketu sekali-kali. Siapa dh," seru mereka bersorak.
Jarang - Jarang Daffa seperti itu, maka mereka tidak akan melewatkan kesempatan yang telah di berikan.
"Buset berisik banget nih kelas," ucap Mark yang baru saja masuk.
"Euy Mark," sapa Marcel.
"Yo,"
Mata Mark beralih ke arah tiga wanita yang tengah sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing
"Intan tidur? tanya nya pada Jesi yang sedang memainkan ponsel nya.
Jesi menoleh," iya, nagntuk katanya,"
Mark segera menarik kursi agar dekat dengan posisi Intan.
Pria itu menatap wajah Intan yang begitu damai ketika tertidur. Wajah orang yang sudah menjadi adik nya sekarang.
Mark mengulurkan tangan nya untuk bisa mengelus kepala gadis itu dengan pelan.
__ADS_1
TBC
TBC