
"Bukankah yang aku katakan tadi benar? tante seeperti parasit dirumah ini, dan yah apa tante tidak malu tinggal di rumah pria tanpa ada hubungan jelas sama sekali! bagaimana bisa tante malkukan hal tiu. Coba bayangkan jika orang-orang tau, pasti mereka berpikir hal yang sama denganku, jika tante adalah wanita penggoda," desis Fedrick panjang lebar dan kasar tanpa memperdulikan perasaan Sania yang mendengarnya.
Nafas Fathan memburu mendengarnya, sungguh kali ini ucapan Fedrcik sudah sanagt keterluan dan lebih parah daripada yang terakhir kali. Fathan sudah tak dapat mengontrol emosinya, kata-kata yang dilontarkan oleh Fedrick sudah terlalu kasar untuk didengar kan.
"Fedrick! jangan menguji kesabaran daddy," desis Fathan dengan geram hingga gigi Fathan bergemelatuk sangking marahnya dia.
"Aku tidak peduli," jawan Fedrcik singkat dengan wajah datar.
Dan cukup sudah, fathan tak bisa menahan amarahnya lagi, hilang sudah rasa kesabaran nya yang memang sudah menipis sejak awal.
pria itu kini dengan kasar menarik baju Fedrick dan membawanya keruangan khusus miliknya. Ruangan yang sudah jarang dia kunjungi.
Sudah sejak lama dia tak kesana dan seoertinya fedrick perlu diberikan pelajaraan.
Fedrick menurut saja saat dirinya ditarik dengan begitu kasar bahkan tak melakukan perlawanan sama sekali. Dia tau dirinya akan berakhir seperti apa. Fathan pasti akan menghajarnya habis-habisan jika sudah membawa dirinya ke dalam ruangan khusus milik pria itu.
Fedrick tersenyum miris, dia baru saja membuktikan jika Fathan memang lebih menyayngi orang asing yang baru dikenalnya daripada dirinya. Pria itu bahkan menghukumnya hanya untuk wanita itu. Kebencian Fedrcik menjadi lebih besar kepadaa mereka.
Rencana demi rencana untuk menjauhkan kedunya serta bagaimana cara agar Fathan membenci kedua wanita itu kini terpikir dalam otaknya.
Dia ingin Agara Fathan membenci kedua wanita tersebut, Fedrick sangat menantikan hal itu agar segera datang.
Sedangkan Sania masih berdiri ditempatnya, merenungi kata demi kata yang dilontarkan oleh Fedrick kepadanya.
Air mata Sania tak terasa membasahi pipinya. Dapat dia lihat kebencian yang begitu kentara di mata Fedrcik padanya.
Ucapan itu sepertinya keluar dari hati yang terdalam Fedrick, jika dipikir-pikir ada benarnya apa yang diakatakan oleh fedrick. Dia kini menggatungkan dirinya pada Fathan seperti parasit setelah kehilangan rumahnya. Walaupun memang pria itu yang meminta dan memaksanya untuk tinggal di sana.
Tapi, Sania sama sekali tak meyukai kalimat Fedrick yang mengatakan jika dirinya adalah wanita penggoda, dia tak pernah merasa mejadi wanita yang seperti itu. Dia tak pernah menggoda Fathan.
__ADS_1
Sania menatap sendu makanan yang sudah tertera di meja. Padahal niatnya untuk menjadi dekat dengan Fedrick, namun yang terjadi malah sebaliknya. Malah hubungan mereka semakin merenggang kini.
Sania mengusap wajahnya kasar, lalu menarik nafasnya dalam untuk meredakan hatinya yang berdenyut sakit. Hatinya menjadi perih saat masih terekam jelas bagaimana Fedrick mengatakan hal itu tepat didepan wajah nya.
"Aku dan Intan harus pergi dari sini, ini memang bukan tempatku," ucap sania menyadarkan diri nya sendiri.
Sania kini memutar matanya menjelajahi rumah Fathan tapi dia tak mendengar suara Fathan dan juga fedrik. Dan pada akhirnya sania langsung menuju kekamar milik pria itu.
Sania akhirnya tanpa pikir panjang lagi segera bergegas membereskan smeua barang-baranya lalu berpindah kekamar yang ditempati oleh Intan dan mengemas semua barang Intan juga.
Sania harus bisa bangkit kembali, ini bukan pertama kalinya. Saat kepergian suaminya dia bisa menjalani hidupnya bersama dengan Intan dan kali ini juga dirinyaa pasti bisa kembali.
Sebelum Fathan kembali, Sania berpikir untuk segera pergi karena Fathan pasti menahnnya. Sudah cukup dengan keluarga ini. dia tak mau mengghacrukan hubungan antara anak dan ayah itu.
Fedrik benar, dia hanyalah orang asing. tak seharusnya dia berada disini.
Sania menulis beberpa patah kata dalam surat agar Fathan tak lagi menemuinya setelah ini, tak lupa juga dia mngeucapkan terimakasih yang sangat banyak karena Fathan sudah membantunya selama ini dan juga mmberikan kasih sayang pada Intan.
Sania memesan grab car dan pada akhirnya dia meninggalkan istana milik fatham.
"Aku harus pergi kemana," gumamnya. Rumahnya sudah terbakar dan dia sama sekali tak memiliki rumah. Akan tinnggal dimana dirinya dengan Intan.
Sania mengigiut jarinya. Untung saja hasil dari dia bekerja di toko kue milik Fathan lumayan banyak karena Fatahn meberikan gaji yang lumayan tinggi untuknya.
"Aku harus cari kotrakan yang murah," gumam Sania.
***
"Tuan," ucap bodyguard milik Fathan yang msuk tanpa permisi kedalam ruangan kerja Fathan yang mana disana masih ada Athan dan juga Alaric.
__ADS_1
Keduanya terkejut saat bodyguar yang bernama Alex tersebut membanting pintu dengan kasar serta dengan wajah yang terlihat panik.
"Dimana sopan santunmu? apa kau mau dipecat hah! desis Athan padaa Alex. Bisa-bisanya pria itu tak mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Ma--af kan saya tua,"cicit Alex takut melihat Athan yang seperti hendak memakannya.
"Katakan ada apa? tanya Alaric dengan nada yang tenang. pasti ada hal yang serius pikirnya,apalagi melihat raut wajah pria itu yang terlihat panik.
"Tuan Fedrci sekarang tengah dihukum diruangan khusu muilik tuan Fathan , saya melihat tuan Fathan menyeret tuan Fedrick dengan kasar dan Tuan Fathan terlihat sangat marah," ucap Alex dengan satu tarikan napas.
"Apa? apa yang dilakukan oleh Fedrcik sampai Fathan membawanya kedalam sana," ucap Alaric.
Alarci juga tentu saja tau, ruangan apa yang sedang dibahas oleh Alex, karena fathan pernah menujukkan ruangan itu padanya.
Ruangan itu untuk prang yang berkhianat padanya, Fathan akan menghajar mereka disana. Alaric lah saksinya saat ada seorang bodyguar yang menghoianatinya dan dengan habis-habisan Fathan menghajar orang tiu sampai masuk rumah skait.
Karena fathan menggunakan alat saat memberikan pelajaran.
Athan melirik ke arah Alaric yang kini juga ikut menatapnya. 'Alex, kau pergilah<' ucap Alaric.
Alex mengangguk mengerti dan membiarkan keduanya dalam ruangaan itu.
Athan mengusap wajahnya dengan kasar, belum selesai masalah yang satu kini muncul lagi masalah yang baru.
"Ayo kesana, aku takut Daddy mu hilang kendali dan tak bisa mengontrol dirinya. Jangan sampai Fedrik mati," ucap Alaric takut dan merinding mengingat bagaimana Fathan saat menghajar orang yang mengkhianatinya.
Begitu brutal dan tak memberikan ampun sama sekali.
"Hem," gumam Athan menurut mengikuti langkah kaki Alaric menuju ruangan tersebut.
__ADS_1
Sungguh, apa yang sudah dilakukan oleh Fedrick sampai bisa membuat Fathan menjadi semarah itu pada adiknya.