
Athan merebut cemilan milik Mark dengan tenang. Lalu memakan nya tanpa dosa seraya mengangkat kaki nya ke meja.
"Bang, itu punya gue, itu ada banyak ambil ya itu kenapa dah," ucap Mark. Padahal dia lagi enak-enak nya makan cemilan nya.
"Yaudah lo aja yang ambil yang itu," balas Athan dengan enteng.
Mark hanya bisa menghela nafas nya saja. Dia tak mungkin kembali merampas cemilan itu yang hanya akan membuat keributan.
"So, kalian mau ngomong apa, seperti nya serius," ucap Athan meletakkan cemilan nya kembali dan menurunkan kaki nya.
"Ini tentang mommy dan Intan," ucap Vandra menjelaskan.
"Ah iya, aku belum melihat Intan, apa dia sudah tidur? seperti nya begitu ini sudah jam 12 malam," ucap Athan mengecek jam yang dinding besar yang berada di ruang keluarga.
"Entahlah, aku juga tidak tahu dia sudah tidur atau belum," lirih Mark yang biasa akan selalu mengecek Intan di kamar nya sebelum dia tidur. Sekarang dia telah kehilangan rutinitas nya yang satu itu.
Athan mengernyit kan kepala nya. " Mengapa bisa begitu. Apa dia begadang?" tanya Athan yang hendak mengecek.
"Gak usah bang, Intan udah gak tinggal disini," ucap Vandra yang berhasil menghentikan pergerakan Athan.
"Apa maksud mu, dia menginap lagi di rumah teman nya? apa dia tak memberitahu kalian? gadis itu kebiasaan sekali," geram Athan.
Athan tidak suka sikap Intan yang satu ini. Gadis kecil itu selalu terlambat, Bahkan terkadang mendadak membuat Athan risau. Pria itu tak sempat untuk bertanya dan memeriksa sendiri bagaimana teman-teman Intan dan di rumah siapa di akan menginap.
Karena Intan akan selalu memberi tahu kan pada nya jika sudah berada di rumah teman nya. Menjengkelkan sekali.
"Gak gitu bang! mereka memang udah tidak tinggal disini!!" ucap Mark sedikit berteriak.
"Tidak tinggal disini?" bingung Athan.
"Iya, mereka udah pergi bang, mereka udah pergi," sedih Mark dengan wajah sendu nya.
"Mengapa mereka bisa pergi? kapan mereka pergi?" tanya Athan dengan wajah tegang nya.
"Aku tidak tau, kata bodyguard yang menjaga ruangan Daddy. Mereka melihat mom dan Intan pergi dari rumah . Bahkan semua barang dan baju mereka sudah tak ada di kamar," jelas Vandra dengan panjang lebar.
"Daddy tau akan hal ini ya, mengapa dia membiarkan nya," desis Athan.
"Kita cek CCTV rumah," ucap Athan pada kedua adik nya. Pria itu lalu mengambil laptop yang terhubung dengan cctv rumah.
Mark dan Vandra saling melirik, menepuk jidat nya masing-masing karena baru terpikir kan akan hal itu.
__ADS_1
"Goblok, kenapa gak dari tadi," ucap Mark mengetuk kepala nya sendiri.
"Hahaha nyadar juga lu kalo goblok," tawa Vandra pecah mendengar penuturan dari Mark.
"Nyenyenye," balas Mark.
"Bisakah kalian diam," ucap Athan yang kini fokus mengecek cctv.
"Tanggal berapa mereka pergi lebih tepatnya,"
"Heum tadi pagi," ucap Mark.
Athan mengangguk dan mengecek Cctv tadi pagi. Rumah memang mereka sudah sejak lama di fasilitasi oleh Cctv kecuali kamar. Untuk ruangan itu bebas karena privasi tentu nya.
Ke tiganya kini terdiam seraya menyimak apa yang terjadi.
"Ah liat yang ini bang, Daddy keluar dari kamar itu. Kamar tempat mommy dikurung. Yang gue bilang tadi ke elu bang," ucap Mark pada Vandra.
Vandra mengangguk, ternyata Daddy nya sampai segitunya untuk menahan Sania.
"Daddy kelihatan marah banget keluar dari sana bang," ucap Mark.
Hingga beberapa lama keluar lah Intan dan Sania dari kamar itu juga dan langsung menuju ke pintu depan yang semua perlengkapan mereka sudah disiapkan oleh pelayan rumah.
"Itu mereka dianterin sama supir Daddy bang, kita bisa tanyakan mereka. Mom dan Sania tinggal dimana," seru Mark antusias. Akhirnya dia bisa menemukan titik terang.
Vandra berdecak kecil. Bukan nya dia tak senang mengetahui itu. Hanya saja ini sudah malam dan pasti sudah pada tidur. Lagipula masih ada hari esok untuk mencari.
"Besok aja deh gue bilang, lagian lu bakal ketemu Intan di sekolah kan, apa yang lu khawatirin coba. Jangan terlalu berlebihan, gue tau lu sayang sama mereka dan gue juga. Tapi gak kayak gini juga, lu udah kayak dikejar-kejar apaan gue liat," ucap Vandra yang tidak terlalu memusingkan nya.
Lagipula dia sangat yakin jika Fathan tak mungkin tidak mengawasi mereka.
"Tapi kan bang,"
"Itu tuh, tadi kan lu liat supir Daddy yang anter mereka. Berarti Daddy juga udah tau Mom dan Intan tinggal nya dimana. Lu mikir deh, gak mungkin kan Daddy biarin gitu aja, secara Daddy juga sesayang itu sama mereka," ucap Vandra memberikan pengertian.
"Iya juga sih," gumam Mark. Dia kan masih bertemu dengan Intan si sekolah besok.
"Eh, tapi kalo Intan pindah sekolah gimana bang," ucap Mark memelotot kan mata nya.
"Huft, dia itu udah kelas 12, tanggung amat mau pindah. Mommy juga pasti memikirkan hal itu. Emang gampang kali ngurus pindah sekolah itu," ucap Vandra.
__ADS_1
"Iya juga ya," ucap Mark.
Sungguh Vandra benar-benar kesal sekarang. Sekali lagi sebuah bantal berhasil dia daratkan di wajah Mark.
"**** you," umpat Mark seraya meninggalkan Vandra sendirian.
"**** you too," teriak Vandra.
Athan sekarang sudah berada di depan ruangan Athan. Benar kata Mark jika ruangan kerja sang Daddy dijaga oleh bodyguard.
"Bukakan Pintu nya," ucap Athan.
"Tidak bisa--
Bug
Satu tinjuan mentah mendarat di wajah sang bodyguard.
"Saya bilang buka pintu nya," ucap Athan dengan nada yang menyeramkan. Pertanda pria itu tak suka dibantah dan tau mendengar kan penolakan lain nya.
Karena takut Bodyguard tersebut akhirnya mengangguk kecil.
"Tunggu sebentar tuan, saya akan bicara dulu pada tuan," ucap Bodyguard itu dengan cepat lalu masuk dan langsung mengunci pintu nya dari dalam.
Salah satu bodyguard yang tinggal di luar bersama dengan Athan kian menunduk karena mendapat kan tatapan tajam dari Athan.
"Tuan,"
Panggil Bodyguard yang sudah masuk ke dalam ruangan kerja milik Fathan.
Namun tak menemukan sang tuan di dalam sana sampai mata nya menangkap ke arah luar dan melihat balkon kamar yang terbuka.
melangkah dengan pelan dan hati-hati sampai dia melihat Fathan yang kini berdiri menatap ke arah luar.
"Tuan," panggil nya dengan hati-hati.
Fathan menoleh dan menatap nya dengan tajam membuat bodyguard tersebut menunduk kan kepala nya.
"Maaf tuan, tuan muda Athan memaksa ingin masuk untuk menemui Anda," ucap Bodyguard tersebut seraya menahan rasa sakit di sudut bibir nya akibat pukulan dari Athan yang cukup kuat.
"Biarkan dia masuk," ucap Fathan.
__ADS_1
"Baik tuan," ucap sang bodyguard langsung mengacir pergi.
TBC