
"Kok kamu diem aja sih," ucap Ayyara pada pria yang sedang di hadapan nya ini.
Yah Ayyara berhasil membawa Steven untuk ikut bersama nya dengan susah payah karena pria itu berkeras tidak ingin mengikuti nya tadi.
Dan sekarang mereka berada di lorong gudang sekolah yang sepi dan tentu nya jarang siswa yang melewati lorong tersebut.
Steven mengantungi ke dua tangan nya dan tetap memandang datar ke arah Ayyara.
Pria itu terlihat menarik nafas sebentar sebelum mengatakan hal apa yang ingin di katakan nya pada Ayyara.
"Ayo putus," ucap nya.
Ayyara terdiam mendengar penuturan dari Steven. Dia berharap dia salah mendengar.
"Kau tidak salah mendengar," ucap Steven yang mengerti.
Ayyara tertawa kecil. "Putus! no, kamu pasti bercanda kan, kamu mau ngeprank aku yah," ucap Ayyara tidak terima diputus kan secara sepihak.
"Terserah apa katamu, mulai sekarang kita tidak memiliki hubungan apapun." tekan Steven.
"Tapi mengapa Steven, kita harus membicarakan nya dengan baik-baik seperti yang selalu kamu bilang. Komunikasi!" ujar Ayyara dengan nafas yang memburu.
"Sungguh kau ingin mengetahui alasan nya?"
"Tentu saja, kau mengajak ku untuk putus tanpa aku tau apa yang menyebabkan mu melakukan nya."
"Steven," Ayyara meraih tangan pria itu.
"Jika aku ada salah, aku minta maaf. Aku gak mau putus dari kamu," ucap Ayyara dengan serius dan wajah yang memelas.
Steven melepaskan tangan Ayyara dengan pelan dan menatap telak ke arah mata Ayyara.
"Kamu gak salah Aya, bener kata Daddy kamu. Kamu harus fokus sama masa depan kamu di banding bersama dengan pria brengsek seperti ku. Aku anak yang nakal, suka bolos, ikut geng motor, dan mabuk-mabukan,"
"Aku tidak perduli Steven, aku cuma mau kamu," ucap Ayyara lagi.
"No, kita hanya sampai disini saja Ayyara," kekeh Steven.
"Aku masih belum terima jika hanya itu alasan kamu, kamu kerja bilang ke aku apapun alasan nya dan siapa yang menghalangi hubungan kita bahkan Daddy sendiri, kamu bilang gak bakalan nyerah stev, you liers," ucap Ayyara yang terdengar putus asa.
"Yes i'm,"
"Gak bisa gitu dong, aku gak setuju. Ini cuma keputusan sepihak kamu dan aku tetap gak mau putus Steven," ucap Ayyara yang tak mau mengalah.
"Kamu boleh menganggapnya begitu tapi yang jelas kita sudah berakhir," ucap Steven kembali.
__ADS_1
"Stev, apa gara-gara aku mau ke Australia kamu jadi mutusin aku," ucap Ayyara dengan nada sendu.
Steven mengangguk kecil," aku sudah memikirkan ini beberapa ini, kamu benar itu adalah salah satu alasan nya. Aku tidak bisa menjalani hubungan jarak jauh, maaf Aya," ucap Steven langsung pergi tanpa mendengar kan Ayyara lagi.
"Steven," panggil Ayyara saat melihat kepergian lelaki itu.
"Steven tunggu!" ucap Ayyara yang tak dihiraukan oleh Steven.
Ayyara menahan sesak di dadanya. Hubungan mereka pada akhirnya berakhir begitu saja.
Entahlah, Ayyara merasa tidak rela dan sakit rasanya menerima kenyataan harus berpisah dengan Steven.
Tapi bagaimana dia akan melanjutkan hubungan ini di saat pria yang ingin dia pertahankan tak ingin bersama nya lagi.
"Aku gak mau putus hiks, Steven bohong. Katanya pengen nikah nya sama Aya aja tapi sekarang," Ujar Ayyara sambil memegang dada nya karena sesak di hati nya.
***
"Yah bang telat ini kita, ish Intan bisa dihukum kalo kayak gini," Rajuk Intan pada Mark.
"Iya tapi kan hujan sayang, daripada kita basah gimana. Abang gak bawa jas hujan, mana tau Abang bakalan hujan begini,"
"Iya sih bang, tapi kayaknya kita bakalan telat deh," ucap Intan yang melirik jam nya.
"Udah gapapa, entar Abang yang jawab guru nya. Lagipula pasti maklum lah orang hujan begini. Lagipula kan entar juga gak baris masih sempat deh kayaknya, " ucap Mark.
"Eh gak usah bang, abang aja yang pake. Abang kan yang bawa motor nya," tolak Intan dan memberikan jaket tersebut ke Mark kembali.
"Ya gapapa dek, dingin," ucap Mark tetap kekeh. Mau tak mau Intan akhirnya menerima jaket tersebut.
"Yaudah deh kalo Abang maksa, makasih yah bang," ucap Intan mengeratkan jaket di tubuh nya.
"Iya, kita tunggu bentar lagi yah, agak redaan dikit baru kita lanjut jalan," ucap Mark.
Intan mengangguk hingga dia melihat seorang tukang bakso yang melintas dan berteduh di tempat mereka bekerja berada.
Mark yang peka langsung saja memanggil tukang bakso tersebut.
"Bang baksonya dua yah, jangan pedes," pesan nya.
"Abang makan bakso pagi-pagi,"
"Iyah, enak tau apalagi hujan-hujan begini behh mantep deh. Kamu gak mau emang?" tanya Mark.
"Mau, mau, heran aja. Waktu itu di sekolah Abang kan mara sama Intan gara-gara makan bakso pagi-pagi," ingat Intan.
__ADS_1
"Yah itu kan beda, itu kamu udah gak makan pagi terus pedas lagi," ucap Mark . Dia Banga tidak ingin Intan sakit perut hanya itu saja.
Bukan berarti dia melarang apa yang di inginkan oleh Intan. Jika itu tidak baik maka Mark tidak akan memberikan nya.
"Ini bakso nya ," ucap tukang bakso tersebut.
"Makasih bang," ucap Mark dan memberikan satu pada Intan.
"Wuhh, bener kata Abang. Intan baru liat aja udah ngiler. kalo pedes pasti enak," ucap Intan sambil menghirup aroma bakso nya tanpa menyadari apa yang sudah dia katakan tadi.
"Iya kan bang," ucap Intan menoleh dan dirinya terkejut saat Mark memandang nya dengan datar.
Intan akhirnya menyadari apa yang dia katakan dan tertawa jenaka.
"Heheh gak kok bang, pedes kan bikin perut sakit nantinya. Maksud Intan bakso nya pasti enak," jelas Intan Kembali.
"Hemm, yaudah gih makan," ucap Mark.
Intan mengangguk kecil dan memakan bakso milik nya diikuti oleh Mark juga.
Pria itu tersenyum kecil melihat Intan yang terlihat menyukai bakso tersebut terlihat dari cara Intan memakan nya.
Hanya dengan cara sederhana seperti ini, sudah membuat gadis itu bahagia.
Mark senang karena dia bisa membuat Intan merasa senang.
"Makan yang banyak, biar cepet gede," ucap Mark.
Mata Intan mendelik," Intens kan udah gede bang," ucap nya.
"Mana ada, orang masih pendek," jahil Mark.
Intan menggembungkan pipi nya. Dia tidak suka saat dikatakan pendek meski fakta nya memang begitu.
"Abang menyebalkan," ucap Intan menatap sinis ke arah Mark.
"Yeuu, gitu aja ngambek," ejek Mark lalu melanjutkan makan nya.
"Intan mau lagi bang,"
"Buset, lapar apa doyan kamu," ucap Mark melirik mangkok Intan yang tinggal kuah nya saja.
"Ya kan biar cepet gede," ucap Intan ketus.
"Iya tuan putri," ucap Mark.
__ADS_1
TBC