Possesive Man

Possesive Man
Part 73


__ADS_3

"Ini jalan rumah kemana sih, dari tadi kok gak nyampe nyampe gini. Malah jadi muter-muter," ucap Athan yang pusing.


Dia baru menyadari jika sudah memutar dia kali jalan yang sama. Dia juga merasa aneh karena mereka sudah lama menghabiskan waktu di jalan. Hampir satu jam lebih tidak sampai - Sampai ke rumah Sophie.


Athan akhirnya meminggirkan mobil nya di jalanan yang cukup sepi dan menghentikan nya.


"Kau mempermainkan ku!" tanya Athan dengan datar. Pria itu padahal sudah sangat lelah berharap bisa langsung tidur di rumah.


Dia menyempatkan dan berbaik hati untuk menolong gadis itu tapi malah diperlakukan seperti ini. Ingin sekali rasanya dia berteriak. Untung saja orang yang disamping nya adalah seorang wanita jika tidak bisa dia pastikan Athan akan memberikan nya pelajaran.


Sophie meneguk ludah nya dengan kasar. Lidah nya terasa kelu untuk mengucap ka sepatah kata. Nada berat dan datar yang dikeluarkan oleh Athan terasa seperti orang yang teramat kesal.


"Maaf," cicit nya dengan pelan. Keberanian nya entah pergi ke mana. Dia bahkan tak berani untuk menatap pria itu sekarang.


Sophie memang sengaja melakukan nya, gadis itu memberikan arahan yang lumayan jauh dari rumah nya dan memutar dengan tujuan agar bisa lebih lama bersama dengan Athan.


"Huft, tunjukkan jalan yang benar!" desis Athan dengan nada dingin dan geram.


Sophie dengan cepat mengangguk - anggukan kepala nya. Tak ingin membuat Athan semakin marah dengan nya. Karena tujuan awal nya bukan lah itu, dia hanya ingin dekat dengan Athan.


Sophie tak mau karena kejadian ini hubungan nya dengan Athan menjadi renggang. Dia sudah berusaha dengan keras untuk bisa seperti ini dengan Athan.


"Sudah sampai, kau bisa turun," ucap Athan tanpa melihat ke arah Sophie.


"Apa dokter tidak mau mampir dulu?" tanya Sophie pada pria itu.


"Tidak, aku tidak punya waktu dan waktuku sekarang terbuang sia-sia," ucap Athan menyindir Sophie.


"Maaf dok," ucap Sophie.


"Heum, jangan ulangi." ucap Athan pada akhirnya. Mau bagaimana lagi, sudah terjadi. Tidak mungkin juga dia meninggal kan gadis itu di jalanan tadi.


"Terimakasih dan maaf sekali lagi ya dok, hati-hati di jalan," ucap Sophie melambai kan tangan nya yang diangguki oleh Athan lalu setelah nya meninggal kan pekarangan rumah Sophie.


Sophie melihat kepergian Athan sampai mobil nya tak terlihat.


Sophie memukul kecil kepala nya. "Bodoh, kau membuat dokter Athan marah," ucap nya.

__ADS_1


Tapi walaupun begitu, tak bisa di pungkiri jika Sophie merasa senang karena bisa pulang bareng dengan Athan.


"Besok aku harus memberi dia sesuatu sebagai permintaan maaf ku," gumam Sophie lalu masuk ke dalam kamar nya.


***


"Dasar gadis menyebalkan," ucap Athan mengingat Sophie yang mengerjai nya.


Athan bukan nya tidak tau jika gadis itu memiliki perasaan pada nya. Athan tentu tau dan dia sangat peka akan hal itu. Trik dan kelakuan nya terlihat sekali jika sedang mendekati Athan.


Apalagi tatapan nya yang begitu dalam dan selalu berbinar jika sedang menatap diri nya.


Sophie memang gadis yang cantik dan ramah serta baik dan Athan sangat mengakui hal itu. Selama bekerja dengan Sophie gadis itu juga selalu telaten dan perfeksionis. Sophie juga merupakan salah satu dokter anestesi terbaik si Venestria.


Tak mungkin jika tak ada yang mau dengan gadis itu. Athan yakin jika sangat banyak yang menyukai Sophie tapi itu bukanlah diri nya.


Athan tak ingin memberi harapan pada gadis itu. Disaat dia masih tak memiliki rasa yang begitu spesial untuk Sophie.


Ujung-ujungnya gadis itu yang akan merasakan sakit nanti nya.


"Hujan," gumam nya melihat tetes-tetes air yang membasahi jalanan dan juga mobil nya.


Seperti sekarang, pria itu kini sambil memutar musik kesukaan nya seraya menyetir. Jakarta sangat indah saat malam begini.


Setelah perjalanan yang cukup melelahkan di temani dengan light gedung di Jakarta, Athan sampai juga di rumah nya.


Athan merogoh ke kursi belakang untuk mencari payung karena hujan nya memang masih belum berhenti sampai sekarang.


"Bang," teriak Mark yang berada di depan pintu dengan baju tidur ala Mark.


Athan mengernyit kan dahinya, tumben sekali adik nya itu menunggu biasanya Sania lah yang menyambut kepulangan nya.


"Apa?" tanya Athan sambil merapikan payung yang di pakai nya tadi.


"Akhirnya Abang pulang juga, kok lama. Tadi kata nya di telpon bakalan langsung pulang. Udah nunggu lama juga," gerutu Mark yang kesal.


"Untuk apa kau menungguku, aku tak menyuruh mu untuk melakukan nya," ucap Athan yang tidak terima.

__ADS_1


Pria itu berjalan masuk ke dalam rumah diikuti oleh Mark.


"Heum, terus kau mau berbicara apa?" tanya Athan.


Dia sudah tau jika sudah mengekori nya seperti ini pasti ada hal yang ingin dibicarakan oleh pria itu.


"Itu bang, Abang bersihin dulu aja deh, gue nunggu di ruang keluarga sama bang Vandra," ucap Mark.


"Vandra juga? sebenarnya ada apa? kalian tidak membuat masalah baru kan?" tanya Athan dengan tatapan curiga.


"Kali ini gak bang, udah deh sono. Entar makin lama lagi nungguin nya," ucap Mark lalu berlalu dan meninggalkan Athan dengan pemikiran nya.


Athan lantas mengangguk dan mempercepat dirinya. Penasaran dengan kedua adik nya tersebut.


"Udah?" tanya Vandra saat melihat Mark yang kini sudah kembali duduk bersama dengan nya.


"Lagi mandi," jawab Mark sambil mengemil menunggu Athan.


"Udah gue bilang besok aja, kepala batu!" ucap Vandra yang tak habis pikir.


Dia kira Mark sudah tidur saat dia menyuruh Mark untuk ke kamar nya. Ternyata pria itu malah kembali datang ke kamar nya dengan mengetuk pintu nya dengan brutal.


Mark bilang dia tak akan bisa tenang jika tks tau keberadaan Intan dan Sania itulah sebab nya dia mengganggu Vandra kembali.


"Cuma bang Athan yang bisa ngomong sama Daddy dengan kepala dingin bang, kalo gue entar langsung ciut apa lagi lu gak guna dah," ungkap Mark dengan enteng nya.


Bug


Dengan kesal Vandra melempar kan batal ke arah Mark.


"Gue ini Abang lu yeh, gak sopan!" ucap Vandra. Sama Vandra Mark selalu berani tapi jika dengan Athan Mark akan langsung mundur hanya dengan tatapan elang pria itu saja.


"Liat tuh bang Athan, mukanya cape Banget. Lo tega amat dah belum lagi dia juga ikut ngurusin perusahaan. Seharusnya lu ngertiin dikit lah," jelas Vandra pada Mark.


Mark melirik ke arah Athan yang sudah bersih dan selesai mandi.


Vandra benar, raut wajah si sulung begitu terlihat kelelahan.

__ADS_1


Dia jadi merasa bersalah, tapi Mark benar-benar ingin tau alasan Sania dan Intan pergi dan mereka ada dimana. Hanya itu saja. Setidaknya nanti jika dia sudah tau, Mark bisa menjaga mereka dari jauh.


TBC


__ADS_2