Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 1 - Dia


__ADS_3

"QIANDRA KALYA SANTOSO!" terdengar namaku disebut dengan keras. Entah berapa oktaf suara yang dimilikinya, panggilan itu terdengar hingga keluar kelas. Aku tergopoh-gopoh memasuki ruangan. ******, hari ini dia sudah masuk.


NGEKK!!! Kubuka pintu itu perlahan. Semua mata tertuju padaku, tatapan paling dingin nan mengerikan tentulah mata yang ada di depan white board itu.


"JAM BERAPA INI?" ia berbicara sambil menyilangkan kedua tangan di dada. "Siapa nama kamu?" ia melihat absen pada layar laptop.


"Qi....ya, Pak...." jawabku.


"Kia? Kartu Identitas Anak? Kamu jangan bercanda ya!"


"Qiandra, Pak. Qiandra Kalya Santoso!"


"Baru saja namamu dipanggil tadi! Panjang umur sekali, ya!" ia melihatku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya sungguh mematikan, seperti predator di puncak rantai makanan. "Kamu niat kuliah nggak? Di sini kampus bukan mall! Kamu tahu aturan di mata kuliah saya? Dilarang memakai celana jeans, harus berpakaian formal. Apa-apaan ini kuliah kok pake hoodie dan celana jeans! Bukankah asisten dosen saya sudah memberikan pengumuman ketika di awal pertemuan pertama?" ia terus menatap dan menceramahiku.


Aku tak berani duduk, hanya berdiri di dekat pintu. NGEKK!! Pintu tiba-tiba terbuka.


"Permisi, Pak!" ucap sosok itu. Dia melihat ke arahku. Dia adalah Naren, pacarku.


"Oh, jadi sekarang virus kebucinan (budak cinta) sudah mencapai kelas saya ya? Ckckck!" ia melihat ke arah kami berdua. "Siapa namamu?" ia melihat ke layar laptop lagi.


"Naren, Pak...." jawab pacarku lirih.


"Aren? Gula aren? Jangan bercanda!" teriaknya.

__ADS_1


"Naren, Pak. Narendra Varell Wijaya." Naren menjawab sambil tertunduk.


Astaga, mimpi apa aku semalam sampai terlambat dan salah kostum di kelas dosen killer ini. Begonya lagi, aku dan Naren memakai hoodie merah maroon. Hoodie yang sengaja kami pesan kembar saat merayakan anniversary pacaran kami yang ke 4 tahun.


Kulihat sosok di depan kelas, benar kata kating (kakak tingkat), dia memang ganas seperti Tyranosaurus Rex atau T-Rex. Tak salah jika dijuluki Pak T-Rex. Prof. Dr. Brilliant Rexford Hutama, S. E., itulah nama yang tercantum di id card-nya. Dia sudah diangkat menjadi guru besar di usianya yang masih muda. Sebagian orang memanggilnya Pak Billy, atau Pak Rex, tetapi dikalangan mahasiswa dia dikenal dengan nama Pak T-Rex. Penampilannya kuno, dia memakai celana panjang hitam yang disetrika sangat rapi serta kemeja putih polos yang dikancingkan hingga ke leher. Kacamata tebal menutupi matanya. Kabarnya usianya masih muda, belum mencapai 30 tahun. Kurasa kabar itu hanya kabar angin. Aku dan Naren masih saja mematung di dekat pintu. Seluruh mata di kelas masih tertuju kepada kami, tak ada yang berani bersuara.


"Hari ini kita adakan Quiz Sistem Informasi Akuntansi!" ucap Pak T-Rex tiba-tiba.


"HAH?!" teriak teman-teman sekelasku.


"Keluarkan selembar kertas!" teriaknya lantang. Matanya menatap ke arah kami. "Kalian berdua, silahkan keluar saja! Tak perlu ikut mata kuliah saya!"


"Tapi...Pak...." Naren berusaha menolak. Kutarik lengannya.


"Maaf ya, gara-gara aku kita jadi dihukum...." Naren tertunduk lesu. "Seandainya saja ban motorku nggak bocor tadi, pasti setidaknya kita nggak telat...."


"Udah, nggak papa. Lupain aja, lagian gue juga nggak betah kuliah di kelasnya Pak T-Rex. Udah, yuk cabut aja!" kugandeng tangan Naren. Kami berjalan menuju parkiran yang ada di belakang Fakultas Ekonomi.


"Kita mau kemana?" Naren menatapku lembut sambil menyerahkan helm.


"Antar aku beli kado, ya. Nanti malam ulang tahun omaku."


"Ayok, silahkan naik, Tuan Putri," canda Naren sambil menyalakan motor merah sport-nya. Kunaik di belakang seperti biasanya. Motor itu melaju kencang menuju salah satu mall. Saat jalanan mulus dan sepi kurentangkan kedua tanganku.

__ADS_1


"I' M FREE!!! HAHAHA!!!" teriakku kencang.


"Apa kau senang Tuan Putriku?" ucap Naren. Aku menggangguk sambil kembali memeluk pinggang Naren.


Bahagiaku sederhana hanya hal kecil seperti ini sudah membuatku bahagia. Saat kau bersama orang yang kausayangi, dunia seakan tertawa bersamamu. Akhirnya kami sampai di salah satu mall. Setelah cukup lama berkeliling, akhirnya aku menemukan hadiah yang cocok untuk Oma. Pergi jalan-jalan bersama Naren merupakan salah satu kegiatan favoritku. Ketika itu mall sedang sepi, salah satu hal yang tak kusukai dari Naren adalah hobinya nge-game. Dia bisa tak berhenti bermain game bahkan saat sedang nge-date denganku seperti ini. Niat iseng terselip di pikiranku.


"QIA!" teriaknya saat kuambil smartphone-nya. "Kembaliin HP gue!"


"Ayok, kejar gue kalo lho bisa! Wekkk!!!" teriakku sambil menjulurkan lidah. Aku segera berlari sekencang mungkin. Naren mengejarku di belakang. "Ayo, kejar gue kalo loe bisa! Hahaha!" kami berlarian di dalam mall itu.


"Awas, ya!" teriak Naren.


Aku terus berlari kencang. Tanpa sadar, BRUK!!! Diriku tak sengaja menabrak sesuatu.


"Ah...ma...af...." mulutku seakan tak bisa menutup. Tubuhku kaku karena tatapan dinginnya. Bagaimana makhluk ini bisa di sini?


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2