
"Pake tablet! Sudah, bawa satenya! Ayo, masuk ke tenda!" perintah Si Balok Es. Dia mau ngasih aku kejutan di dalam ya? 😍
Aku pun masuk ke dalam tenda. Tanganku membawa sepiring penih saye sosis dan bakso ikan itu. Nampak Si Balok Es sudah duduk dengan tubuh tertutupi selimut. Dia menatapku.
"Taruh di situ!" perintahnya. Aku pun meletakkan piring penuh satu itu di dekat tablet. "Tutup pintunya!" perintahnya lagi. Aku pun menutup resleting pintu tenda ini.
"Eh!" tanganku kananku berasa ditarik. Ternyata Si Balok Es menarikku dengan tangan kirinya. Dia menarikku ke dalam dekapannya. Tubuhku sekarang juga tertutup selimut. Mataku bertatapan dengan mata Si Balok Es. Tatapannya masih saja membuatku terasa membeku.
"Kamu mau menatap sampe kapan?" ucap Balok Es memecah keheningan. Aku jadi merasa malu, pandanganku pun kualihkan ke arah lain. "Paling menyenangkan kalo nonton film horor!" tangan kiri Si Balok Es keluar dari dalam selimut. Tablet berwarna silver itu ditegakkan. Flip case-nya bisa untuk bersandar. "Suapi!" ucap Balok Es.
"Heh?" kutatap ke arah matanya lagi.
"Suapi aku, Yaya. Suapi sate!" perintahnya.
Kuambil setusuk sate bakso ikan. Tangan kiri Balok Es menyalakan tablet itu. Film horor produksi negara barat mulai diputar. Musik yang menyeramkan terdengar jelas. Wajah-wajah seram wujud makhluk dari alam lain mulai terlihat. Apalagi tenda ini tak terang. Hanya disinari oleh sebuah senter yang digantung di bagian puncak tenda.
"Ah!" teriakku. Reflek kupeluk tubuh Si Balok Es, saat wujud hantu di film itu muncul diiringi dengan musik yang seolah ingin membuat nyali menciut. "Ehm...takut...." ucapku spontan.
"Jangan khawatir, ada aku di sini,Yaya," bisik Balok Es sambil membelai kepalaku. "Kamu bisa peluk sepuasmu!" ucapnya lagi.
Balok Es, kau sengaja ya memutar film horor? Kau memanfaatkannya agar aku memelukmu dalam jangka waktu yang lama kan? Dasar tukang curi-curi kesempatan dalam kesempitan! 😑 Ih, rasakan ini! Kutusuk-tusuk pinggang Si Balok Es dengan kedua jari telujukku.
"Geli! Geli!" dia mulai jadi jatuh terbaring. Kakinya kiduduki.
"Rasakan ini!" ucapku sambil memulai aksiku.
__ADS_1
"Hentikan, geli! Geli!" teriaknya saat kugelitiki kedua pergelangan kakinya. "Hentikan! Geli! Geli!" dia nampak menggeliat-geliat. Huh! Aku takkan berhenti. "KECOAK!" teriak Si Balok Es.
"AAA!!! MANA?" teriakku panik. BRUK!!! Saat aku lengah, Si Balok Es membuat tubuhku terbaring. Dia menindih tubuhku sekarang.
"Kamu berani jahil, ya!" ucapnya sambil berbaring di atas tubuhku.
"Biarin, salah sendiri! Nakut-nakutin pake film horor! Kalo dipeluk bilang! Nggak usah sok jaim!" ucapku terus terang. Balok Es mencengkeram daguku. Dia membungkamku dengan serangan dari bibirnya.
"Udah, tidur!" dia langsung memeluk tubuhku seperti sebuah guling.
Ih, habis main serang bibir terus jadi dingin lagi. Nggak seru! Kulihat wajah Si Balok Es yang nampak sudah tertidur.
"Balok Es!" ucapku sambil menunjuk hidungnya.
"Apa?" mata itu tiba-tiba terbuka.
"Nggak usah sok malu-malu kucing! Kamu itu maunya apa, heh?" bisiknya. "Kamu ngode mau main di sini?" bisiknya.
Main? Maksudnya melakukan itu? Kok dia bisa mikir itu sih? 😣
"Nggak!" ucapku sambil berbalik membelakanginya. "Aku itu cuma mau bilang kamu jangan sok jaim," ucapku lirih. "Jangan dingin kayak es. Kalo mau bilang sayang ya bilang aja. Kalo mau ngelakuin tindakan mesra ya jangan setengah-setengah! Gantung tahu, rasanya!" kuungkapkan isi pikiranku.
Balok Es mencengkeram daguku lagi. Dia tak menanggapi perkataanku, justru memberi serangan ke bibirku lagi.
"Sudah, tidur!" perintahnya sambil menutupi tubuhnya dan diriku dengan selimut. Dia memeluk tubuhku lagi.
__ADS_1
"Ih, Balok Es, padahal aku itu cuma pengen kamu kalo bersikap manis ke aku jangan setengah-setengah dan jangan sok jaim. Kamunya nggak peka!" aku pun memejamkan mataku.
***
"Kak Billy!" ucapku saat Balok Es terus mencengkeram pinggangku lagi. Kepalanya dengan manja bersandar di bahuku. Dia kenapa sih pagi ini? Dari tadi nempel terus kayak perangko. Duh, ini waktunya sarapan pagi. Di seberang meja sana, Bunda Belvana, Ayah Andy dan Kakek Adi yang sedang duduk. Ketiganya nampak tak berhenti menatap ke arahku.
"Ehm, sepertinya tadi malam kemah kalian seru ya," celetuk Bunda Belvana.
"Pasti seru, putraku sampe nempel kayak perangko gitu, hahaha," sahut Ayah Andy.
Balok Es, apa yang kau lakukan? 😣 Pipi kananku dicium begitu saja di depan ketiga orang ini.
"Yaya, hebat Ayah. Billy sampe nggak bisa berkutik!" ucap Balok Es.
Mukaku langsung berasa memerah. Balok Es, maksudmu apa sih? Tadi malam aku nggak ngapa-ngapain kamu tahu! Duh, kayaknya Balok Es benar-benar melakukan perkataanku semalam. Dia sekarang malah nggak lagi sok jaim tapi malah nggak tahu malu! Tingkahnya agresif banget! 😣
"Oh, ya, Billy, Qia," panggil Bu da Belvana. "Desain undangan buat resepsi kalian udah jadi!" Bunda Belvana nampak memegang beberapa tumpukan kertas yang cukup tebal. "Kalian lihat-lihat dulu saja" tanya Bunda Belvana. Ternyata waktu resepsi itu akan segera tiba.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍