Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 130 - Konsul KRS


__ADS_3

"Hah?" Qia tertegun. "Berdamai?" Qia menatap tajam ke arah Naren. "Jangan usik hidupku lagi, Ren!"


"Aku serius, Ya. Aku beneran mau minta maaf. Aku tahu aku banyak salah sama kamu, tapi aku sungguh ingin berdamai denganmu. Aku tahu batasanku, Ya. Aku hanya ingin membuka lembaran baru. Aku ingin kita berdamai dan menjadi teman. Bukan mantan yang saling bermusuhan. Kumohon tolong maafkan aku, ya!" Naren menarik tangan kiri Qia.


"Huh!" Qia menarik tangan kirinya. "Aku tak mau tertipu lagi, Ren!" Mata Qia menatap tajam Naren. "Aku sudah muak! Pasti ini hanya tipuanmu saja, kan! Aku tak akan tertipu lagi!" Qia membuang pandang.


"Aku akan segera menikah, Ya ...." ucap Naren spontan. "Aku akan segera menikah beberapa bulan lagi ...."


"Kau mau apa?" Qia memandang ke arah Naren.


"Aku akan menikah. Menikah dengan tunanganku. Lihat ini!" Naren menunjukkan cincin di jari tangannya. Nampak sebuah cincin berwarna putih. "Sekarang aku selalu memakai cincin ini. Aku serius dalam menjalani hubungan ini. Aku takkan mengusik hidupmu lagi, tapi aku mohon ... tolong maafkanlah aku. Aku ingin setidaknya kita bisa menjadi teman ...." Naren memandang ke arah Qia.


Dia sungguh serius. Kenapa aku merasa ada yang mengganjal ya di hatiku. Ah, Qia! Ingat statusmu! Kau sudah menikah. Suamimu adalah pria yang menyayangimu dengan tulus dan sabar. Kau sudah sering berbuat salah di masa lalu! Jangan hanya permintaan maaf ini kau jadi baper lagi! gumam Qia.


"Bagaimana? Kuharap kau mau memaafkan ...." Naren memandang wajah Qia.


"Aku ...." Qia ragu untuk menjawab.

__ADS_1


"Silahkan masuk," Seorang pria nampak membuka pintu ruangan. Dia memandang ke arah Qia dan Naren. "Wah, ada Qia juga. Ayo masuk! Maaf membuat kalian lama menunggu."


"Kamu duluan aja yang konsul. Aku belakangan nggak papa." Naren mempersilahkan Qia masuk duluan. Qia melangkah masuk ke ruangan itu.


"Permisi, Pak." Qia membuka pintu ruangan dosen dengan tangan kirinya. Dia lalu duduk di kursi di depan meja dosen yang menjadi tujuannya. Nampak seorang pria bertubuh tambun sedang memandang laptop.


Kok gini amat, sih! Mejanya Pak Erik kenapa juga harus di samping mejanya Hubby. Duh, mau konsul jadi camggung, nih. Mana nggak ada sekat ruangan lagi, gumam Qia.


"Qiandra, ya ...." ucap Pak Erik. "Ehm, kita lihat IPK-mu berapa ...." Pak Erik nampak memandang ke arah laptopnya. "Wah, kok turun. Banyak yang dapat nilai B-." ujar Pak Erik dengan suara cukup keras.


"Ehem ...." terdengar suara deheman. Qia memandang ke arah Billy. Nampak Billy tak menatap ke arah Qia. Tangan kanannya sibuk memegang mug.


"Kenapa IPK-mu turun? Kamu sedang ada masalah?" tanya Pak Erik. Matanya menatap ke arah Qia.


"Ehm ...."


Gimana jawabnya, ya. Semester enam kemarin tuh kayak roller coaster. Dijodohin dadakan, eh nggak taunya dosen sendiri. Putus nyambung sama Si Naren. Nggak taunya Si Naren tukamg tipu. Akhirnya aku jadi nyaman sama Hubby. Secara nggak langsung kan itu pasti pengaruh ke mood belajarku, gumam Qia.

__ADS_1


"Nggak ada masalah, kok, Pak. Ehm, cuma materi kuliahnya aja yang sulit. Jadi ... saya kurang maksimal waktu ujian dan ngerjain tugas."


"Oh begitu, ya sudah. Kalo begitu tingkatkan lagi di semester 7. Oh ya, jika ada yang sulit kamu bisa minta diajarin sama Pak Rexford. Kalian kan bersama 24 jam kan? Hahaha!" goda Pak Erik.


Ih, apaan, sih. Aku kan jadi malu. Mana ada Hubby lagi, gumam Qia.


"Mana Kartu Rencana Studinya sini, saya tanda tangani!" Pak Erik sudah siap memegang pulpen.


"Ini, Pak." Qia mengeluarkan secarik kertas dari totebag-nya.


"Jaga kondisi kesehatanmu. Jangan memaksakan diri. Apalagi kamu habis kecelakaan." Pak Erik menyerahkab kertas itu kepada Qia.


"Baik, Pak. Terima kasih." Qia segera keluar dari ruangan itu.


Kok Pak Erik tahu aku kecelakaan? Ah, pasti Hubby yang cerita. Aku harus mulai terbiasa dengan hal seperti ini. Statusku sudah secara terang-terangan diketahui orang. Ini saat yang tepat untuk bebar-benar melepas masa lalu, gumam Qia.


"Gimana konsulnya, Ya?" tanya Naren. Dia hendak bergantian masuk ke ruangan itu.

__ADS_1


"Aku sudah memaafkanmu, Ren." sahut Qia singkat saat berpapasan dengan Naren. Dia segera melangkahkan kakinya menjauh dari Naren. Naren nampak tertegun di dekat pintu.


Pada akhirnya jalan takdir membawa kita ke arah yang berbeda, Ren. Terima kasih kau sudah menjagaku selama ini. Mungkin ini salah satu cara agar aku bisa lebih dewasa, gumam Qia.


__ADS_2