Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 79 - Jatah....


__ADS_3

Kurebahkan tubuhku di atas ranjang. Capek juga foto outdoor buat resepsi. Ternyata foto begini saja menghabiskan waktu sampai siang. Aku capek! Tidur siang dulu kayaknya enak, nih! Kupeluk guling yang ada di sebelahku. Aku memghadap ke arah sebelah samping kanan di tepi ranjang.


Liburan memang paling enak untuk rebahan. Kupejamkan mataku untuk mulai berkelana ke alam mimpi 😴. Baru sebentar aku terlelap. Ih, kok rasanya ada yang dorong-dorong tubuhku sih? 😦 Jangan-jangan hantu! 😨 Tapi, ini kan siang hari. Kucoba membuka mataku.


"Ih, kamu ngapain, sih?" ucapku dengan nada meninggi. Nampak Si Balok Es berbaring di tepi ranjang. Dia memaksa agar bisa berbaring tepat di sebelahku. "Kamu ngapain, sih?" ucapku lagi. "Sebelah sana kan kosong!" teriakku sebal. Padahal masih ada space kosong di belakangku. Balok Es tetap saja memaksa berbaring tepat di depanku. Dia kenapa, sih? Kok jadi nyebelin. "Kak Billy!" teriakku. Tangan kiri Balok Es melemparkan guling yang kupeluk ke arah belakang. "Kamu mau ngapain, sih?" ucapku lagi.


"Mau minta jatah!" ucapnya santai.


Jatah? Jatah apaan? 😨 Dia mau melakukan permainan kayak tadi malam lagi? Balok Es terus memaksa berbaring di depanku sehingga aku terpaksa bergerak ke arah belakang. Ih, aku sedang ingin tidur sekarang. Lebih baik aku pindah tidur di kamar lain saja. Diriku hendak bangun.


"Eh!" Balok Es memelukku erat dengan tangan kirinya. Kepala Si Balok Es sekarang menyandar di dadaku.


"Nggak boleh pergi! Aku mau minta jatah!" ucap Balok Es dengan nada manja.


"Jatah apaan?!" teriakku spontan. "Kamu mau melakukan hal itu lagi?"


"Kamu mikir apa sih, Yaya? Aku cuma mau minta jatah dipeluk pas bobok siang," sahut Balok Es. Dia sudah memelukku seperti guling. "Biasanya kamu sibuk kuliah dan aku sibuk kerja. Pengen sekali-sekali bobok siang sambil dipeluk Yaya," Balok Es nampak memejamkan matanya.


Balok Es, kamu jadi manja banget, sih! Biasanya kan yang manja aku, sekarang gantian dia yang manja. Aku harus gimana, ya? Aku bingung, nih. Rasanya aneh, masak Balok Es yang dingin dan killer jadi manja kayak anak kecil begini.


"Yaya, puk, puk!" celetuk Balok Es.


"Heh? Puk-puk?" ucapku heran.

__ADS_1


"Iya, puk-puk. Tepuk-tepuk kayak yang yang pernah kamu minta dulu!" perintah Balok Es. Matanya kembali terbuka, mata itu menatapku dengan tatapan seperti anak kecil yang minta dibelai ibunya. Dasar Balok Es, pikirannya sering masih tidak kupahami!


"Lepas dulu kacamatamu! Nanti pecah, tahu!" kulepaskan kacamata Si Balok Es. Tumben, dia ceroboh soal barang-barangnya.


"Cepat, puk-puk!" perintah Si Balok Es lagi.


"Iya, ini baru mau naruh kacamatamu!" sahutku sambil menaruh kacamata itu di atas meja dekat ranjang. "Kalo mau tidur lepas dulu kacamatamu! Nanti pecah!" kuingatkan Si Balok Es.


"Cepat, puk-puk!" sahut Balok Es.


Ih, kok dia jadi manja banget kayak gini, sih?! 😕 Kayak anak kecil.


"Malah ngomongin kacamata terus! Kalo pecah bisa beli lagi!" sahut Balok Es ketus. "Cepet, puk-puk!" Balok Es kembali menyandarkan kepalanya di dadaku. Aku mulai melakukan puk-puk dengan cara menepuk-nepuk pelan punggungnya. Balok Es kurasa mulai terlelap.


"Aduh!" terdengar teriakan. Eh, Si Balok Es jadi bangun. "Kamu ngapain sih, Qia?" ucapnya dengan nada meninggi. Dia menatapku dengan tatapan tajam.


"Minta jatah!" sahutku sambil menarik kedua pipinya lagi dengan wajahku. "Minta jatah buat mainin wajah Kak Billy!"sahutku asal sambil terus menarik-narik wajah Si Balok Es.


"Kamu!" Balok Es hendak protes.


"Hidung Kak Billy lucu!" aku menyela ucapan Si Balok Es sambil menarik-narik hidungnya. Hihihi, kok dia gemesin ya kalo pas posisi kayak gini. Lucu aja gitu kayak mainin boneka! 😂


"Ehm!" sahutnya dengan nada kesal. Aku mendorong tubuh Si Balok Es agar terlentang. "Kamu suka, ya, nindih tubuh saya?" celetuknya.

__ADS_1


Ih, kok pake kata 'saya' lagi sih.


"Jangan kaku!" kutunjuk hidung Si Balok Es. "Dilarang pake kata 'saya' mulai sekarang! Kalo tetap bilang...."


"Kalo tetap bilang kenapa?" Balok Es menatapku.


"Kalo tetap bilang nanti kena hukuman!" sahutku sambil memelintir rambutku yang terurai. "Kak Billy!" teriakku spontan.


Balok Es tiba-tiba mendorong wajahku ke arahnya. Dia mencium wajahku dengan penuh hasrat. Jantungku masih saja merasa deg-degan.


"Aku suka hukumannya!" sahut Balok Es. "Sudah, sekarang tidur!" perintahnya. Dia mendorong tubuhku agar kembali lagi ke posisi semula. Tubuhku dipeluk erat dengan tangan kirinya. Balok Es sudah memejamkan matanya lagi.


Balok Es, tangan kananmu masih lama, ya, sembuhnya? Resepsi itu kan menunggu tangannya sembuh terlebih dahulu. Tanggalnya belum fix tapi persiapannya kurasa sudah matang. Padahal ada yang harus kukabari tentang resepsi ini.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2