Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 37 - Balok Es Murka


__ADS_3

"Oh ya, Ya. Terus hubunganmu sama Naren gimana? Kalian udah putus berarti?" tanya Stevia tiba-tiba. Pertanyaan itu seperti petir di telingaku.


Jantungku seakan ingin berhenti berdetak. Apalagi Mama, Tante Ria dan Nyonya Belvana memandang ke arahku. Aku harus jawab apa? 😣


"Ehm...hubunganku...." ayo, Qia! Ayo pikirkanlah jawaban netral yang tak memojokkan siapa pun.


"Tolong jangan ganggu privasi rumah tangga kami, Nona Stevia!" terdengar suara sedingin es. "Bukan hak Anda untuk menanyakan hal itu. Apalagi di depan saya, suaminya!" mata elang Balok Es menatap ke arah Stevia. Pak, Anda menakutkan seperti saat di kelas tahu!


"Ehm...ma...af...." jawab Stevia sambil tertunduk.


"Eh, sudah. Sudah," Tante Lia menyela. "Ayo kita masuk, agar acaranya bisa segera dimulai!" ia menggandeng tangan Stevia.


Balok Es berjalan dengan tatapan membunuh nan mengerikan. Ehm, kurasa dia tak suka jika orang lain mengungkit soal Naren. Kami memasuki restoran itu, nampak meja-meja yang tersusun rapi di depan panggung. Setiap meja berpasangan dengan delapan kursi. Aku duduk bersama dengan Balok Es, Mama, Nyonya Belvana, Tante Lia dan Stevia. Stevia terus tertunduk, dia tak berani menatap ke arahku. Tamu yang diundang ternyata cukup banyak, nampak Paman Ryan berkeliling menyambut tamu.


"Terima kasih ya, Dek, Jeng Belvana sudah mau datang kemari. Acara syukuran ini santai saja kok. Kita langsung mulai saja, ya!" ucap Tante Lia. Aku tak melihat ada MC di panggung kecil itu.


"Terima kasih sudah datang ke acara Graduation Party, putri saya Stevia," terdengar suara Paman Ryan. Ternyata beliau sendiri yang membuka acaranya. "Sebelum kita mulai, mariah kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing," semua tamu khusyuk berdoa. "Acara ini santai saja, keluarga kami tak menyiapkan susunan acara secara formal, hehehe. Setelah ini para tamu dipersilahkan memesan makanan sepuasnya!" tawa kegembiraan terdengar.


"T-Rex Tersayang," panggilku. "Kau mau pesan apa?" Balok Es sudah melindungiku tadi. Setidaknya aku harus membalas kebaikannya.


"Aku tidak terlalu lapar, Yaya Tercinta. Restoran ini menyediakan berbagai macam masakan western dan eastern. Bagaimana kalau kita pesan spagheti saja?"


"Spagheti?" kulihat daftar menu, memang ada spagheti. "Boleh, pesan dua piring berarti ya."


"Aku ingin sepiring berdua denganmu," ucap Balok Es. Astaga, Pak! Bapak mau modus lagi ya? Seharusnya aku tak berbaik hati padanya. "Tangan kananku sedang sakit, tidak sopan jika makan dengan tangan kiri," ucapnya lirih.


Dasar Balok Es, bilang saja kau ingin disuapi!


"Iya, Sayang. Tentu kita pesan spagheti sepiring berdua. Jangan khawatir, aku pasti akan menyuapimu," sahutku sambil tersenyum palsu.


Nampak pelayan menghampiri meja satu per satu dan mencatat pesanan. Tak berselang lama makanan datang, aku sungguh-sungguh memesan seporsi spagheti untuk dimakan berdua dengan Balok Es.

__ADS_1


"AAA!" Balok Es sudah membuka mulutnya. Kusuapi dia dengan garpu. "Kau juga harus makan, Yaya!" ia tersenyum licik. Iya, aku tahu kau ingin aku berbagi garpu dan makanan denganmu kan? 😧 Alur pikirmu lama-lama mulai kuhafal, Balok Es! Kusuapi diriku dengan garpu yang sama. Berpasang-pasang mata di meja ini tentu mengarahkan pandangannya ke arah kami.


"Ah, maaf. Aku terlambat!" nampak seseorang datang. Astaga, itu Tante Mia! Dia adalah kakak tertua Mama. "Maaf ya, Dek, aku telat!" ucapnya sambil melakulan cipika-cipiki dengan Mama dan Tante Lia. Dia lalu duduk tepat di seberangku. "Maaf ya telat, jalanan tadi macet. Mau bagaimana lagi aku harus mengantar anak pertamaku berangkat ke bandara. Dia baru saja dapat pekerjaan di Eropa," celetuk Tante Mia sambil memainkan kipas kayu di tangan kanannya. "Oh ya, selamat ya Stevia," ia menyelamami Stevia. "Kamu pintar, tapi..." aku menghela napas. Aku paling tidak suka Tante Mia. Dia adalah saudara Mama yang suka pamer tentang anak-anaknya. "Tapi, kamu seharusnya contoh anak kedua Tante, dia sekarang dapat beasiswa S2 di Eropa juga lho. Ah, aku lupa apa nama negaranya. Yang pasti itu universitas elit dan bergengsi, hahaha." Mama dan Tante Lia hanya tersenyum. Begitu pula Stevia.


Aku tahu prestasi anak patut dibanggakan di acara keluarga tapi tak perlu sombong seperti ini juga. Apa gunanya acara keluarga jika isinya hanya pamer. Entah pamer kekayaan, prestasi anak, pekerjaan dan hal lainnya. Bukankah itu hanya merusak tali silaturahmi karena memantik kecemburuan saja? Terkadang aku tak paham jalan pikiran saudara yang suka pamer seperti itu.


"Eh, kamu calonnya Qia, ya?" Tante Mia melirik ke arah Si Balok Es.


"Saya suaminya Qia, Tante," Balok Es tersenyum. "Nama saya Billy."


"Dek, kok kamu nikahin anak kamu nggak ngundang-undang, sih?" Tante Mia menatap ke arah Mama.


"Ehm, iya, Kak. Pernikahan ini agak mendadak," sahut Mama. "Oh ya, kenalkan ini Jeng Belvana, besanku." Nyonya Belvana menjabat tangan Tante Mia.


"Oh ya, resepsinya kapan, Dek? Pasti sudah nyebar undangan dong! Kelihatannya besanmu orang berada," tanya Tante Mia.


Tanggal resepsi? Ehm, aku malah belum memikirlan hal itu.


"Oh, gitu!" Tante Mia mengibas-ngibas kipas kayunya semakin cepat. "Kamu itu seharusnya mencontoh anak ketigaku itu, loh, Dek. Dia itu juga nikah muda tapi persiapannya matang. Prewedding-nya aja di Menara Epel di negara Paris. Anak itu sekarang tinggalnya di Eropa. Resepsi di dalam negeri sih sederhana aja yang penting foto prewedding-nya di luar negeri, hahaha ," pamer Tante Mia lagi.


"Menara Eiffel, Tante," sahut Balok Es. "Paris itu bukan negara, Tante, tapi nama ibukota dari Perancis. Tante Mia nampak tertegun, kurasa dia malu.


"Ehm, maklum, wanita udah berumur ya gini. Sering lupa. Hahaha!" ia melirik ke arahku. "Kamu beruntung Qia!" celetuk Tante Mia.


"Beruntung?" balasku tak mengerti.


"Iya, kamu beruntung. Ada yang mau tanggungjawab sama kamu. Suami kamu kayaknya baik deh, udah lupain aja yang lama," aku mencoba mencerna kata-kata Tante Mia.


'Tanggungjawab? Bersyukur? Lupakan saja yang lama?' dia tak menuduhku melakukan hal terlarang kan?


"Ehm...maaf, Tante. Maksud Tante apa?" aku mencoba berpikir positif.

__ADS_1


"Udah, Nak. Nggak usah malu. Ini pertemuan keluarga. Tante tahu kok, jiwa muda itu membara. Jaman sekarang biasa kok ada yang 'kredit' dulu sebelum nikah, hahaha," celetuk Tante Mia.


Astaga, Tante! Bagaimana Tante bisa berpikiran seperti itu? Aku rasanya ingin menangis. Aku ini masih murni, Tante. Aku menikah bukan karena hal seperti itu. Tanganku mengepal kuat karena menahan air mata.


BRAK!!! Terdengar suara meja digebrak. Suasana menjadi hening. Kurasa semua mata tertuju ke meja kami.


"Tolong jaga mulut Anda, Nyonya Mia!" terdengar suara yang dingin nan mengerikan. Itu suara Si Balok Es. Kurasa Balok Es murka. "Istri saya adalah gadis yang masih murni dan suci!" teriaknya lagi. "Saya dan dia menikah karena permintaan kakek saya, Tuan Adi Hutama. Sebelum bicara tentang norma, sekolahkan dulu mulut besar Anda!" jari telunjuk kiri Balok Es menunjuk ke arah Tante Mia. "Jangan suka berkata sembarangan jika tak tahu faktanya! Anda bisa saya laporkan kepada pihak berwajib atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik!" Balok Es menatap Tante Mia dengan tatapan yang mengerikan. "Ayo, kita pulang, Qia! Kita jauhi toxic people tak berguna seperti dia!" Balok Es menggandeng tanganku.


Para tamu terus melihat ke arah kami, tapi Balok Es terus mengabaikan mereka. Dia tetap berjalan sambil menggandengku keluar dari tempat ini. Pak, Qia senang Bapak ada di sini. Aku merasa aman dan hangat di gandengan Balok Es. Mengapa aku merasa tak ingin melepaskan tangan Anda, ya, Pak?


***


"Maaf atas perkataan dari kakak saya tadi, Jeng," ucap Mama setelah kami tiba di rumah. "Kakak saya memang bermulut besar dan ceroboh sejak dulu," Mama tertunduk.


"Saya yang seharusnya minta maaf, Jeng," Nyonya Belvana menggenggam tangan Mama. Aku dan Balok Es hanya diam sambil terduduk di sofa ruang tamu ini. "Pernikahan Billy dan Qia sangat mendadak. Kita bahkan belum mengadakan resepsi yang mengundang sanak famili. Wajar jika ada banyak gosip murahan bertebaran." Nyonya Belvana melirik ke arah Si Balok Es. "Billy, Qia, Bunda akan mempercepat resepsi pernikahan untuk kalian. Bunda akan mengadakannya besok lusa."


Aku terdiam sambil memandangi Si Balok Es. Dia hanya tertunduk mendengarkan. Kurasa tak masalah, toh tidak akan memgundang teman-teman kampusku kan.


"Bunda akan mengadakannya di Auditorium Universitas XXX!"


WHAT? Kata-kata itu seperti petir di telingaku. Universitas XXX? Itu adalah kampusku. Astaga, itu sama saja mengumumkan hubunganku dan Si Balok Es secara terbuka. Aku harus bagaimana? 😣


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2