Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 64 - Menunggu....


__ADS_3

"Stev!" aku tak bisa menahan air mataku lagi. Rasa kecewa di dalam hatiku masih amat terasa sesak.


"Sudah, ayo masuk dulu!" Stevia membawaku ke dalam rumahnya. "Ini minum dulu!" ia menyerahkan segelas teh hangat padaku. "Sudah, tenangkan dulu pikiranmu. Ini sudah larut malam, sebaiknya kamu ganti baju dan istirahat saja," Stevia membantuku berdiri. Aku pun melakukan perintahnya.


"Makasih, ya, udah ngijinin aku nginep di sini," ucapku sambil naik ke ranjang di kamar Stevia.


"Iya, nggak papa. Aku malah senang kok ada saudara yang nemenin. Sudah, sekarang kita tidur ya," Stevia menyelimuti tubuhku. Aku langsung terlelap ke alam mimpi.


"Ya, bangun! Bangun!" tubuhku terasa diguncang-guncang.


"Ada apa, sih? Gue nggak ada kuliah hari ini, Stev!" protesku sambil bersembunyi lagi di balik selimut.


"Bangun, Ya!" Stevia menarik selimut itu. "Suami loe ada di depan pagar rumah! Gue harus gimana?" ucap Stevia. Perkataan itu membuatku langsung tersadar.


"Balok Es ada di sini?!" aku meloncat bangun dari tempat tidur.


Kamar ini ada di lantai dua. Bagian depan pagar rumah pasti terlihat dari balkon kamar ini. Aku mengintip dari balkon.


"Itu liat!" Stevia menunjuk ke arah pagar depan rumah.


Nampak seorang pria jangkung yang memakai jaket jeans serta kacamata. Itu benar-benar Balok Es. Kok dia bisa tahu sih aku ada di sini? Dia pasti memasang alat pelacak pada smartphone-ku. Kok aku kemarin nggak ninggalin benda itu aja sih.


"QIA! KELUAR! SAYA TAHU KAMU ADA DI DALAM!" teriak Balok Es. "SAYA INGIN BICARA DENGANMU! CEPAT KELUAR!" teriaknya lagi.


"Aduh, kalo kayak gini bisa malu sama tetanggamu, Stev," ucapku panik.


"Makanya, gue bangunin loe! Sana, temui dulu tuh suamimu!" perintah Stevia.


Aku pun turun dari lantai dua dan melangkah menuju depan gerbang rumah. Gerbang rumah itu tak kubuka.


"Bapak! Berhenti teriak-teriak!" ucapku sambil berkacak pinggang. "Bapak ngapain di sini?"


"Buka gerbangnya, Qia. Saya ingin bicara denganmu...." tangan kiri Balok Es menerobos masuk di sela-sela gerbang.


"Jangan sentuh saya!" teriakku sambil menangkis tangan Si Balok Es. "Tak ada yang perlu dibicarakan! Sana pergi! Saya kecewa sama Bapak! Bapak selingkuh sama Bu Vanya! Sana pergi ke tempat Bu Vanya! Jangan cari Qia lagi!"


"Saya tak selingkuh!" teriak Balok Es tak mau kalah. "Kamu salah paham!"

__ADS_1


"Bohong! Jelas-jelas kemarin Bapak lebih mementingkan pergi sama Bu Vanya daripada sama saya! Untung ada Stevia yang bongkar kebusukan Bapak. Jadi, Qia tahu yang sebenarnya!"


"Saya salah! Saya minta maaf karena lupa pada janji saya! Ayo, buka gerbangnya, Qia. Ayo kita pulang!" ucap Balok Es.


"Nggak mau! Saya nggak mau pulang! Buat apa, Pak! Qia nggak punya posisi di hati Vapak. Bapak cuma menjadikan Qia mainan aja!" kuungkapkan isi hatiku. "Cepat pergi sana!" aku berbalik dan melangkah meninggalkan gerbang rumah itu.


"Bagaimana caranya agar kamu mau memaafkan saya? Saya harus melakukan apa agar kamu percaya bahwa saya menyayangimu," ucap Balok Es.


"Bapak sudah membuat saya menunggu tanpa kejelasan kemarin! Menurut Bapak, apa yang seharusnya Bapak lakukan, hah?" sahutku ketus. "Jangan berteriak-berteriak di depan rumah orang! Jika Bapak memang menyayangi Qia, tunggu di sini sampai amarah saya reda!" ucapku asal.


"Loe bilang apa sama suami loe? Kok nggak ada suara teriak-teriak lagi?" tanya Stevia.


"Itu nggak penting!" ucapku. "Loe hari ini nggak pergi?"


"Nggak, gue baru free bulan ini. Gue baru nunggu pengumuman penerimaan mahasiswa S2. Gue ada drama korea sama stok film horor!" Stevia mengeluarkan laptopnya. "Temenin gue nonton, yuk!"


"Tapi, kita belum sarapan juga belum masak, Stev," aku menatap Stevia.


"Tenang aja, gue masih punya stok bubur instan, mie cup, roti sama popcorn!" Stevia mengeluarkan makanan yang ia sebutkan dari dalam kulkas.


"Ya udah, ayok nonton!" ucapku.


"Wuih, seru banget dramanya!" ucap Stevia. Kami terus lanjut menonton hingga tak terasa hari sudah siang.


"Nih, mie cup-nya! Stevia menyerahkan mie cup padaku. Menjelang malam, drama itu baru selesai ditonton.


"Seru banget, Stev! Ada season 2-nya nggak ya?"


"Mungkin ada. Udah malem nih, keluar yuk cari makan!" ajak Stevia.


"Ayok!" sahutku. Aku dan Stevia pun segera mandi dan berdandan.


"Ya, suami loe masih ada di depan rumah tuh! Dia daritadi kuintip nggak kenana-mana lho Kayaknya dia di sana terus, deh!" Stevia membuka jendela kamarnya.


Kuarahkan pandanganku ke jendela itu. Nampak Balok Es masih berdiri di depan gerbang rumah ini. Tangan kirinya memegang gerbang itu. Kepalanya nampak bersandar pada pintu gerbang itu.


"Biarin aja!" sahutku. "Ini udah malem, bentar lagi paling dia pulang!" aku mengambil tas selempangku lalu memasukkan dompet ke dalamnya. Smartphone-ku sengaja kutinggalkan agar Balok Es tak bisa lagi melacakku.

__ADS_1


"Iya,tapi gimana kita keluarnya? Mobil gue kan ada di garasi depan rumah."


"Rumah loe ada pintu belakangnya nggak? Lewat situ aja terus naik taksi online aja. Nanti gue yang bayar deh ongkos taksinya," aku memberi solusi.


"Boleh! Boleh!" sahut Stevia.


Kami pun keluar lewat pintu belakang rumah Stevia. Pintu itu menuju ke sebuah gang kecil. Stevia lalu memesan taksi online. Taksi itu menunggu di jalan raya yang tembus tepat di gang ini


"Kita makan di mall aja yuk! Nanti habis itu karaokean terus nonton film yang tertunda kemarin," ucap Stevia. "Mumpung gue belum pesan taksi online-nya."


"Boleh, boleh. Gue juga baru butuh hiburan nih!" aku ingin melepas sejenak dari bayang-bayang Balok Es.


Taksi online yang kami pesan pun datang. Sampai di mall, aku dan Stevia segera makan di restoran yang menyediakan aneka menu makanan western. Setelah itu kami berbelanja berbagai baju dan aksesoris sambil menuju tempat karaoke. Tempat karaoke itu ada di lantai dua mall ini. Saat karaoke aku memilih lagu-lagu rock agar bisa berteriak sekeras dan sekancang mungkin. Aku ingin meluapkan segala amarah dan rasa kecewaku pada Balok Es.


Setelah puas karaoke, aku dan Stevia pergi menonton film. Film itu film horor. Astaga, menonton film horor di jadwal paling malam pemutaran. Ehm, rasanya pasti lebih menegangkan. Film itu baru selesai diputar saat dinihari.


"Gila, Ya! Tadi itu nakutin banget!" ucap Stevia. "Mana kita nontonnya udah mau tengah malam lagi! Gue tadi merinding terus, tahu!"


"Sama gue juga!" aku melihat ke arah jendela mobil taksi online ini.


Di luar nampak hujan deras. Apa Balok Es masih menungguku di luar gerbang? Ah, itu tak mungkin. Dia pasti sudah pulang sedari tadi. Mana ada orang yang mau menunggu di luar rumah saat hujan deras disertai petir dan angin seperti saat ini.


Mobil ini terus melaju melewati genangan air yang menutupi jalan. Mobil ini memasuki komplek perumahan tempat Stevia tinggal. Nampak keadaan sudah sepi. Mobil ini hampir tiba di gerbang rumah Stevia.


"Ya! Liat itu!" Stevia menunjuk ke arah depan. Nampak di depan gerbang rumah Stevia ada seseorang tergeletak di sana. Ada dua orang satpam komplek yang memayungi orang itu.


"Astaga!" teriakku panik sambil berlari keluar dari pintu mobil. Hujan deras ini tak kuhiraukan. "Bapak!" panggilku.


Tepat di depan gerbang rumah ini, Balok Es pingsan tak sadarkan diri. Pakaiannya basah kuyup. Bibir Balok Es nampak mengkerut dan memutih. Pak, Bapak benar-benar menunggu Qia di depan rumah sejak tadi pagi? Aku tak bisa menahan air mataku.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2