Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 14 - Tikus Kecil VS Balok Es


__ADS_3

"Sini, aku tiupkan, Yaya!" Balok Es itu dengan lembut meniup-niup mata wanita itu. Siapa dia? Siapa wanita ini sebenarnya?


"Kamu kenapa, Ya?" panggil Naren. "Kok kamu sampai matahin sumpit kayak gitu? Aku bikin kamu kesal, ya, Tuan Putri?" Naren menatapku lembut.


"Ehm...nggak kok, Pangeran. Pangeran Naren Tercinta nggak salah apa-apa. Mana mungkin aku marah," sudah lupakan Si Balok Es. Lebih baik aku fokus menikmati waktuku dengan Naren. "Aku cuma ingat aja sama ujian tadi. Ehm...soalnya bikin aku badmood kalo ingat itu."


"Ya sudah, Pangeran Naren pergi dulu mengambilkan sumpit untuk Tuan Putri Tersayang," Naren membelai dahiku lembut.


"Billy, pesanan kita sudah datang," terdengar suara wanita yang duduk bersama Balok Es. Saat kulirik ternyata keduanya memesan dua mangkuk sup ayam. Nampak asap mengepul dari kedua mangkok itu.


"Kamu ngeliatin apa, Ya?" kedatangan Naren membuyarkan pengamatanku. "Oh itu, ada Pak T-Rex sama dosen baru jurusan kita, Bu Vanya," Naren menyerahkan sumpit padaku. Aku teringat sesuatu.


"Ren, smartphone kamu gimana?" akibat pernikahan dadakan itu aku melupakan hal ini.


"Hahaha!" Naren tertawa terbahak-bahak.


"Kamu ngerjain aku, ya? Dasar jahat!" aku mendekati Naren lalu mulai menggelitiki badannya.


"Ampun, Tuan Putri, Ampun!" Naren memohon padaku. Aku tak menghentikan aksiku menghukumnya.


"HUH!" aku duduk kembali dan membuang muka.


"Maafkan aku, Tuan Putriku Tercinta," ia memohon. "Maaf, sudah jahil padamu, Sayang," aku tetap tak menatapnya. "Akan kuturuti apa pun permintaanmu asal kau memaafkanku." aku mulai meliriknya.

__ADS_1


"Berjanjilah, weekend ini temani Tuan Putri nonton film!"


"Iya, itu akan terjadi sesuau keinginanmu, Tuan Putri Tercinta," Naren merapikan poniku. Mataku melirik ke arah Balok Es. Bapak pikir cuma Bapak aja yang bisa pamer? Saya juga bisa, Pak! Aku merasa puas.


"Yaya, matamu sakit kan? Sini aku suapi," terdengar suara Si Balok Es itu. Dia mulai meniup kuah sup ayam yang ada di sendok. "Ayo, buka mulutmu," ia menyuapkan sup ayam itu sendok demi sendok.


"Naren, Tuan Putri pengen disuapi," ucapku manja. Aku takkan kalah dengan Si Balok Es.


"Siap, Tuan Putri. Ayo, buka mulutmu...." Naren mengambil sendok, memotong mie ayam itu lalu menyuapkannya ke mulutku.


"Yaya, makanmu jangan berantakan!" tangan Balok Es itu dengan lembut menyeka sisa makanan pada mulut wanita itu.


"Naren, mataku kemasukan debu. Sakit!" keluhku. Naren dengan sigap mendekatiku.


"Sebelah sini!" aku menunjuk mata kananku. Naren dengan lembut meniup-niup mataku.


"Apa masih terasa sakit?" ia melihatku dengan lembut. Aku menggeleng, saat Naren duduk kembali. Kucuri pandang ke arah Si Balok Es.


"Billy, es buah pesanan es buah kita sudah datang," Bu Vanya hendak menyendok es buah itu.


"Biar aku menyuapimu, Yaya," Balok Es itu memegangi mangkok es buah milik wanita itu dengan tangan kirinya. Tangan kanannya siap menyuapkan es buah itu. Bapak masih mau pamer? Baiklah, rasakan jurus andalanku.


"Naren!" teriakku manja. Aku berlari kecil ke arah Naren duduk. "Naren, aku takut!" suaraku sengaja makin kuperbesar. "Ada tikus, Naren! Ada tikus! Aku takut!" aku berjongkok dan menyandar ke lutut Naren.

__ADS_1


"Mana tikusnya, Ya?" tanya Naren.


Tikusnya lari ke arah sana!" teriakku kencang "Itu tikusnya lari ke arah sana! Itu tikusnya!" teriakku kencang sambil menunjuk ke dekat arah tempat duduk Si Balok Es.


"Mana tikusnya?!" terdengar suatu teriakan. BYUR!!! Tangan Si Balok Es menyiramkan sup buah ke wajah wanita itu.


"Billy!" protes wanita itu. Mukanya yang putih menor karena make up sekarang menjadi pink terkena tumpahan kuah es buah.


"Ah, ma...af...ma...af...." Si Balok Es itu nampak panik. Ia sudah meraih tisu untuk membantu membersihkan wajah wanita itu tapi tetap saja tak fokus. Ia melihat ke segala arah, pasti dia sedang mencari tikus itu. Aku rasanya ingin tertawa terbahak-bahak tapi berusaha kutahan.


"Ya, ayo pergi, yuk!" Naren menggandeng tanganku dengan lembut. Aku menurut saja, tawaku masih berusaha kutahan. Bibirku tetap saja mengkerut-kerut karena menahan tawa. "Ya, ada yang pengin aku omongin," Naren membawaku ke sebuah taman kosong di belakang Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Fakultas Ekonomi (PKM FE). Taman ini sepi jarang ada kegiatan saat siang hari.


"Apa, Ren?" tanyaku lembut sambil duduk di bangku taman mengikuti Naren.


"Aku sudah tahu rahasiamu," ucap Naren serius sambil menatapku. Jantungku rasanya ingin berhenti berdetak. Apa Naren sudah tahu tentang pernikahanku? Apa yang harus kulakukan?


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2