Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 121 - Dimana Kau?


__ADS_3

"Pfft!!!!" terdengar suara orang menahan tawa dari balik pintu. "Hahaha! Lucu!"


Suara siapa itu? gumam Qia.


"Siapa itu?" ucap Qia. Dia beranjak bangkit dari tempat tidur.


Chan, aku ingin lihat bagaimana kau akan menghadapi Qia. Kau mengintip sampai terbawa suasana. Sampai memgeluarkan tawa, gumam Billy. Dia menatap ke arah pintu. Nampak Qia yang berjalan perlahan menuju ke arah pintu. Tangan Qia membuka pintu itu dengan cepat. Kena kau, Chan! gumam Billy.


"Kakak!" ucap Qia dengan nada meninggi. Chandra nampak salah tingkah saat Qia menatapnya.


Kau tertangkap basah mengintip, Chan. Aku ingin lihat bagaimana kau mengatasi hal ini, gumam Billy.


"Kakak! Apa yang kau lakukan di pintu kamarku? Apa kau mengintipku?" ucap Qia. Dia menatap Chandra dengan tatapan tajam.


"Ehm....tidak! Ah, ya, Mama memanggilmu. Aku disuruh kemari untuk memanggilmu," sahut Chandra.


"Benarkah? Dimana Mama sekarang?" tanya Qia.


"Dia ada di dapur. Sana, cepet bantu Mama," ucap Chandra.


"Ehm, baiklah. Aku segera ke sana," sahut Qia sambil berlalu pergi.

__ADS_1


Mata Chandra menatap ke arah kamar. Mata itu menatap tajam Billy. Billy membalas tatapan Chandra dengan tatapan yang sama tajamnya.


"Kau membenciku karena belum memgenalku," ucap Billy saat Chandra hendak berlalu pergi. Langkah Chandra terhenti. Dia menatap ke arah Billy.


"Bagiku kau hanyalah orang yang merusak kehidupan adikku!" sahut Chandra.


"Apa maksudmu? Aku sudah resmi menikahi adikmu!" balas Billy dengan suara meninggi. Kedua tangannya sudah mengepal erat.


Apa maksudmu, Chan? Aku tak pernah sekalipun menyakiti Yaya, gumam Billy.


"Adikku masih muda! Masih terlalu muda baginya untuk menikah! Masih banyak mimpi dan keinginan yang ingin diraihnya! Kau lebih tua dariku! Seharusnya kau bisa menolak pernikahan ini!" teriak Chandra. Dia dengan berani menunjuk ke arah Billy. "Kau merebut semua kebahagiaan dari kehidupan adikku! Dia harus terikat dengan orang sepertimu di usia yang masih sangat muda!" teriak Chandra.


"Dia bahagia bersamaku!" sahut Billy.


Impian? Keinginan? Benar, aku tak pernah bertanya apa yang sebenarnya Yaya impikan di hidupnya. Aku tak pernah bertanya apa keinginan atau impian yang ingin dia kejar, gumam Billy.


"Sudah kuduga! Kau pasti hanya mementingkan dirimu sendiri! Jikaa adikku tersenyum itu pasti hanyalah senyum semu. Senyum semu untuk menutupi rasa sedihnya akibat hidupnya kau rusak!" ucap Chandra. Dia hendak meninggalkan kamar itu.


"Bagaimana denganmu?" ucap Billy. "Dimana kau saat adikmu mengalami kepahitan dalam hidupnya!" balas Billy. Langkah Chandra terhenti. Dia tetap tak menghadap ke arah Billy.


"Asal kau tahu, Narendra sudah menyakiti adikmu! Narendra sudah bertunangan dengan wanita lain tanpa memberi tahu adikmu! Kurasa kau pasti tahu itu! Narendra hadir dengan tuangannya saat di resepsi itu! Asal kau tahu, saat adikmu rapuh dan hancur menerima kenyataan itu, aku yang selalu ada di sampingnya. Aku yang menjadi tempatnya bersandar! Aku terikat dengan adikmu saat kami belum terlalu mengenal lebih dalam satu sama lain. Tapi, aku selalu ada di sampingnya, sedangkan kau! Kau hanya bisa berteriak dengan asal tanpa tahu kebenarannya, Chandra!" ucap Billy.

__ADS_1


"Tunggu! Apa maksudmu?" Chan berbalik menghadap ke arah Billy. "Kau bilang Naren bertunangan tanpa memberitahu adikku? Maksudmu dia membohongi adikku sebelum bertunangan dengan gadis itu?" Chandrs menatap Billy dengan tajam.


Sudah kuduga, ternyata Chandra belum tahu kebenaran ini. Kurasa ini kesempatan bagus untuk memperbaiki hubunganku dengannya, gumam Billy.


"Ya, Narendra bertunangan diam-diam tanpa memberitahu kenenaran pada adikmu. Adikmu sedih dan down karena kebohongan itu. Narendra bahkan sempat membohongi adikmu untu yang kedua kalinya. Kebohongan itu akhirnya terkuak saat tunangan Narendra memergoki Narendra dan Qia makan bersama. Adikmu bahkan disiram dengan es buah oleh tunangan Narendra," sahut Billy.


"Apa? Qia disiram es buah? Lancang sekali! Beraninya orang itu!" teriak Chandra. "Astaga! Qia! Apa yang sudah kulakukan selama ini. Aku pergi begitu lama hingga tak bisa melindungimu dari penghinaan sebesar itu!" Chandra tertunduk.


"Itu bukan salahmu," ucap Billy dengan ramah. "Kau pergi belajar ke luar negeri untuk menimba ilmu dan membanggakan keluargamu. Itu bukan salahmu, kau adalah kakak yang baik, Chandra. Kau sangat mengkhawatirkan keadaan adikmu."


"Ceritakan padaku!" ucap Chandra. "Ceritakan semua hal yang adikku alami selama ini!"


________________________________________


Terima kasih sudah setia membaca, memberi like, vote dan komentar pada novel saya 😍


Mohon maaf selama kurang lebih dua bulan ke depan novel ini hanya akan update setiap hari Minggu 😊


Hal itu karena author sedang fokus mengejar target wisuda pertengahan tahun ini 😁


Mohon doanya ya agar author diberi kelancaran dan kemudahan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi 😊

__ADS_1


Mohon doanya juga semoga bulan ini bisa selesai dalam menyusun skripsi 😄 dan semoga bisa segere sidang 😊


Thank you 😍


__ADS_2