
"Nasi goreng buatan Mama memang enak!" puji Qia. Dia menerima suapan terakhir yang diberikan Billy. "Hubby, aku suka disuapi. Besok jika aku sudah sembuh suapi aku lagi ya!" pinta Qia sambil menatap Billy.
"Ehm," sahut Billy singkat. Dia kembali menggerakkan garpu dan sendik untuk menyuapi dirinya sendiri.
"Mama! Sisiri rambut Qia!" pinta Qia.
"Kamu yakin mau ke kampus? Kan masih sakit. Apa tidak cuti saja semester ini?" ujar Mama Lia. Dia menyisir rambut panjang Qia. Rambut itu diikat menjadi satu.
"Iya, Dek. Di rumah dulu aja. Biar tanganmu sembuh dulu," ujar Chandra.
"Nggak mau. Aku nggak mau ketinggalan temen-temenku. Tangan kiriku kan baik-baik aja. Kalo perlu nyatat tinggal ketik di tablet aja. Atau foto catatan temen," Qia menatap layar smartphone-nya. "Wah, udah mau jam tujuh lewat, nih. Aku janjian sama dosen PA-ku sekitar jam delapanan. Kak, anterin Qia naik motor. Aku masih trauma naik mobil." Qia menatap ke arah Chandra. Chandra tertegun, dia menatap ke arah Billy. Billy menghentikan aktivitas sarapannya.
Yaya mengalami trauma seperti itu, ya? Aku tak menyangka hal ini, tapi kenapa dia meminta Chan untuk mengantarnya? Apa dia lupa jika ada aku yang bisa melakukannya? gumam Billy.
"Dek, kan Bang Billy juga mau ke kampus. Kamu nggak lupa kan kalo suamimu itu dosen di kampusmu," sahut Chandra.
"Tidak, aku tak lupa. Tapi apa Hubby bisa naik motor? Aku tak yakin. Dia kan selalu pergi kemana-mana naik mobil. Aku ragu, saat di rumahnya kan tak ada motor. Sepeda juga tidak ada. Jangan-jangan Hubby tak bisa naik sepeda apalagi motor."
"Aku bisa naik kendaraan apa pun, Yaya. Jika kau mau naik motor, baiklah. Ayo, tak masalah," sahut Billy.
"Hubby, kau yakin? Kau yakin bisa naik motor?" tanya Qia lagi.
"Dek, jangan meragukan Bang Billy. Sudah, sana bersiap-siap saja," ujar Chandra.
"Oke, aku ambil totebag dulu!" Qia beranjak menuju lantai atas.
"Aku tak menyangka jika Yaya trauma sampai seperti itu. Apa menurutmu aku harus meneriksakan kondisinya lagi?" Billy menatap Chandra.
"Tak perlu, Bang. Biarkan saja. Nanti juga berani naik mobil lagi. Ayo, Bang, kita ke garasi. Kutunjukkin motornya Qia," ajak Chandra.
__ADS_1
Billy segera menenteng tas punggungnya. Dia memgikuti Chandra menuju garasi. Chandra membuka pintu rolling door di garasi samping rumah. Nampak sebuah motor yang tertutup penutup warna abu-abu. Motor itu berada di sebuah mobil yang sedang terparkir di garasi itu. Chandra membuka penutup motor itu. Nampak sebuah motor matic warna hitam. Motor itu sudah di-cuztome sehingga memiliki corak seperti harimau loreng.
"Nah, ini motornya Qia waktu masih SMA!" ujar Chandra.
Yaya ternyata seleranya unik. Aku tak menyangka hal ini, gumam Billy.
"Apa Yaya dulu anak motor? Kenapa motornya memiliki corak ...."
"Ahm, Bang. Sebenarnya ini dulu motorku. Aku yang membuatnya seperti ini. Qia dulu mau dibelikan motor baru tapi dia tak mau. Katanya sayang uangnya. Jadi mending pake motor punyaku saja, hehehe."
"Oh, begitu."
"Nih, Bang. Abang pake helm punyaku aja. Bersih kok, kan waktu masuki ke kantong khusus!" Chandra menyerahkan helm fullface bermotif macan loreng.
"Ehm, terima kasih," sahut Billy. Dia menerima helm itu. Helm itu lalu dipakainya di kepala.
"Ayo, kita berangkat!" terdengar suara Qia. Dia sudah siap. Helm warna putih bergambar wajah panda sudah ada di kepalanya. "Hubby, pake ini!" Qia menyerahkan jaket warna hitam dan juga sarung tangan kepada Billy. "Aku nggak mau kamu kedinginan." Billy menakai jaket dan sarung tangan itu.
"Hubby, kau tahu cara menyalakannya? Apa perlu kuambilkan buku petunjuknya dulu?" ujar Qia.
Yaya, kenapa kau sangat meragukanku? Apa aku terlihat sangat lemah, ya, sehingga naik motor saja kau tak percaya padaku, gumam Billy. Dia tak menyahut ucapan Qia. Dengan sigap Billy naik ke atas motor itu. Dia lalu memacu motor itu kekuar dari garasi.
"Sudah, ayo kita berangkat, Yaya!" panggil Billy.
"Ehm ... Hubby, boleh aku lihat SIM-mu? Aku ...." Qia nampak masih ragu.
Astaga, Yaya, kau benar-benar meragukanku? gumam Billy. Dia menghela napas. Dompet dia keluarkan dari dalam tasnya yang ada di bagian depan motor. Billy menunjukkan sebuah kartu tipis kepada Qia.
"Apa ini asli?" Qia mengamati kartu itu dengan sangat teliti. Kartu itu terus dibolak-balik berulang kali. "Apa masih berlaku?" Qia mengamati tulisan pada SIM itu.
__ADS_1
Sabar, Billy. Sabar, ingat Yaya adalah istrimu. Sekonyol apa pun dia kau harus menerimanya dengan sabar, gumam Billy.
"Ehm, baiklah." Qia menyerahkan kartu itu kembali kepada Billy. "Tapi ... tunjukkan dulu jika kau benar-benar bisa naik motor. Putari dulu komplek ini Hubby, hehehe. Sekalian memanasi motor itu. Kan sudah lama nggak dipake," ujar Qia.
Argh! Yaya, untung kau istriku. Jika tidak sudah kutinggal kau sendirian sejak tadi, gumam Billy.
"Baik, Yaya," sahut Billy. Dia segera memacu motor itu keluar dari halaman rumah. Qia dengan santai menunggu di tepi jalan depan rumah. Chandra mengamati sambil berdiri di samping Qia.
Bang, yang sabar ya, adikku ini emang konyol dan suka minta yang aneh-aneh, gumam Chandra.
Tak lama kemudian Billy kembali. Dia berhenti tepat di depan Qia. Billy membuka mika pelindung di helm itu.
"Kau percaya sekarang, Yaya?" tanya Billy sambil berusaha tersenyum.
Jika kau tak percaya lebih baik kita berdua pergi ke kampus naik ojek online saja, gumam Billy.
"Ya sudah, ayo!" Qia segera naik ke boncengan itu. Tangan kirinya memegang erat pinggang Billy.
Akhirnya! Ini pagi yang sungguh menguji kesabaranku, gumam Billy.
________________________________________
Terima kasih sudah setia membaca, memberi like, vote dan komentar pada novel saya 😍
Mohon maaf selama kurang lebih dua bulan ke depan novel ini hanya akan update setiap hari Minggu 😊
Hal itu karena author sedang fokus mengejar target wisuda tahun ini 😁
Mohon doanya ya agar author diberi kelancaran dan kemudahan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi 😊
__ADS_1
Mohon doanya juga semoga bulan ini bisa selesai dalam menyusun skripsi 😄 dan semoga bisa segera sidang dengan lancar dan tak bayak revisi 😊
Thank you 😍