
"Pak Rexford!" ucap Naren. Itu Si Balok Es! Mengapa dia ada di sini sekarang? Dia menatapku dengan tatapan tajam. Mata elangnya kurasa murka.
"Saya menyetujui kunjungan ilmiah ini dengan tujuan untuk pendidikan dan sarana pembelajaran bagi kalian! Bukan modus pacaran!" ucapnya sambil menyilangkan kedua tangan di dada. Balok Es, mengapa kau sangat galak di pagi hari yang cerah ini! Naren, apa yang harus kita lakukan? 😣
"Saya harap kamu!" ia menunjuk ke arah Naren. "Kamu bisa menjaga sikap selama kunjungan ini! Saya tak peduli apa hubungan kalian! Tapi ini menyangkut nama baik UKM, fakultas dan universitas! Jadi, jangan tunjukkan kemesraan kalian di depan umum! Mengerti?!" aura di sekitarku menjadi terasa mencekam.
"Emm...ba...ik, Pak. Sa...ya menger...ti..." jawab Naren lirih. Kurasa dia ketakutan kali ini.
"Bagus! Sekarang, ayo baik ke bus!" perintah Si Balok Es ini. Aku pun segera lari menuju pintu tengah bus. Aku harus menjauh dari Si Balok Es, tidak boleh duduk di dekatnya! Kupilih kursi paling depan di sebelah kiri, dekat dengan Pak Sopir. Segera kuletakkan tas gendongku di sana. "Na...ren...." aku hendak memanggil Naren. Kulambaikan tanganku ke arahnya. Dia menyadarinya dan berjalan ke arahku. Naren masih ada di bagian belakang bus karena masuk dari pintu belakang.
"Saya duduk di sini saja, Rino!" tiba-tiba seseorang telah duduk di sampingku.
"Ba...pak...." ucapku tak percaya. Mengapa Si Balok Es harus duduk di sebelahku.
"Saya akan duduk di sebelahmu, Qiandra. Saya mudah mabuk jika duduk di tengah atau belakang. Saya juga lebih mudah berkoordinasi dengan tour leader, ketua UKM ini dan Pak Sopir," ia melirikku dan tersenyum licik. "Kamu tidak keberatan kan saya duduk di sampingmu?"
"Ehm...ti...dak, Pak...." jawabku lirih. Balok Es, kau sungguh menyebalkan. Aku melirik ke arah belakang bus. Naren ternyata duduk di bagian kursi paling belakang. Kita terpisah Naren.
"Perkenalkan Pak, ini Pak Arjun. Tour leader kita," Rino memperkenalkan tour leader kepada Si Balok Es.
"Saya Rexford, dosen pembina UKM ini. Mohon bantuannya, Pak. Anak-anak ini masih muda, mohon bantuan untuk membimbing dan mengawasi mereka," ucap Si Balok Es sambil menjabat tangan tour leader itu. "Jika semuanya telah lengkap maka berangkat saja sekarang!" Balok Es menatap ke arah Rino. Rino menggangguk.
"Selamat siang Adek-Adek dan Pak Dosen yang saya hormati," sapa tour leader itu. "Perkenalkan saya Arjun, tour leader pada kunjungan kali ini. Terima kasih atas kepercayaan Adek-Adek karena sudah mempercayakan perjalanan kunjungan ilmiah ini kepada Alpha Ava Jaya Tour and Travel," aku mendengarkan dengan santai. Tunggu! Nama itu terasa familiar! Itu kan nama perusahaan keluarga milik Si Balok Es. Jangan-jangan ini salah satu cabang usahanya. "Sebelum kita memulai perjalanan ini marilah kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa dipersilahkan. Baiklah, kita akan berangkat sekarang!" ucap Pak Arjun. Bus mulai berangkat dan berjalan keluar dari komplek universitas menuju jalan raya.
__ADS_1
"Biar tidak sepi mungkin bisa diputarkan musik, Pak!" ucap Balok Es kepada Pak Arjun. "Anak-anak pasti merasa mengantuk selama perjalanan."
"Baik, Pak!" sahut Pak Arjun.
"Rino," panggil Si Balok Es. "Jika kalian ingin karaoke, karaoke saja. Saya tak keberatan."
"Siap, Pak!" Rino terlihat senang.
Musik dangdut koplo dan campursari koplo yang tengah familiar mulai terdengar dengan suara yang keras. Aku bisa mendengar gelak tawa teman-temanku. Ya, mereka bersuka cita saat ada yang menyanyikan lagu sambil karaoke di bus ini. Bus ini dilengkapi dengan dua buah microphone dan dua buah TV layar datar. Satu TV di bagian depan dekat pengemudi dan satu TV lagi di bagian tengah bus. Video lagu beserta liriknya ditampilkan di TV itu. Kurasakan suasanya ramai penuh gelak tawa. Aku sama sekali tak merasa bersemangat. Mengapa aku harus terjebak di dekat Balok Es ini?
"Kamu kenapa sakit?" bisik Balok Es di telingaku.
"Bapak, mengapa ada di sini? Bukankah Bapak sibuk?" jawabmu lirih.
Suapan spesial? Tunggu, apa yang dia maksud persentuhan dua bibir tadi malam? Bibirku berkedut geli ketika teringat hal itu.
"Saya ingin disuapi lagi, Tikus Kecil! Aku akan memintamu melakukannya saat hari dimana kau harus menurut padaku!" bisik Balok Es lirih. Balok Es Gila bisakah kau berhenti menggodaku? Wajah Balok Es itu menjauh dari telingaku. Dia membuka tas ranselnya. Lalu mengeluarkan sebuah kotak makanan kecil berisi cemilan.
"Rino, kau mau?" ia menawarkan cemilan itu kepada Rino yang duduk di belakang kursi pengemudi. Tunggu, itu kan....
"Wah, kuenya enak, Pak!" jawab Rino. "Bapak beli dimana?"
"Ini masakan hasil percobaan istri saya. Dia lupa untuk membawanya saat pergi tadi malam. Daripada basi lebih baik saya bawa saat wisata," Balok Es itu dengan santai memakan kue kering itu. Itukan untuk Naren. Balok Es menyebalkan, aku tidak sengaja lupa untuk menyimpannya tadi malam.
__ADS_1
"Qia, kau mau?" Balok Es itu menawarkan kue itu padaku. Rino nampak memperhatikanku. Balok Es kurasa tersenyum licik.
"Iya, Pak. Terima kasih," aku mengambil kue kering itu.
"Apa rasanya enak?" tanya Balok Es itu padaku.
"I...i...ya, enak, Pak," jawabku.
"Kalau begitu saya akan menyuruh istri saya membuat lebih banyak lagi besok!" ucap Balok Es sambil tersenyum licik. Ini kode untukku kan? Jadi, kau ingin aku menyuapimu dengan suapan spesial dan memasak kue untukmu saat tiga hari-dimana aku harus menurut padamu -sesuai utangku kan? Balok Es, kau benar-benar licik dan menyebalkan.
"Kita sudah sampai, Pak," ucap Pak Arjun. Kurasa kami telah sampai di tujuan pertama, Universitas XYZ. Teman-temanku mulai berbondong-bondong untuk keluar dari bus. Karena aku ada di kursi yang jauh dari pintu maka aku keluar pada urutan terakhir. Balok Es itu keluar dan turun dari bus lebih dulu daripada aku. Aku ada di belakangnya. Akhirnya, aku bisa terbebas darinya sementara waktu saat ada di sini. Saat aku telah sampai di pintu bus, tiba-tiba...
"AAAA!!! KECOAK!!! teriakku panik. Entah darimana di pintu bus itu tiba-tiba ada kecoa yang bergerak keluar dari bus. Reflek, aku melompat keluar dari pintu bus karena panik. Mataku tanpa sadar terpejam karena takut. Saat aku sadar kembali....
"Bisa tolong lepaskan saya?!" terdengar suara yang dingin. Kubuka mataku perlahan. Astaga! Di hadapanku nampak wajah Si Balok Es. Saat kesadaranku pulih sepenuhnya. Tunggu, mengapa aku malah memeluk Balok Es ini? Kurasakan semua mata teman-teman tertuju padaku. Apa yang harus kulakukan?
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you 😍