Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 108 - Marah....


__ADS_3

Billy menarik tangan Qia. Dia melangkah dengan cepat. Qia hanya pasrah saat tangannya ditarik. Dia berusaha mengimbangi langkah kaki Billy. Keduanya sudah masuk ke dalam lift yang mengarah turun ke lantai bawah.


Duh, kok jadi gini, sih! Hubby, kamu auranya jadi serem banget. Bisa-bisanya juga aku ketemu mantan pas mau dinner romantis, gumam Qia sambil mencuri pandang ke arah Billy. Sumpah, dia kok tatapannya serem banget, ya. Bikin nyaliku ciut nih buat bicara, gumam Qia. Dia menjaga jarak dengan Billy.


Pintu lift itu terbuka. Billy tak berkata apa pun. Dia terus menarik tangan kanan Qia. Kakinya melangkah keluar menuju pintu keluar. Sesampainya di pintu keluar, nampak sebuah mobil sedan hitam. Sekretaris June nampak menyambut dengan membukakan pintu mobil itu.


"Bagaimana makan malamnya, Tuan?" tanya Sekretaris June.


"HUH! KEMBALI KE HOTEL! SEKARANG!" teriak Billy. Suara kencang dan menyeramkan. Raut wajah Sekretaris June berubah seketika.


"Ba...ik....Tu...an...." ucap Sekretaris June.


Billy melepaskan genggaman tangannya pada Qia. Dia masuk duluan ke dalam mobil. BRAK!!! Billy menutup pintu mobil sebelah kanan itu dengan kasar. Qia dengan ragu membuka pintu mobil sebelah kiri. Dia lalu mendudukkan dirinya di kursi itu. Dengan sangat pelan ditutupnya pintu mobil itu.


Mobil mulai berjalan, suasana di dalam mobil sangat hening. Tak ada seorang pun berani berbicara. Billy semenjak tadi diam saja. Dia hanya menatap ke arah jendela mobil. Kedua tangannya menyilang di dada. Qia tak berani memulai pembicaraan terlebih dulu. Dia hanya menunduk menempelkan kedua tangannya di atas lutut.


Serem banget, sumpah! Ini kayak waktu aku telat masuk ke kelasnya dulu. Tapi ini jauh lebih serem lagi, gumam Qia.


Mobil itu berhenti di lobi sebuah hotel. Dengan sigap Sekretaris June membukakan pintu mobil. Billy keluar dari dalam mobil begitu saja. Qia turun dari mobil, dia ragu untuk melangkah ke dalam.


"Pak June...." panggil Qia lirih. "Tolong aku! Apa yang harus kulakukan?" tanya Qia.


"Nona, apa yang terjadi? Kenapa Tuan Rexford marah?" tanya Sekretaris June.


"Ehm...ceritanya panjang...tapi tadi kami tak sengaja bertemu dengan mantanku waktu SMA. Dia kebetulan baru kuliah S2 di Perancis. Aku benar-benar tidak tahu jika akan seperti ini...."

__ADS_1


"Duh, Nona. Tuan sepertinya sangat marah. Apa Anda tahu? Beliau menyiapkan honeymoon ini cukup lama. Beliau tidak ingin acara ini kacau atau ada kesalahan, Nona," ucap Sekretaris June.


"Apa yang harus kulakukan Pak June? Aku takut masuk ke dalam kamar!" keluh Qia.


"Nona, sebaiknya Anda masuk saja ke dalam kamar. Saya yakin semarah apapun Tuan, beliau pasti tidak akan menyakiti Anda...."


"Tapi, aku takut, Pak June...." ucap Qia lagi.


"Nona, jangan takut. Tuan tidak akan menyakiti Anda. Sudah, cepatlah susul beliau!" ucap Sekretaris June.


Qia melangkah dengan perlahan menuju lift. Dia segera masuk ke dalam lift itu. Dipencetnya tombol lift dengan perlahan. Pintu lift kembali terbuka. Qia mulai melangkahkan kakinya menuju ke arah kamar.


"Apa aku harus masuk...." ucap Qia sambil menatap pintu kamar. Pintu kamar itu tak menutup sepenuhnya. "Baiklah...." ucap Qia sambil membuka pintu kamar itu.


Nampak seseorang berdiri menghadap ke arah jendela. Dari siluetnya nampak orang itu sedang menatap ke arah luar sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


"Hub...by...." panggil Qia lirih. Billy nampak tak menyahut. Dia tetap menatap ke arah luar jendela. "Hubby!" panggil Qia. "Jangan cueki aku....please...." ucap Qia sambil memeluk tubuh Billy dari arah belakang. Mata Billy menatap Qia. Billy berbalik menghadap ke arah Qia. "AAA!" teriak Qia saat Billy mendorong tubuhnya ke atas ranjang. Billy sudah ada di atas tubuh Qia. Wajah Qia dicengkeram dengan tangan kanan Billy.


Dia mau apa sih? Aku takut! gumam Qia. Tanpa sadar matanya terpejam. Ciuman? Dia menciumku? gumam Qia sambil membuka matanya lagi. Sudahlah, nikmati saja. Biarkan dia menciumku sepuasnya. Setidaknya dia tidak menyakitiku, gumam Qia.


"Hubby," panggil Qia. Billy sudah berbaring di sebelah kirinya. "Apa kau masih ma...rah?" tanya Qia lirih.


"Tentu saja!" sahut Billy. Wajahnya masih sedikit cemberut.


"Maaf...aku tak tahu. Aku benar-benar tak tahu jika ehm...mantanku ada di sini...." ucap Qia sambil menatap Billy.

__ADS_1


"Kau tahu? Sebagian besar amarahku bukan timbul dari peristiwa tadi. Tapi karena dirimu," ucap Billy sambil menunjuk ke arah Qia.


"Karenaku?"


"Iya, karenamu. Kau seharusnya menceritakan masa lalumu. Jika kau bercerita sebelum peristiwa ini terjadi pasti aku bisa lebih tenang. Aku sudah pernah menceritakan masa laluku, Yaya. Aku sudah pernah bilang padamu jika aku tak punya mantan. Sedangkan kau! Aku bahkan tidak tahu berapa mantan yang kau miliki!" ucap Billy. Matanya menatap tajam Qia.


"Maaf, Hubby. Ehm...banyak hal yang terjadi. Aku tak sempat memikirkan hal itu lagi...."


"Sudahlah, aku lapar!" ucap Billy. "Aku sudah meminta makanan dibungkus tadi. Makanannya sudah tiba sejak tadi...." Billy menatap ke arah Qia.


Kurasa dia ingin aku menyuapinya, gumam Qia.


"Kau mau kusuapi, Hubby?" tanya Qia. Dia segera bangun dari ranjang.


"Ehm...suapi aku, Yaya. Aku ingin suapan spesial," ucap Billy.


"Suapan spesial?" ucap Qia tertegun.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Mohon doa dan dukungannya ya supaya Billy dan Qia bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊


Thank you 😍


__ADS_2