
(Brilliant Rexford Hutama's Point of View)
Qiandra Kalya Santoso, namanya berarti keajaban yang cantik dari keluarga Santoso atau bisa juga diartikan keajaiban cantik yang membuat sejahtera. Yah, dia memang suatu keajaiban. Bagaimana mungkin dunia bisa sesempit ini? Aku dijodohkan dengan seorang gadis yang ternyata adalah mahasiswiku sendiri. Apa yang bisa kulakukan? Sebenarnya aku merasa keberatan dengan keputusan ini. Bagaimana bisa Bunda berpikir menjodohkanku dengan gadis yang masih kekanak-kanakan? Sungguh merepotkan.
Saat Bunda mengatakan hal ini padaku, aku langsung menyelidiki gadis itu diam-diam. Ya, Bunda memberiku foto dan data-data gadis ini. Kusuruh bawahanku di kantor menyelidikinya. Ternyata dia adalah mahasiswiku sendiri. Dia juga sudah memiliki seorang pacar yang juga adalah mahasiswaku, namanya Narendra Varrel Wijaya. Akhirnya, kusuruh juga bawahanku menyelidiki Narendra. Dia ternyata adalah anak dari salah satu karyawan di kantor ayah Qia. Ini bisa jadi senjata bagiku, jika Qia menolak perjodohan ini. Bisa kugunakan orang tua Naren sebagai ancaman. Aku tak tahu kapan kami akan menikah tapi lebih baik kupersiapkan mas kawin sesegera mungkin. Entahlah sampai kapan kakekku bisa bertahan.
Ternyata Qia dan Naren sangat bucin. Ck! Apakah mereka tak bisa menjadi bucin di tempat lain? Mengapa harus menunjukkamnya di kelasku.
Aku berpura-pura terkejut saat pertemuan dengannya. Gadis yang kasar, beraninya dia menyembur wajahku. Apa dia tak pernah diajari tatakrama? Aku ingin membalasnya tapi bagaimana, ada Bunda di dekatku. Sudahlah, tak baik kasar saat pertemuan ini. Orang tuaku memberiku waktu berbicara dengannya. Seperti dugaanku, dia menolak menikah denganku. Akhirnya, senjataku kukeluarkan. Kuancam dia dengan orang tua Naren. Ayah Qia memang ingin ikut campur dalam urusan gadis ini dan Naren. Tapi, aku menolak, biar aku saja yang mengambil alih. Ya, gadis ini menerima tawaranku. Sejujurnya, aku tak tertarik pada pernikahan ini. Aku ingin ini hanya menjadi kesepakatan saja. Kurasa dia juga setuju.
Aku tak menyangka pernikahanku akan terjadi secepat ini. Ini benar-benar di luar kendaliku. Sekarang mau tak mau, dia jadi tanggungjawabku. Dia masih sangat kekanak-kanakan. Menangis setelah pernikahan dan bahkan aku terluka karena harus melindunginya saat itu. Ck! Momen yang tak bisa kulupakan, dunia yang amat sempit. Bagaimana bisa Naren ada di rumah sakit saat Qia menangis setelah pernikahan itu. Aku terpaksa menahan kesabaranku karena masih mengingat keluargaku.
Gadis ini juga penakut. Takut pada petir dan kecoa. Tunggu, kecoa? Itu bisa jadi senjata lain agar dia patuh padaku. Dia itu menyebalkan dan kasar. Sama menyebalkannya seperti seekor tikus kecil. Tikus adalah binatang yang menakutkan tapi juga menyebalkan bagiku. Bisa dibilang aku phobia pada tikus. Telingaku pernah digigit tikus ketika aku kecil, rasanya perih dan menakutkan. Aku sempat khawatir saat itu, karena kudengar tikus bisa membawa penyakit leptospirosis yang menyebabkan kematian. Untung saja waktu itu aku baik-baik saja. Qia seperti tikus kecil bagiku, dia menyebalkan tapi tak bisa kulepaskan. Dia berani berteriak padaku, bahkan menyebutku T-Rex. Jangan pikir aku tak tahu apa julukanku ketika di kampus. Ck! Dia justru berkilah dan mengubahnya menjadi Terlalu Cinta Rexford. Lihai sekali, mulutmu, Tikus Kecil. Tapi, biarlah, daripada kuatur panggilannya. Nanti dia malah salah sebut di depan keluargaku.
Dia tetap berani berhubungan dengan Naren meski di depanku. Sama seperti tikus yang tak takut meski ada manusia yang bersenjata di dekat mereka. Bahkan dia berani bermesraan di hadapanku. Apa yang bisa kulakukan? Aku hanya bisa menandinginya dengan hal yang sama, jika aku melabraknya mungkin bisa. Tapi, itu akan membuatku terlihat sangat mengharapkannya. Kugunakan Vanya untuk membalasnya, kurasa dia terpancing. Tapi, akhirnya aku sendiri yang kena batunya. Dasar Tikus Kecil Menyebalkan! Aku tak punya perasaan apa pun pada Vanya. Kami sudah lama kenal dan memang sudah seperti kakak beradik. Tapi, aku tak tahu apa perasaan Vanya padaku.
Hariku kulalui bersamanya. Aku pernah kehilangan kendali atas diriku. Dia tetap wanita yang berwajah cukup rupawan seperti namanya, Kalya yang berarti cantik. Aku pernah hampir mencium bibirnya. Untung saja itu tak benar-benar terjadi. Ck! Jika itu terjadi pasti dia mengira aku mengharapkannya. Itu terjadi saat dia mengantarkan makan siang untukku setelah aku memarahinya.
Aku sebenarnya hanya ingin tahu, apa reaksinya jika dia kumarahi seperti itu. Dia mencoba mematuhiku setelah itu, terlepas dari motif kunjungan ilmiah itu. Ck! Dasar Tikus Kecil! Aku pasti akan menyetujui kunjungan itu meski tak kau bujuk. Hanya saja urusan kantor membuatku belum sempat masuk ke kampus lagi untuk menyetujuinya. Tapi, agar lebih menarik mengapa tak kubuat isu jika aku cuti seminggu? Seperti dugaanku dia berusaha membujukku dari arah belakang. Dia datang ke kantor dan membawakan makan siang untukku. Ternyata dia bisa memasak. Masakannya cukup lezat. Setidaknya dia bisalah memasak untukku. Aku hampir kehilangan kendali atas diriku. Aku hampir menciumnya, bodohnya kenapa juga dia tak melawan. Apa dia mulai memiliki perasaan padaku? Ciuman itu memang tak terjadi, tapi anehnya kenapa dia agresif dan justru mencium pipiku di depan karyawanku. Ck! Dasar Tikus Kecil, kau membuatku malu dan bingung saat itu.
Aku ingin tahu apa reaksinya ketika tahu aku tak bisa ikut kunjungan. Ternyata dia malah senang dan justru membuat kue untuk Narendra. Ck! Kau bahkan tak pernah memasak dengan benar untukku tapi malah membuat kue untuk orang lain. Dasar Tikus Kecil Menyebalkan! Aku tak marah saat itu, tapi cukup puas mengerjainya. Apalagi, siapa sangka aku bisa merasakan sentuhan bibirnya. Bibirnya kuakui memang menggoda.
Saat kunjungan ilmiah, dia terus menunjukkan kemesraan dengan Naren. Apa dia tak bisa bersikap normal saja? Ini kunjungan ilmiah yang menyangkut nama baik fakultas dan universitas. Lebih baik kutegur secara langsung tapi tersembunyi. Sasarannya tentu kau, Tikus Kecil. Ck! Dia malah memarahiku karena menegurnya. Aku sudah menyelamatkan nyawamu yang hampir tertabrak tapi kau malah memakiku. Aku ingin cuek padamu tapi kau itu tanggungjawabku. Jika kau terluka, aku yang bisa disalahkan oleh keluargamu.
Saat di kebun buah sebenarnya aku sudah menjaga jarakku. Tapi, kenapa kau bisa-bisanya dalam bahaya dan saat itu mengapa juga tak ada yang bisa menolongmu selain aku? Aku terpaksa turun tangan lagi melindungimu, Tikus Kecil Menyebalkan. Kukira nyawaku akan melayang saat itu, ternyata aku masih selamat. Hanya saja tanganku cedera. Aku tak tahu apa isi hatimu, tapi aku lebih memilih diam. Aku masih marah atas makianmu padaku. Tapi....aku tak tega saat menemukanmu tertidur di depan kamarku. Kukira kau tak peduli padaku hingga aku lebih memilih menenangkan pikiranku dengan bermain game online hingga tertidur. Ternyata, kau ingin minta maaf ya. Lucu sekali, kau menangis dan berusaha mengirim pesan semalaman tapi aku tak bisa mendengar tangisan atau pun membalas pesanmu. Ehm, ini bisa jadi saat yang bagus untuk menghukummu, Tikus Kecil.
__ADS_1
Ternyata kau masih polos ya, padahal kau sudah punya pacar tapi saat kusuruh membantuku mandi kau masih malu-malu. Aku jadi semakin tertarik menjahilimu apalagi saat ibumu menginap di rumahku. Itu saat yang menyenangkan untuk jahil padamu.
Entah mengapa aku sangat marah saat kau dihina oleh tantemu yang bermulut besar itu. Kau memang menyebalkan tapi kau itu gadis yang masih suci dan murni. Aku tak tahu apa sebenarnya perasaanku padamu, Tikus Kecil. Tapi saat itu, aku merasa kau tak pantas dihina oleh orang lain. Aku merasa sakit saat orang lain menghinamu. Apa mungkin aku mulai ingin memilikimu?
Ehm, sebenarnya kau itu tak buruk juga. Kau memang kasar dan kekanak-kanakan tapi juga keras dan berani. Keras karena jika kau ingin sesuatu pasti kau akan mengerahkan segala cara untuk meraihnya. Berani karena kau tak takut pada siapa pun jika ingin sesuatu, mungkin agak ekstrim tapi kuhargai sifat ini. Berani dan keras, itu sifat yang cocok untuk ibu dari anak-anakku kelak. Aku tak suka jika wanita lembek yang terlalu ringkih menjadi ibu dari anak-anakku. Kau berani dan keras padaku, pasti kelak kau juga berani dan keras pada anak-anakmu juga kan. Apalagi kau juga pembasmi tikus. Itu salah satu keunggulanmu, Tikus Kecil. Menurutku kau semakin menarik untuk dipertaruhkan. Sifatmu masih bisa dibentuk dan diperbaiki karena kau masih belum dewasa sepenuhnya. Kau masih belum memiliki pendirian yang kokoh terhadap jati dirimu. Aku masih bisa mengaturmu agar sesuai kemauanku.
Aku belum tahu pasti apa perasaanku padamu tapi yang jelas, aku tak suka melepas apa yang sudah ditakdirkan untukku. Dulu memang aku mengganggap pernikahan ini sebagai kesepakatan tapi kurasa sekarang aku tak mau melepas apa yang sudah ditakdirkan untukku. Tak mudah menemukan wanita yang tak takut pada tikus serta bersifat keras dan berani.
Aku tak tahu apa yang dimainkan semesta. Saat aku ingin memulai strategi untuk menarik perhatianmu, ehm, takdir justru membuatmu mendekat sendiri ke arahku. Ck! Mengapa sangat aneh sih? Kau justru menangis di hadapanku karena Naren yang selingkuh. Ck! Sekarang kau tahu kan rasanya diduakan seperti apa? Diduakan itu sangat menyakiti mata dan menyebalkan. Tapi, ini bisa jadi kesempatan bagus untuk mulai menarik perhatianmu.
Lebih baik kuajak kau berlibur dulu, agar kau tenang dan bisa tersenyum lagi. Apalagi kakekku juga ingin bertemu denganmu Ternyata kau agresif juga ya saat perhatianmu bisa kutarik ke arahku sepenuhnya. Kau terus memelukku tapi tetap saja jahil padaku.
Ini liburan yang cukup menyenangkan. Kurasa baru kali ini aku bisa pergi bersamamu tanpa bayang-bayang Naren. Entah kenapa, nafsu makanku jadi meningkat. Aku memang sudah lama tak makan bakso. Astaga, aku merasa sakit perut, mungkin ini karena terlalu menambahkan terlalu banyak sambal cabai di kuah baksoku. Aku ingin kentut saat pemeriksaan tanganku tapi tetap saja tak bisa keluar.
"Bagaimana hasilnya, Dok?" tanyamu penasaran.
"Ehm, cederanya akan segera sembuh. Tapi masih butuh sekitar beberapa minggu lagi untuk sembuh," jawab Dokter itu.
Kau langsung tertunduk begitu mendengar hasilnya. Sebegitukah khawatirnya kau padaku.
"Minggu depan, jangan lupa kontrol lagi, Tuan," ucap Dokter itu.
"Terima kasih, Dokter," ucapku sambil berdiri dan menggandengmu keluar. "Sudah, jangan salahkan dirimu terus," ucapku. "Kalau kamu ingin memperbaiki kesalahanmu, maka jangan lagi jadi anak yang nakal. Jadilah, anak yang baik dan patuh pada saya ya," kuusap kepalanya dan kutatap matanya. Sebaiknya kugunakan momen ini untuk mulai semakin mengikat dirimu, Tikus Kecil. Hm, tumben dia diam saja dan hanya menggangguk. "Sudah, ayo kita jenguk Kakek saya," kugandeng dia lagi.
Aku dan dia menaiki lift menuju lantai yang dituju. Tak lama kemudian pintu lift terbuka. Aku segera menggandengnya menuju kamar kakekku dirawat. Di kamar itu nampak orang tuaku dan juga mama Si Tikus Kecil. Kakekku nampak sedang terbaring di ranjang.
__ADS_1
"Ah, cucuku Billy dan Qia!" ucap Kakekku ceria.
Astaga, mengapa sekarang rasanya perutku bergejolak. Ini momen yang tak pas untuk ijin keluar. Ayo, tahan, tahan. Mana mungkin aku mempermalukan diriku dengan kentut di sini.
"Kakek," Si Tikus Kecil menyapa dan mencium kakekku. Dia juga mencium tangan orang tuaku dan mamanya.
Yah, setidaknya dia punya tatakrama yang baik pada orang yang lebih tua. Dia terlihat lebih anggun dan menawan saat ramah seperti ini.
"Anak baik," puji Kakekku. "Aku tak salah memilih istri untuk cucuku, hahaha," Kakekku tertawa. "Kudengar kalian baru saja pergi berlibur, ya? Bagaimana liburannya?" tanya Kakekku. Astaga, aku sudah tak tahan lagi. Perutku terus bergejolak.
"Liburannya...." Tikus Kecil hendak menjawab.
DUTT!!!! Terdengar suara kentut yang sangat nyaring.
"Billy, kamu kentut, ya!" ucap Bunda. Astaga, ini hari paling memalukan dalam hidupku 😳
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Thank you 😍
__ADS_1