Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 56 - Kapan Diadakan?


__ADS_3

"Bapak!" kutarik piyama Si Balok Es. "Bapak mikir apa sih? Qia udah manggil Hubby malah dicueki. Saya kan nggak minta apa-apa cuma mau ngobrol sesuatu," aku terus menarik- narik piyama itu.


"Kamu ngobrol apa?" Balok Es akhirnya berbalik menghadap ke arahku.


"Hubby, kapan resepsi kita akan diadakan?" tanyaku sambil tersenyum.


"Kenapa kamu membicarakan itu sekarang? Kamu ingin menjadikan acara itu ajang balas dendam sama Naren?" Balok Es menatapku dengan tatapan tajam dan dingin. "Saya memang bisa jadi tempatmu untuk pulang tapi saya bukan alat yang bisa dijadikan senjata balas dendam."


"Bapak, Bapak kok mikir kayak gitu sih? Qia itu udah benar-benar kapok, Pak. Ehm...Qia cuma pengen segera aja hubungan ini diketahui publik ehm...biar ehm...kalo ehm...Qia punya niat melangkah ke tujuan yang salah lagi ehm...ada banyak mata yang bisa menjadi alaram pengingat untuk Qia agar tak melakukan langkah yang salah lagi...."


"Oh, begitu. Resepsi segera diadakan, tapi menunggu tangan saya sembuh terlebih dahulu. Makanya kamu jangan bandel dan nakal agar tangan saya bisa lebih cepat sembuhnya," sahut Balok Es.


"Iya, iya, Pak. Qia nggak akan bandel dan nakal lagi. Kali ini beneran, Pak. Qia udah beneran kapok."


"Ehm...saya pegang ucapanmu ini. "


"Tapi, Pak. Kata Bapak besok mau resepsi dengan identitas sebagai Pak Billy, Si Dosen. Bukan cuma Tuan Rexford aja. Tapi, kan kalo ehm...kita langsung resepsi gitu aja sambil mengundang tamu dari kampus kan ehm...kesannya dadakan dan aneh. Nanti takutnya ehm...Qia kena ehm...gosip murahan lagi...." aku mengatakan apa yang kupikirkan.

__ADS_1


"Tenang, saya sudah memikirkannya. Mulai besok, kita jalankan rencana agar hubungan ini diketahui publik sebelum resepsi itu digelar. Agar kamu dan saya terhindar dari gosip murahan," Balok Es melingkarkan tangan kirinya ke pinggangku.


"Rencana?" aku penasaran. "Rencana apa, Pak?"


"Kamu akan tahu besok. Sudah sekarang tidur ya. Jadilah, anak yang baik dan segeralah tidur," Balok Es memejamkan matanya. Suatu pertanyaan timbul kembali di pikiranku.


"Pak,Pak, Pak!" aku mengguncang-guncang tubuh Si Balok Es. "Bangun,Pak! Bangun! Qia mau nanya sesuatu yang penting munpung inget nih!" aku terus mengguncang-guncang tubuh Si Balok Es. "Ayo, Pak, bangun! Bangun!"


"Kamu mau tanya apalagi sih?" Balok Es kembali menatapku.


"Umur Bapak berapa sih? Qia kan pengen tahu, Pak. Mumpung inget nih!"


"Hehehe," aku tertawa. "Saya nggak pernah buka website universitas lagi. Hehehe, terakhir buka waktu masih jadi maba (mahasiswa baru)," jawabku.


Terakhir aku membuka website itu untuk melihat pengumuman penerimaan maba dan jadwal ospek. Setelah itu tak pernah membukanya lagi. Aku lebih sering mengetahui informasi tentang kuliah atau kampus dari sosial media.


"Kamu beneran nggak tahu umur saya?" tanya Balok Es lagi. Aku menggeleng-geleng. Justru karena aku tak tahu makanya sekarang aku bertanya mumpung ingat. "Cari tahu sendiri, kamu sudah besar," Balok Es tidur membelakangiku.

__ADS_1


"Ih, Bapak. Mumpung Qia ingat, Pak. Atau....jangan-jangan Bapak udah mau umur 50 tahunan ya, Pak? Bapak cuma keliatan muda dari cover-nya aja tapi dari segi umur udah tua banget. Astaga! Qia beneran nikah sama om-om!" kupancing Si Balok Es.


"Ck! Saya tak setua itu, tahu!" Balok Es berbalik. "Kita hanya selisih 10 tahun, tambahkan sendiri dengan usiamu!" Balok Es kembali tidur membelakangiku.


Aku berpikir, usiaku sekarang 22 tahun kalo ditambah 10 tahun berarti 32 tahun. Wow! 😮 Balok Es ternyata masih sangat muda. Kukira usianya 40 tahunan lebih. Kurasa aku tak pantas memanggilnya Bapak lebih baik kupanggil....


"Kak Billy, Kak Billy...." ucapku manja. "Kak Billy, Qia jangan dicuekin dong! Kak Billy, jangan galak-galak dong sama Yaya. Kak Billy, Yaya kan takut kalo punya hubby yang galak," aku memeluk Balok Es dari arah belakang. "Kak Billy, Qia Loves You 1 Billion!" bisikku di telinganya. Aku memejamkan mataku.


"Mulutmu semakin lihai, Tikus Kecil," kurasakan Balok Es memelukku dengan erat. Apa pun rencana Si Balok Es, pikirkan dan hadapi besok. Kupejamkan mataku kembali.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2