Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Eposode 70 - Foto....


__ADS_3

(Brilliant Rexford Hutama's Point of View)


"Kok dadakan, sih?" dia terus mengeluarkan keluhan. "Bapak kok nggak bilang, sih?" ucapnya ketus. Dia masih memanggilku Bapak kembali ketika sedang kesal atau merasa tak nyaman. "Qia kan belum siap-siap, tahu!" ucapnya dengan bibir manyun. Padahal wajahnya sedang dipoles dengan bedak. Biarpun manyun bercampur cemberut tapi wajahnya tetap terasa eh...menawan.


"Kita hanya akan berfoto, Tikus Kecil!" sahutku. Ck! Jika dia bersikap keras, aku juga harus tetap dingin padanya.


"Tapi, Qia belum luluran, belum facial, belum menicure, belum menicure dan belum creambath! Bapak bilang dong kalo mau foto buat prewedding!" dia menatap ke arahku dengan tatapan tajam.


"Kau hanya akan difoto dari jauh. Kenapa harus dibuat ribet? Yaya tetap cantik meski tak ke salon," aku berusaha merayu agar dia diam sampai proses make up wajahnya selesai.


"Tapi, Qia ingin foto prewedding ini berkesan, Pak! Biar berkesan dan hasilnya maksimal, Qia juga harus persiapan yang maksimal!" ucapnya lagi.


Jadi kau ingin foto ini berkesan dan hasilnya bagus, Yaya? Tak kusangka kau memiliki niat sebesar itu.


"Ini bukan foto prewedding, Tikus Kecil!" sahutku. "Kita sudah resmi menikah. Ini foto setelah kita menikah. Sudah, diamlah! Agar riasanmu cepat selesai."


"Iya, iya, Pak eh Kak!" celetuknya.


Akhirnya kau menyadari kesalahanmu, Yaya. Hah! Kuhela napasku. Aku ingin kau memanggilku dengan panggilan lain, selain Bapak, agar kita semakin dekat. Aku ingin kau mengganggapku sebagai pasanganmu bukan sekedar seorang dosen yang ditakdirkan menikahimu.


Wajah mungilnya mulai dipoles dengan berbagai macam riasan. Ehm, aku tak tahu apa namanya. Aku sengaja memesan gaun sekaligus paket foto di butik ini agar tidak ribet. Aku tak bisa memungkiri meski Si Tikus Kecil nakal dan membuatku jengkel tapi aku suka pada parasnya yang menawan. Apalagi jika dia dipoles dengan make up seperti ini, dia nampak lebih memesona dan anggun. Memang paling tepat jika rambut panjangnya diurai saja, tidak diikat seperti biasanya.


Tak masalah menunggu lama untuk persiapan Si Tikus Kecil. Ini kesempatan untukku agar bisa menatapnya semakin lama saat matanya terpejam akibat dirias. Jika kutatap dia lama-lama, bisa-bisa dia mengejekku.

__ADS_1


"Qia memang cantik, Kak! Kakak kalo mau natap tatap aja!" terdengar suara yang membuyarkanku. Ck! Ternyata Si Tikus Kecil sedikit mengintip. Dia pasti sedikit membuka matanya.


"Dasar terlalu percaya diri! Saya tak menatapmu, saya menatap...." aku berpikir sejenak. Apa yang harus kukatakan ya. "Saya menatap detail ruang rias ini, tahu!" sahutku.


"Riasannya sudah selesai, Tuan!" ucap perempuan pegawai butik ini.


"Ini gaun yang Anda minta, Tuan!" ucap desainer butik ini.


"Tolong bantu istriku memakainya!" sahutku. Desainer dibantu dua orang pegawai membantu Si Tikus Kecil berganti baju di ruang sebelah.


"Gimana, Kak? Qia cantik kan?!" teriak Si Tikus Kecil dengan percaya diri.


Yaya, kau memang memesona dan anggun dengan gaun warna kuning keemasan itu. Gaun itu serasi dengan jas yang sudah kukenakan. Yaya, warna emas kupilih sebagai lambang harapan agar hubungan kita bisa tahan lama tak terkikis waktu dan jaman seperti logam emas.


Aku dan Si Tikus Kecil segera berpose sesuai arahan photographer itu. Photographer ini seorang wanita. Ya, aku sengaja memilih photographer wanita untuk menghindari tatapan nakal yang sangat mungkin diarahkan pada Yaya.


Aku tak suka jika pria lain menatap Si Tikus Kecil. Cukup di masa lalu saja itu terjadi, mulai saat ini, takkan kubiarkan itu terjadi. Foto diambil dari arah samping. Aku memegang pinggang Si Tikus Kecil dengan tangan kiriku. Si Tikus Kecil bisa terlihat kupeluk dari arah belakang. Lewat pose ini tangan kananku yang masih cedera bisa disembunyikan.


"Satu...dua...." terdengar suara photographer itu. "Yak! Pertahankan posenya! Tiga..." ucap. photographer itu. Lampu blitz sudah menyala satu kali. Satu foto sudah berhasil diambil.


"Ganti pose!" celetuk Si Tikus Kecil.


"Tidak! Ulangi saja pose ini!" perintahku sambil memegangi pinggang Si Tikus Kecil dengan erat. "Coba ambil dari sudut yang berbeda!" perintahku.

__ADS_1


"Baik, Tuan," ucap photographer itu. "Satu...dua...." dia mulai menghitung sambil membidikkan kamera ke arah kami lagi. "Tiga...." saat itu lampu blitz sudah menyala.


Tikus Kecil, apa yang kau lakukan? Bibirku tiba-tiba saja dicium olehnya. Kedua tangannya memegang pipiku dengan kuat. Aku tertegun, tubuhku masih kaku karena kaget. Saat lampu blitz sudah mati, nampak desainer, para pegawai butik, June dan kru photographer terkejut dan seolah membatu.


"Bagaimana hasilnya?" Si Tikus Kecil dengan santai berlari ke arah photographer itu.


"Ini hasilnya, Nona!" photographer memperlihatkan layar kamera itu kepada Si Tikus Kecil. Dia melihat hasil bidikan di kamera itu dengan wajah yang terlihat serius.


"Bagus, bagus!" puji Si Tikus Kecil. Dia berjalan ke arahku. Leherku langsung dirangkulnya begitu saja. Satu kecupan mendadak terasa di pipi kiriku. "Bagus, cap bibir yang sempurna!" teriaknya dengan percaya diri.


Astaga, Yaya, apa kau tak tahu jika semua orang ada di sini sejak tadi menatap kita. Apa yang kau lakukan, Tikus Kecil? Aku tak percaya ini, kecupan tiba-tiba saja menempel di dahiku.


"Sempurna!" teriak Tikus Kecil lagi. "Foto lagi, ya!" ucap Si Tikus Kecil. Dia mengarahkan wajahku ke arah kiri. Tangan kiriku dia arahkan agar menempel di pinggangnya. Kedua tangan Si Tikus Kecil merangkul leherku. Wajah Si Tikus Kecil menempel di pipi kananku. Kau berpose atau sebenarnya ingin mencium pipiku sungguhan sih?


"Aku siap berfoto!" teriaknya. Lampu blitz itu kembali menyala. Astaga, Yaya, kenapa sekarang kau agresif sekali sih?! 😟


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2