Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 35 - Akting atau Modus?


__ADS_3

"Jangan, Jeng. Ini masih pagi. Menginaplah di sini!" Nyonya Belvana menahan Mama. "Billy, bolehkan Jeng Lia menginap di sini?" tanya Nyonya Belvana. Balok Es hanya mengganguk. Sampai kapan aku harus berakting seperti ini? Balok Es, kau benar-benar menyebalkan! 😣


"Billy, Qia, kalian sudah sarapan?" tanya Nyonya Belvana.


"Belum, Bunda," jawab Balok Es singkat.


"Ya, sudah. Ayo pergi ke rumah depan, kita makan bersama di sana," ajak Nyonya Belvana. Aku pun mengikuti beliau bersama Si Balok Es dan Mama.


Di ruang makan rumah itu telah tersaji aneka hidangan. Kebanyakan berupa sayuran. Ruang makan ini luas sekali, mungkin cukup untuk menampung hingga 20 orang. Terdapat meja makan panjang berwarna kuning keemasan. Meja itu berpasangan dengan kursi kuning keemasan. Sungguh anggun dan indah. Mama duduk di dekat Nyonya Belvana. Balok Es mengambil posisi duduk berseberangan dengan keduanya. Aku pun terpaksa mengikutinya.


"Billy, ini makanan kesukaanmu! Ada nasi goreng seafood, ada spagheti, ada sayur," Nyonya Belvana menunjukkan semua makanan yang tersaji di meja. "Mama sengaja menyuruh koki menyiapkannya untukmu. Ayo, dimakan biar badanmu nggak kurus!" tangan Nyonya Belvana menyajikan makanan ke piring Si Balok Es. Kurasa karena dia anak tunggal, dia jadi amat dimanja. "Ayo, Qia, Jeng Lia, ayo ini dinikmati masakannya," Nyonya Belvana menyajikan makanan ke piringku dan Mama. Nasi goreng yang tampak lezat sudah tersaji di piringku ini


"Ehm," terdengar suara Si Balok Es. Astaga, kau ini kenapa. Mengapa kau menyandar di bahuku? Dasar Balok Es, Tukang Modus!


"Billy, kamu kenapa?" tanya Mama. "Kamu sakit?" Mama nampak khawatir.


"Saya nggak papa, Tante. Cuma sedikit pusing," mata Balok Es melirik ke arah mataku. "Mungkin karena efek benturan kemarin. Rasanya masih sedikit nyeri," Balok Es kurasa sengaja mengatakannya dengan nada memelas nan manja. Kau pasti berpura-pura!


Saat kulihat dahi Si Balok Es ternyata memang ada luka lecet yang cukup dalam. Ehm, mungkinkah dia benar-benar merasa nyeri?


"Apa masih terasa sakit?" kusentuh dahi Si Balok Es.


"Sakit, Yaya," ucapnya lirih. Dia mengeluarkan sinar mata manja nan memelas. "Aku ingin istirahat, tapi aku lapar, " ucap Si Balok Es manja.


Apa ini kode untukku? Kau ingin aku menyuapimu kan? Aku menghela napas. Balok Es jika ini hanya akting, kau memang aktor amatir yang patut dipuji.


"Ya, sudah. Aku akan menyuapimu, Sayang," sahutku sambil menyodorkan sesendok nasi goreng ke mulutnya.

__ADS_1


"Ehm,aku ingin makan spagheti, " pinta Balok Es dengan manja.


Aku pun mengambil piring baru dan menaruh spagheti di atasnya. Kupotong spagheti itu dengan sendok dan kugulung dengan garpu. Kusuapkan gulungan kecil ke mulut Si Balok Es. Balok Es, apa yang kau lakukan? Saat aku hendak menyuapkan spagheti itu, mulut Si Balok Es bergerak ke sana kemari seakan sengaja menghindar. Otomatis saus spagheti itu belepotan di sekitar mulutnya. Balok Es, kau sengaja mempersulitku kan?!


"Ayo, buka mulutmu, T-Rex Tersayang," ucapku lembut. Dia baru mau menerima suapanku. Aku terpaksa harus mengelap sisa saus di sekitar mulutnya dengan tisu makan. Beberapa suapan spagheti sudah berhasil terlaksana. Aku hendak menyuapkan suapan selanjutnya ke mulut Balok Es.


"Jangan sampai kamu kelaparan, Yaya," Balok Es mengambil garpu tertancap gulungan spagheti itu dengan tangan kirinya. Dia hendak menyuapkannya ke mulutku.


Astaga, garpu ini yang telah tersentuh mulut Si Balok Es. Mama dan Nyonya Belvana seakan mematung mengamati reaksiku. Jika aku menolak pasti terlihat aneh. Ya sudah, terima saja.


"Aku akan menyuapimu lagi, Yaya," tangan Balok Es mengambil gulungan spagheti itu. Ia menyuapkan satu gulungan besar dengan banyak saus ke mulutku. Aku pasrah menerimanya.


"Makannya jangan belepotan!" ucap Si Balok Es.


Ini karena suapanmu tadi tahu! Balok Es membersihkan sisa saus di sekitar mulut dan pipiku dengan tangan kirinya. Balok Es, kau mencari kesempatan, ya! Dia mengusap-usap area sekitar mulutku dengan jangka waktu yang lama meski kurasa sisa saus itu sudah hilang. Sial! Mengapa sentuhannya membuat jantungku berdebar kencang? Dia menyuapiku dengan gulungan spagheti dan kembali membersihkan atau lebih tepatnya membelai area pipiku dengan modus membersihkan saus berulang kali.


Balok Es, kau sebenarnya sedang akting atau sedang modus? Mama dan Nyonya Belvana seakan tak berkedip melihat aksi Si Balok Es ini.


"Sudah, T-Rex Tersayang," sahutku lirih. Kuharap dia menghentikan aksinya sekarang.


"Yaya, aku ingin makan rambutan," ucap Si Balok Es sambil menunjuk buah rambutan merah yang tersaji di meja. Kuambil satu rambutan kukupas rambutan itu dengan cepat. Rambutan itu sekarang tinggal biji dan daging buahnya saja. Tanganku sudah siap untuk menyuapkannya ke mulut Si Balok Es. Buah rambutan itu sudah sampai ke mulutnya.


"Ehm...." dia mengeluarkan buah itu lagi. "Rahang dan gigiku sedang sakit akibat benturan kemarin. Aku tak bisa menggigitnya langsung, " Balok Es mengeluarkan suara manja diikuti tatapan memelas.


Dasar Balok Es, kau memang menyebalkan! Kau ingin aku yang memisahkan daging buah ini dari bijinya dengan mulutku kan?! Buah ini sudah bersentuhan secara langsung dengan mulut Si Balok Es. Astaga, dua pasang mata di seberang meja terus mengawasiku. Ya sudah lakukan saja. Kugigit buah rambutan itu untuk memisahkannya dari bijinya. Daging buah yang telah terpisah kusuapkan ke mulut Si Balok Es. Apa ini juga bagian dari hukumanku? Balok Es menerima suapan itu dengan lahap.


"Ehm...Billy...." panggil Mama. Dia nampak meletakkan kembali smartphone-nya. Kurasa Mama baru saja menerima pesan.

__ADS_1


"Iya, Bunda Lia, " panggil Si Balok Es.


Aku menghela napas. Kau sungguh pandai mencari muka, Balok Es. Mamaku kau panggil Bunda juga sekarang.


"Ehm...begini...ada acara keluarga yang ingin ehm...Bun...da....hadiri...ehm..." Mama nampak ragu mengatakannya. Dia terbata-bata mengatakan permintaannya. "Ehm...Bunda ingin mengajak Qia...apakah kamu...." kurasa Mama ingin meminta ijin untuk membawaku pergi.


"Tentu, Mama. T-Rex Tersayang pasti mengijinkanku pergi sebentar. Mama tak perlu ragu mengatakannya. Aku tetap anak Mama, " sahutku sebelum Mama selesai bicara. Aku ingin bebas sejenak dari bayang-bayang Balok Es Gila ini. "T-Rex Tersayang, ijinkan Yaya pergi sebentar ya. Ini hanya beberapa saat, kita takkan terpisah lama. Yaya takkan nakal. Kau tak perlu khawatir, luka Yaya sudah sembuh," aku harus berakting seakan-akan kecewa akan berpisah sejenak dari Si Balok Es.


Aktingku harus menyakinkan agar setelah acara keluarga itu Mama langsung pulang ke rumah dan tak menginap di sini lagi. Dia harus diyakinkan bahwa hubunganku dan Balok Es baik-baik saja dan seolah-olah aku mencintai Balok Es bahkan mungkin sampai menjadi budak cinta. Aku juga harus membuat Mama yakin bahwa lukaku akibat insiden saat kunjungan ilmiah itu sudah sembuh.


"Ehm, Qia, Mama ingin mengajakmu dan Billy ikut pergi ke sana. Mama ingin memperkenalkan kalian di depan keluarga besar kita," sahut Mama. Aku terdiam sejenak. Aku malu sudah salah paham begini! 😣


"EHM...pft...." terdengar suara tawa kecil. Balok Es nampak berusaha menahan tawa. Kurasa dia menertawakanku yang salah paham.


"Apa yang kamu tertawakan Billy?" Nyonya Belvana menatap ke arah Si Balok Es.


"Tak ada, Bunda. Tentu, Billy akan ikut ke acara keluarga bersama Qia."


"Ya sudah, kita akan berangkat sebentar lagi. Jangan lupa pakai baju couple, Qia. Mama rasa kamu mulai menjadi budak cinta semenjak menikah, " Mama nampak menahan tawa.


Mama aku bukan budak cinta pada Si Balok Es ini 😣. Bukan kemauanku bersikap seperti budak cinta. Bisakah aku pergi sendiri saja? Acara keluarga seperti apa sih yang harus dihadiri?


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2