Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 40 - Aku Merasa Murahan


__ADS_3

Bapak, sekarang saya paham bagaimana perasaan Bapak. Jika memang Bapak punya rasa memiliki terhadap saya pasti rasanya seperti ini. Rasanya sakit seperti terkena ribuan duri di dalam dada. Rasa itu bercampur dengan rasa sedih dan cemburu. Rasanya sakit sekali 😢. Pak, apakah ini hukuman? Apa Qia sedang terkena hukuman karena bermain api di depan muka Bapak? 😢


Aku terus menangis sambil memeluk Si Balok Es. Dia duduk di tepi ranjang sebelah kiriku. Aku duduk di tengah ranjang dengan posisi kedua kaki lurus. Kakiku terasa sakit karena jatuh tadi. Rasanya perih.


"Apa rasanya sakit sekali?" tanyanya lembut sambil mengusap air mataku dngan tangan kirinya.


Aku hanya diam saja sambil memeluk tubuh Si Balok Es semakin erat. Luka di kaki saya tak sakit, Pak. Hati saya yang pedih tersayat-sayat. Rasanya hati ini sudah hancur dan remuk.


Empat tahun bukan waktu yang sebentar bagiku membangun sebuah dinding kepercayaan yang kokoh. Membangun dinding kasih sayang hanya untuknya seorang. Sekarang dua dinding itu runtuh dalam sekejap.


"Tolong pelankan proses pembersihan lukanya!" perintah Balok Es.


Saat ini kurasa aku dibawa ke hotel atau mungkin rumah milik Balok Es. Aku ada di sebuah kamar bersama Balok Es. Ada seorang dokter wanita dan seorang perawat wanita dipanggil kemari untuk mengobati lukaku akibat jatuh. Kurasa luka di kakiku hanya lecet dan cedera akibat terjatuh.


"Jangan menangis!" Balok Es mengusap kepalaku lembut.


"Ba...pak...." panggilku.


Aku justru menangis semakin keras. Aku seperti seorang wanita murahan saat ini. Aku telah dikhianati seorang lelaki yang mungkin bisa dibilang selingkuhanku. Tapi, aku sekarang menangis dan bersandar pada lelaki yang berstatus suamiku. Dia selalu kutaruh di urutan kedua di hatiku. Aku selalu membencinya dan menggangapnya sebagai pengganggu.


Aku benar-benar merasa malu saat ini. Aku bersandar pada Balok Es sambil menangis. Tak ada orang lain yang bisa kujadikan sandaran. Bukankah aku sangat murahan saat ini? Tapi mau bagaimana lagi? Aku tak mungkin mengadu pada orang tuaku.


"Sudah, jangan menangis," ia mengusap air mataku. "Apa yang membuatmu menangis?" tanyanya lembut. "Apa ada karyawan di kantor yang menggertakmu? Katakan saja! Saya akan lamgsung menghukumnya," ia menatapku dengan lembut. "Tak perlu takut. Katakan siapa yang sudah membuatmu menangis?" air mataku diusap dengan lembut.

__ADS_1


Pak, bagaimana saya harus bilang jika Naren yang membuat saya menangis? Bagaimana saya harus bilang pada Bapak?


"Ehm...." mulutku kaku. Aku hanya terus menangis dan menangis.


"Ada apa? Kau biasanya tak cengeng seperti ini. Apa kau ada masalah di kampus?"


"Tuan, proses pengobatannya sudah selesai," ucap Dokter itu.


"Terima kasih, kalian boleh pergi!" perintah Balok Es. Kedua orang itu pergi dari kamar ini.


"June bilang kau dan temanmu datang ke kantor untuk mengundang saya jadi pembicara seminar. Apa ada pegawai kantor yang berbuat tak menyenangkan padamu?" tanya Balok Es lagi. Aku menggeleng pelan. "Apa kau ada masalah dengan teman-temanmu? Dari pantauan CCTV di kantor kau datang dengan Naren...."


Balok Es sudah menyelidikinya hingga sedetail ini. Aku harus menjawab apa? 😢 Bagaimana caraku menjelaskannya? 😢


"Semua baik-baik saja, sampai Naren menyerahkan smartphone-nya padamu. Kau terkejut saat memegang benda itu. Lalu menangis sambil berlari keluar kantor. Ada apa? Mengapa kau menangis?" dia menatapku dengan tatapan lembut.


Aku sungguh amat malu. Balok Es sudah banyak kumaki tapi saat ini aku bersandar padanya. Aku bahkan sudah berkali-kali bermain api di depan wajahnya secara langsung. Balok Es nampak terdiam sambil menatapku.


"Sudah, jangan menangis," Balok Es menghapus air mataku. Dia menatapku dengan tatapan lembut di mata dinginnya itu.


"Ba...pak...." panggilku.


"Ada apa? Saya masih di sini. Saya takkan pergi. Sudah, tenangkan dulu dirimu," ia menghapus air mataku.

__ADS_1


"Ma...af...kan, Qi...ya, Pak...." ucapku lirih sambil tertunduk.


Hanya itu yang bisa kuucapkan. Aku tak bisa menghapus semua yang sudah kulakukan. Aku tak tahu seperti apa posisiku di hati Si Balok Es tapi dia tetap suamiku. Suami yang seharusnya kupatuhi dan kuhormati. Bukan kubentak dan kusakiti.


"Tenangkan dulu dirimu," dia menghapus air mataku lagi. "Tenangkan dirimu dulu. Tak perlu pikirkan hal lain dulu."


Pak, apa Bapak tak mengerti maksud saya? Apa Bapak masih menyimpan kemarahan pada saya? Pak, sebenarnya posisi Qia di hati Bapak itu apa? Bapak anggap Qia apa?


"Pak...." panggilku lirih.


"Ehm," sahutnya lirih.


"Bagaimana jika Qia ingin jadi istri Bapak yang sesungguhnya?" ucapku lirih.


Aku tahu ini terkesan memalukan. Aku tahu aku terkesan murahan. Tapi hanya ini yang ada di otakku sekarang. Balok Es menatapku dengan tatapan lembut dan dingin.


Pak, apa Bapak sudah membenci Qia? Aku berdebar dan takut menunggu jawaban itu. Apa yang akan dikatakan Balok Es? 😢


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄

__ADS_1


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍


__ADS_2