Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 96 - Panggilan....


__ADS_3

"Kak Billy," panggil Qia dengan manja. Dia bergelayut manja di lengan Billy. Billy yang sedari tadi menatap ke arah jendela mobil, kini menatapnya.


"Ehm...." sahutnya singkat.


"Kita mau kemana? Mau honeymoon, ya, Hubby?" tanya Qia sambil tersenyum lebar.


"Kau nanti juga tahu," sahut Billy sambil menatap kembali ke arah kaca jendela mobil.


"Ih, padahal tadi pagi mulutnya manis dan hangat. Sekarang dingin lagi...." ucap Qia. "Hubby, kau memang tuan muda yang dingin...." bisik Qia. "Eh!" dagu Qia dipegang dengan tangan kanan Billy. Billy memberikan ciuman pada bibir Qia.


Kak Billy, kamu main serang aja, gumam Qia.


"Billy...." ucap Qia spontan saat ciuman itu berakhir.


"Aku bukan orang yang dingin atau pun hangat. Aku hanya bersikap sesuai kondisi dan kemauanku, Yaya. Oh ya, jangan plin-plan...." ucap Billy. Raut wajahnya nampak biasa saja. Dia menarik kedua pipi Qia dengan kedua tangannya. "Panggil aku dengan benar, mulai sekarang!" ucap Billy.


"Aku sudah benar memanggilmu! Aku tak pernah lagi memanggilmu dengan sebutan Bapak," sahut Qia.

__ADS_1


"Aku selalu memanggilmu dengan panggilan Yaya. Kau masih sering menyebutku dengan panggilan yang tak tepat," Billy menatap Qia.


Kode lagi. Dia maunya apa, sih? gumam Qia sambil menghela napas. Coba kupikirkan. Katanya Yaya adalah panggilan sayang darinya untukku. Panggilan itu dibuat saat aku membuat panggilan yang itu. Apa dia ingin kembali dipanggil dengan sebutan itu? gumam Qia lagi.


"T-Rex Tersayang! Jangan marah!" panggil Qia. Mata Billy justru menatapnya semakin tajam.


"Huh!" Billy membuang muka.


Eh, salah, ya? Aku panggil itu dia nggak suka. Berarti yang itu salah. Panggil Bapak juga salah. Aku baru saja memanggilnya Kak Billy dan Hubby, tapi dibilang plin-plan. Mungkin jika Kak terkesan aneh, ya. Kalo begitu mungkin yang benar yang ini, gumam Qia.


Astaga, Yaya, ini hampir sampai. Kau justru memberi tanda di pipiku. Kau sudah tak malu-malu lagi rupanya, gumam Billy.


"Ehm...maaf...sudah sampai, Tuan, Nona," ucap Pak Sopir dengan ragu.


"Ehm...." sahut Billy. "Keluarlah terlebih dahulu, Yaya," ucapnya. Tangan kanan Billy mengambil tisu.


"Nggak usah malu, Hubby. Sini, aku tak keberatan kok kalo tanda kiss dariku dihapus dulu. Nanti, aku bisa buat lagi yang lebih banyak sebagai kompensasi karena yang ini dihapus sekarang, hihihi," ucap Qia sambil menyeka pipi kanan Billy dengan tisu basah.

__ADS_1


Kurasa kau memang sudah tak malu-malu lagi untuk beraksi, Yaya, gumam Billy.


Billy mengandeng tangan Qia. Mobil itu terparkir di depan sebuah bangunan. Bangunan itu cukup luas. Warna bangunannya didominasi warna biru langit. Atapnya berwarna biru tua. Jendela dan pintunya berwarna coklat tua. Ada papan nama yang cukup besar di depan bangunan itu.


"Panti Asuhan XXX?" ucap Qia spontan. "Mau apa kita kemari?" tanya Qia.


"Kau akan tahu nanti, Yaya," sahut Billy. Dia menggandeng tangan Qia masuk ke dalam.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel


Thank you 😍

__ADS_1


__ADS_2