
"Narendra!" terdengar panggilan dari arah pintu. Qia reflek memandang ke arah pintu. Rupanya itu Pak Erik. "Kamu ngapain bengong di deket pintu? Ayo masuk! Kamu mau konsul kan?"
"Ehm ... i ... ya, Pak," sahut Naren. Dia segera masuk ke dalam ruang dosen itu.
Sekarang sendiri lagi. Syukurlah, aku bisa terbebas dari Naren. Sekarang aku harus kemana ya? Biasanya kan kalo udah konsul KRS terus pulang, gumam Qia. Kakinya hendak melangkah hendak menuruni anak tangga.
"Aku dag dig dug, nih, Gaes!" terdengar suara celoteh perempuan dari bawah arah bawah. "Ini pertama kalinya kita mau bimbingan sama Prof. Rexford!"
Qia menatap ke arah sumber suara itu. Rupanya orang mahasiswi yang berpakaian rapi. Ketiganya memakai kemeja serta rok kain. Di tangan ketiga nampak lembaran-lembaran kertas yang dijepit jadi satu.
Ternyata kakak tingkat. Mereka pasti anak bimbingannya Hubby. Ih, kok ada yang dandanannya menor banget,sih. Blush on sama lipstick-nya cetar banget, gumam Qia. Dia memandang ke arah ketiga mahasiswi yang perlahan menaiki anak tangga itu.
"Eh, dandananku udah oke belum?" tanya seorang mahasiswi dengan make up cetar.
"Kamu mau ngapain? Kita ini mau bimbingan, tahu!" sahut mahasiswi lain yang berambut keriting. "Ehm, tapi boleh juga sih dandan. Sini! Pinjem lipstick-mu!"
__ADS_1
"Ih, loe ternyata sama aja!" ujar mahasiswi satu lagi. Dia berambut pendek sebahu. "Eh, gue juga pinjem dong, hehehe."
Ketiganya berhenti sejenak. Mata Qia masih terus memandang ke arah mereka. Ketiga mahasiswi itu sibuk merias diri mereka.
"Eh, tapi kan Prof. Rexford udah nikah. Ini kan jadi berita heboh sefakultas. Istrinya kan adek tingkat kita!"ujar mahasiswi berambut pendek.
"Emang kenapa kalo udah nikah? Gue tahu kok istrinya kayak apa. Prof. Rexford itu masih muda, dia kaya dan pintar. Cowok idaman gue bangetlah! Biar pun kata orang galak tapi bagi gue dia itu dosen yang paling cool!" ujar mahasiswi dengan make up cetar.
"Hush! Ngawur kamu! Dia udah married! Loe mau jadi pelakor? Sadar, dong! Sadar!" ujar mahasiswi berambut pendek.
Ketiga mahasiswi itu menaiki tangga dengan semangat. Mata Qia memandang ke arah ketiganya dengan tatapan amat tajam.
Aku mencium bau-bau pelakor. Huh! Jangan harap bisa merebut Hubby-ku! Aku punya ide cemerlang, gumam Qia. Tangan kiri Qia segera mengeluarkan smartphone dari totebag-nya. Dia segera memulai rencananya.
"Halo, Hubby!" ucap Qia sekeras mungkin. "Ah, kau mau membimbing skripsi ya. Iya, jangan khawatir, aku juga masih ada kegiatan kok!" Qia berpura-pura menelpon Billy. "Hubby, jaga hatimu, ya. Ehm ... nggak papa sih, aku cuma nggak sengaja dengar ..." teriak Qia. Dia sengaja salah berbicara, seolah menyampaikan apa yang didengarnya tapi dia tarik kembali. "Aku ceritain lewat pesan chat aja ya. Kamu kan tahu sendiri, kamu itu tampan dan masih muda. Aku khawatir aja gitu. Pokoknya jaga hatimu buatku ya, ehm ... mata dan telingaku itu lebih teliti daripada CCTV, hehehe. Udah dulu ya ... bye. Aku kirim tontonan bagus buatmu, hahaha." Qia menutup sambungan telepon itu. Dia melirik ke arah ketiga mahasiswi itu. Nampak ketiga mahasiswi itu tertegun. Ketiganya memasang wajah panik.
__ADS_1
"Mari, Kak," sapa Qia dengan ramah. Dia segera bergegas menuruni tangga. Dirinya berpapasan dengan ketiga mahasiswi itu.
"Duh, kamu sih! Gimana, nih! Ternyata ada istrinya Prof. Rexford. Mau ditaruh mana muka gue kalo Prof. Rexford udah tahu!" ucap mahasiswi ber-make up paling cetar.
"Aku nggak jadi bimbingan aja, deh. Malu!" ucap mahasiswi berambut keriting.
"Aku juga mau pulang aja!" ujar mahasiwi berambut pendek.
Hihihi, padahal tadi aku cuma pura-pura nelpon Hubby. Mana sempet videoin kalian, Kak. Huh! Dasar penakut! Makanya jangan remehkan aku, Qiandra Kalya Santoso, hihihi, gumam Qia.
______________________________________
Maaf baru bisa update
Author weekend minggu lalu sedang ada acara keluarga
__ADS_1