Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)

Rektorku, Dosenku, Suamiku (Di Paksa Menikah Dengan Balok Es)
Episode 94 - Kode....


__ADS_3

"Kak Billy, ini dimana?" tanya Qia sambil melingkarkan tangannya di leher Billy.


"Menurutmu ini dimana?" tanya Billy balik. Dia menggendong Qia memasuki rumah itu. Sebuah pintu depan besar berwarna putih seakan menyambut kedatangan mereka. Pintu itu terbuat dari kayu.


Ih, Kak Billy, kamu tetap aja suka main kode-kodean. Tapi, aku suka digendong kayak gini. Berasa jadi tuan putri di dunia nyata, gumam Qia dia menatap wajah Billy yang fokus menatap ke arah depan. Ruang tamunya bagus banget. Kursinya warna merah dipadukan dengan ruangan yang berwarna putih. Minimalis tapi tetap terkesan elegan dan mewah, gumam Qia.


"Pangeran Billy," panggil Qia.


"Ehm...." sahut Billy singkat.


"Ini istana kita, ya?" tanya Qia.


"Ehm...." Billy menggantung jawaban dari pertanyaan Qia. Pandangannya saat ini sedang fokus menaiki tangga menuju lantai dua rumah ini.


Jawaban pertanyaanku digantung. Ah, tapi suka deh, digendong naik tangga kayak gini, hihihi. Kak Billy, sering-sering dong gendong Qia. Tangganya juga bagus. Dilapisi karpet warna merah. Aku suka, gumam Qia.


Yaya, kamu ternyata ringan banget. Apa aku kurang ya ngasih makan ke kamu? Apa masakan di rumah nggak cocok sama seleramu? gumam Billy.


Di lantai dua rumah itu nampak pintu-pintu kamar berwarna putih. Dinding di lantai dua berwarna soft pink. Billy membawa Qia menuju salah satu kamar.


"Wow!" ucap Qia saat Billy membawanya masuk ke kamar itu.


Nampak sebuah kamar tidur bercat dinding warna dusty pink. Warna furniturnya didominasi warna soft pink. Qia dibaringkan di sebuah ranjang. Sprei ranjang itu berwarna pink nyaris putih. Di kamar itu ada sebuah lampu gantung kristal. Lampu gantung itu tingkat sepuluh. Kristalnya berwarna pink. Lantai kamar dilapisi dengan marmer warna putih.


Ini warna favoritku, gumam Qia.


BRUK!!! Terdengar suara benda jatuh. Billy menjatuhkan dirinya di ranjang. Dia berbaring tepat di sebelah Qia.


Capek juga ternyata gendong dari lantai satu ke lantai dua, gumam Billy.


"Yaya," ucap Billy saat Qia berbaring tengkurap tepat di atas tubuhnya.


Kamu mau apa lagi, sih? gumam Billy.


Langsung aja deh, gumam Qia. Dia langsung mencium wajah Billy. Bibir, pipi, dahi, tak luput dari ciumannya. Tanda merah lipstick Qia terlihat jelas di wajah Billy. Mata Qia memandang wajah Billy.


Kamu belum lupa tentang masalah kiss itu rupanya, gumam Billy.

__ADS_1


"Pemandangan yang indah," ucap Qia.


Aku suka liat wajahmu kayak gini penuh bekas lipstick dariku, hihihi, gumam Billy.


"Kamu udah kiss, sekarang pindah...." ucap Billy.


"Nggak mau, aku suka mandang Kak Billy dari atas sini," sahut Qia sambil membelai wajah Billy.


Yaya, kamu sekarang agresif banget ternyata, gumam Billy.


"Kak Billy, maaf ya tadi Qia sempet mewek...aku nggak bermaksud nangis dan bikin kamu ehm...malu...." ucap Qia lirih sambil memandang wajah Billy.


"Iya, yang sudah terjadi lupakan saja," sahut Billy.


Lagipula, lagumu juga sudah membalas Narendra secara tak langsung, Yaya, gumam Billy.


Untunglah, Kak Billy nggak marah. Pokoknya aku nggak boleh kayak gitu lagi, deh, gumam Qia.


"Kak Billy, ini di mana, sih? Kasih tahu dong" ucap Qia sambil membelai wajah Billy.


"Ini di istanamu, Tuan Putri," sahut Billy.


"Iya. Apa kamu lupa? Waktu kita menikah di hadapan kakek bukankah sudah pernah kubilang jika aku sudah menyiapkan rumah untukmu?" jawab Billy.


Emang gitu, ya? Kok aku nggak ingat, ya? Ah, sudahlah bukan saatnya memikirkan hal itu, gumam Qia.


"Aku sudah menjawab pertanyaanmu, Yaya. Kamu masih mau menindih tubuhku terus?" ucap Billy.


"Hari ini aku tuan putri. Kak Billy nggak boleh protes. Aku mau ngapain aja harus nurut," ucap Qia sambil menunjuk ke arah hidung Billy.


Sudahlah, ikuti saja, gumam Billy.


"Kak Billy, habis resepsi kita mau ngapain?" tanya Qia.


Yaya, kamu mau kode buat minta jatah, ya? gumam Billy.


"Mandi dulu, Yaya. Ganti baju dulu...." sahut Billy.

__ADS_1


"Kok mandi, sih?" Qia tertegun.


Kak Billy, kamu ngira aku ngode buat minta jatah, ya? Duh, kok jadi gitu, sih. Bukan itu yang kumaksud, gumam Qia.


Kok Yaya jadi bingung? Astaga, berarti bukan itu yang dia maksud. Aku jadi malu, gumam Billy.


"Maksudku mandi dulu sebelum ehm...sebelum tidur. Besok tak ada kegiatan...." sahut Billy sambil membuang pandang. Pipinya nampak memerah.


Tebakanku betul, dia ngira aku ngode buat minta jatah. Dia salah tebak. Pipinya sampe merah kayak gitu. Hihihi, lucu deh, gumam Qia


"Kak Billy, berarti kalo Qia jalan-jalan sama Kak Chan nggak papa?" tanya Qia. "Ehm...aku mau jalan-jalan sama Kak Chan. Nggak jauh kok tempatnya...ehm....tapi nginap beberapa hari...." ucap Qia. Tangannya terus memainkan dasi putih di leher Billy.


"Nggak boleh!" sahut Billy tegas.


"Ih, kenapa? Qia cuma jalan-jalan sama Kak Chan kok. Ada Stevia sama saudara yang lain juga. Mumpung baru libur agak lama sebelum masuk semester 6...."


"Kamu harus menemaniku pergi!" sahut Billy.


"Katanya tadi free. Nggak ada kegiatan. Memangnya mau pergi kemana?" tanya Qia.


"Jika kamu dan aku pergi berdua saja. Menurutmu kita akan pergi untuk apa?" tanya Billy balik.


Pergi berdua saja? Jangan-jangan pergi untuk honeymoon, gumam Qia.


"Pergi untuk...." Qia hendak menjawab.


"Sudahlah, aku mau mandi dulu," ucap Billy. Tangannya menyingkirkan Qia dari atas tubuhnya.


Ih, masih aja suka main kode-kodean, gumam Qia.


Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update


Cara vote dan like gampang kok 😄


Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄


Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel

__ADS_1


Thank you 😍


__ADS_2