
"Jangan khawatir!" Balok Es menggenggam tanganku. "Saya tahu kamu takut kecoa. Saya tak memintamu merawat kecoa," aku sedikit lega. "Saya ingin kamu merawat binatang peliharaan saya yang lain," Balok Es tersenyum.
Astaga, Pak! π£ Maksud Bapak saya disuruh merawat ular dan kadal? π’
"Jangan khawatir, mereka jinak. Paling hanya menggigit saja. Itu pun tidak berbisa," Balok Es menatapku dengan senyuman licik. "Ayo, kamu mulai sekarang!" dia menarik tanganku.
Balok Es, kau tetap saja menyebalkan! π£Sial, Balok Es menjahiliku lagi. Kejahilannya kali ini bertambah ekstrem.
"Jika kamu ingin jadi istri saya, kamu harus paham apa hobi saya. Mengurus rumah adalah tugas seorang istri. Binatang-binatang ini juga adalah penghuni rumah saya, kau harus membantu saya memgurusnya. Ehm, jangan berpikir saya menjahilimu. Saya ingin merawatnya sendiri, tapi apa daya tangan saya sedang sakit," ucap Balok Es dengan nada memelas.
"Iya, Pak. Saya akan membantu Bapak," sahutku.
Jika aku menolak itu akan menunjukkan bahwa tekadku menjadi istrinya lemah.
"Tugas saya apa?" tanyaku.
"Mudah kok. Cuma memandikan ular saja," Balok Es tersenyum.
Tubuhku langsung merinding seluruhnya. Tenang, Qia, tenang. Pasti Balok Es takkan tega membiarkanmu terluka.
"Baiklah, ular mana yang harus saya mandikan. Pasti mulai dari yang kecil imut ini ya?" tanyaku. Aku menunjuk salah satu kotak berisi ular yang masih kecil.
__ADS_1
"Ehm, ular-ular yang kecil dan sudah di rawat oleh Pak Pak Erik. Kamu tinggal merawat yang paling spesial saja," Balok Es tersenyum padaku. "Ah, ini dia. Dia adalah raja di ruangan ini.
Balok Es menunjuk ke sebuah kotak kaca. Nampak seekor ular warna kuning lemon. Ular itu sangat besar bagiku. Pak, Bapak tidak mencoba membunuh saya dengan sengaja kan? π£ Yang benar, saja π. Aku disuruh merawat ular sebesar ini.
"Jangan khawatir, dia jinak kok. Panjangnya cuma 5 meter. Ini ular piton. Tidak berbisa, mungkin cuma menggigit manja," sahut Balok Es. "Nah, kamu coba mandikan dia di bak kotak ini ya. Jangan khawatir, cuma gosok-gosok pelan saja," nampak ada kotak putih plastik berisi air. "Ayo, Pak Erik. Keluarkan ular itu!" perintah Si Balok Es.
Ular itu dikeluarkan dari kotak kaca itu. Dia terus saja menatap dengan tatapan membunuh nan mengerikan. Dia seakan berkata, "sepertinya gadis ini lezat!" π. Lidahnya yang terus terjulur keluar masuk tanpa henti seolah memberi sinyal ingin segera melahapku bulat-bulat. Ular itu sekarang ada di kotak berisi air itu.
"Ayo, cepat! Katanya mau jadi istri sungguhan. Masak memandikan hewan kesayangan saya saja menolak," ucap Balok Es. "Apa kau takut, Tikus Kecil? Kau bukan pengecut kan?" ejek Balok Es. Aku sebenarnya takut tapi demi menunjukkan kesungguhan ucapanku dan menebus kesalahanku akan kulakukan perintahnya.
"Saya berani, Pak," sahutku lirih. Aku berjongkok di dekat kotak itu. Jantungku berdebar kencang. Ini pertama kalinya dalam hidupku aku berhadapan dengan hewan buas seperti ini. Ayo, Qia, beranikan dirimu! π€. Dengan sangat perlahan kumasukkan tangan kananku ke dalam kotak berisi air itu. Ular itu tenggelam di dasar kotak berisi air ini. Ular cantik, jadilah anak baik ya! Jangan gigit, aku! Jantungku semakin berdebar kencang.
"BAAAAAA!!!!" terdengar teriakan.
Jantungku rasanya mau copot . Aku benar-benar ketakutan. Air mataku mulai mengalir. Aku sungguh takut digigit ular itu. Bagaimana jika aku nanti dilahap bulat-bulat dan mati di perut ular seperti berita yang pernah kudengar di internet? π’. Bapak, Bapak jahat! π
"HAHAHAHA!!!!" terdengar tawa terbahak-bahak. "Hey, Tikus Kecil," Balok Es mulai menyadari keadaanku. "Hey, jangan menangis."
"Ba...pak...ja...hat..." ucapku sambil menangis. "Ba...pak...ja...hat..." aku terus menangis tersedu-sedu.
"Saya hanya bercanda. Jangan menangis@" Balok Es berjongkok di dekatku. Dia hendak mengarahkan tangannya ke arahku. Aku menjauh perlahan.
__ADS_1
Bapak, jahat! π Qia ketakutan setengah mati, tahu! π
***
"Hey!" panggil Balok Es lagi.
Aku masih membuang muka. Mataku terus memandang ke arah luar jendela mobil. Aku masih murka terhadap kejahilan Si Balok Es. Aku tahu aku salah di masa lalu tapi sekarang aku benar- benar ingin memperbaiki kesalahanku. Niatku menurut dengan patuh pada Si Balok Es malah dijadikan bahan lelucon olehnya. Itu keterlaluan! π‘
"Hey, ayolah, Tikus Kecil," panggil Balok Es lagi. "Saya minta maaf, kau masih marah?" ucapnya lirih. "Ya, sudah. Jika kamu marah. Padahal saya ingin mengajakmu pergi ke tempat yang bagus," ucapnya. "Padahal ini tempat yamg bagus untuk hunting foto. Padahal saya ingin mengajakmu bersenang-senang. Tapi, karena kamu marah ya sudahlah," ucap Balok Es.
Sial, aku mulai terpancing pada umpannya. Kurasa dia serius dengan ucapannya kali ini. Pemandangan di luar mobil menunjukkan jika mobil ini sedang melaju melalui jalan berkelok. Jalan berkelok biasanya ada di daerah pegunungan atau dataran tinggi. Pemandangan di sekitar juga menunjukkan jika tempat ini mungkin daerah pegunungan atau dataran tinggi. Aku belum pernah kemari, jadi belum bisa memastikannya.
"Iya, Pak. Jangan pulang!" sahutku secepatnya. "Saya mau pergi dengan Bapak."
Jangan lupa like dan vote ya π biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok π
Tinggal pencet tanda jempol π di pojok kiri bawah untuk like π
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
__ADS_1
Thank you π