
CREK! CREK! Suara kamera depan itu terus menyala. Qia sibuk mengambil foto selfie sedari tadi. Di belakangnya nampak sebuah bangunan megah. Bangunan itu terdiri dari 3 lantai. Bangunan megah khas Eropa. Dindingnya dicat kuning kecoklatan. Atapnya berwarna hitam kebiruan. Sebuah halaman yang luas ada di depan bangunan itu. Di halaman itu ada sebuah bangunan lain yang berbentuk piramida. Piramida itu terbuka dari kaca. Orang-orang nampak sibuk antri menuju piramida kaca itu.
"Hey, Gaes!" teriak Qia kegirangan. Dia bergaya di depan smartphone-nya layaknya seorang vlogger. "Aku baru holiday, nih! Tebak di mana coba?" Qia mengangkat layar smartphone-nya sehingga pemandanggan di belakangnya terlihat. "Aku lagi di Paris, Perancis, Gaes. Ini baru mau masuk ke Museum Louvre atau Musée Du Louvre!" Qia mengarahkan layar smartphone-nya menuju bangunan berbentuk piramida kaca itu. "Nih, pintu masuknya dari sini, Gaes! Rame banget kan orangnya!" ucap Qia dengan ceria.
"Tuan," panggil seseorang. "Nampaknya Nona Qia menikmati perjalanan ini. Dia terlihat sangat bahagia!"
"Ck! Satu-satunya yang membuatnya mengabaikanku adalah benda kotak itu, June!" sahut Billy. Dia berdiri tak jauh dari Qia.
"Hubby," panggil Qia. Dia mengarahkan layar smartphone-nya ke arah Billy. Qua dengan percaya diri merangkul pinggang Billy. "Hubby, senyum...." ucap Qia saat layar smartphone itu mulai menunjukkan timer yang menghitung mundur. "Satu...dua...." hitung Qia. "Ti...ehm...." Billy langsung mencengkeram dagu Qia. Dia lalu memberikan kecupan di bibir Qia. Otomatis pemandangan itulah yang terabadikan oleh smartphone Qia.
"Hubby...kau...." ucap Qia yang masih kaget karena ciuman mendadak dari Billy.
"Hukuman karena terus bermain handphone. Simpan handphone-mu, Yaya. Ayo, kita mengantri masuk ke dalam!" Billy menggandeng tangan Qia dengan erat.
Hukuman? Ih, bilang aja kalo mau kiss. Dasar malu-malu tapi mau, gumam Qia. Dia berdiri di belakang Billy untuk antri masuk ke dalam bangunan kaca berbentuk piramida itu.
"Antriannya panjang sekali!" celetuk Qia.
"Sabarlah, Yaya," ucap Billy.
"Eh!" ucap Qia spontan saat Billy menariknya ke arah depan. "Biar kamu nggak hilang!" ucap Billy sambil mencengkeram erat pinggang Qia dengan kedua tanganya. Kepala Billy menyandar di bahu kanan Qia.
"Hubby, ada apa saja di dalam sana? Kenapa kita tidak ke Menara Eiffel dulu?" tanya Qia.
"Kau takkan menyesal masuk ke dalam sana, Yaya. Aku ingin perjalanan ini juga mengandung nilai edukasi bagimu. Bukan cuma main-main," ucap Billy sambil menunjuk ke arah hidung Qia.
"Edukasi? Kau ingin mengajakku honeymoon atau study tour ke Eropa sih?" celetuk Qia.
"Tentu, saja honeymoon!" sahut Billy. Dia lamgsung membekap mulutnya.
"Hihihi, Hubby. Kau keceplosan, ya?" ucap Qia sambil tertawa. "Nggak usah, jaim," Qia menyikut badan Billy.
__ADS_1
"Ayo, maju!" ucap Billy sambil mendorong tubuh Qia agar berjalan maju ke arah depan.
Antrian itu mulai bergerak maju. Setelah mengantri beberapa saat, tiba giliran Billy dan Qia untuk masuk ke dalam bangunan piramida kaca itu.
"Wow!" ucap Qia saat menuruni anak tangga untuk masuk ke dalam area bangunan piramida kaca itu.
Nampak area yang luas. Area itu berada di bawah tanah. Area itu didominasi warna putih. Terdapat beberapa pintu masuk menuju ke area yang lebih tinggi. Ada satu anak tangga serta dua ekskalator di masing-masing pintu itu.
"Hubby, kita pintunya banyak sekali! Kita mau masuk ke pintu yang mana?" tanya Qia.
"Lewat pintu yang itu, Yaya. Yang ada tulisannya 'Denon'," ucap Billy sambil menggandeng Qia menuju pintu bertuliskan 'Denon'.
"Wah! Gambar Monalisa!" ucap Qia sambil menaiki eskalator untuk naik ke area yang lebih tinggi dari pintu yang bernama 'Denon' itu. Di pintu itu memang terpampang poster lukisan Monalisa. "Hubby, apa kau pernah kemari sebelumnya?" tanya Qia.
"Sudah, saat aku masih SMA. Waktu liburan akhir tahun bersama keluargaku," sahut Billy sambil menggandeng tangan Qia dengan erat.
Billy dan Qia melewati lorong dengan atap yang tinggi. Atap itu berbentuk melengkung. Dinding lorong itu berwarna putih. Di dinding lorong terdapat berbagai lukisan berukuran besar yang indah. Terdapat panel kaca di bagian tengah atap melengkung lorong itu. Cahaya matahari menerobos masuk lewat panel kaca itu.
"Museum ini berisi karya seni, Yaya. Sebagian besar berupa patung dan lukisan," sahut Billy. Keduanya terus berjalan menyusuri lorong itu.
"Ja Loconde?" ucap Qia saat membaca suatu tulisan. "Oh, jadi Monalisa disebut juga Ja Loconde? Di papan penunjuk arah ini tertulis seperti itu...." tangan kiri Qia menunjuk ke arah papan penunjuk arah itu.
"Berarti kita sudah dekat! Ayo, Yaya!" Billy memgandeng tangan Qia semakin erat.
Di depan sana nampak kerumunan orang. Orang-orang itu nampak menatap ke arah dinding. Sebagian besar orang-orang di kerumunan itu mengarahkan kamera atau smartphone mereka ke arah dinding itu.
"Hubby, ramai sekali!" celetuk Qia.
"Ayo, pegang tanganku dengan erat. Kita menerobos biar bisa liat dari depan!" sahut Billy. Qia pun menggangguk. Dia memegang erat tangan kanan Billy.
"Wow! Ini ya lukisan Monalisa yang terkenal itu! Pengamanannya ketat sekali. Sudah diberi kaca. Masih diberi pagar pembatas juga! Ditunggu sama penjaga juga!" celetuk Qia.
__ADS_1
"Kau tahu, Yaya. Kaca pengaman lukisan itu bukan kaca sembarangan, tapi kaca anti peluru!"
"Kaca anti peluru? Wow! Seperti melindungi harta karun saja!" celetuk Qia. Dia memandang ke arah lukisan Monalisa itu. "Hubby...." panggil Qia.
"Ehm? Ada apa?" sahut Billy sambil memeluk Qia dari arah belakang.
"Aku sama Monalisa cantikan mana?" tanya Qia.
"Heh? Kamu dan lukisan itu?" tanya Billy balik. Qia menggangguk. "Mungkin bagi dunia, Monalisa adalah lukisan wanita yang paling cantik selama berabad-abad. Tapi, bagiku tetaplah Yaya, satu-satunya wanita yang memesona dan tiada tandingannya di hatiku," sahut Billy sambil mencium pipi kanan Qia.
Ih, aku suka kalo mulutnya baru manis kayak gini, hehehe, gumam Qia.
"Sudah puas, melihat Monalisa? Ayo, kita pergi ke tempat lain!" ajak Billy.
"Tunggu! Aku mau memotret Monalisa dulu!" Qia mengekuarkan smartphone-nya lalu mengarahkannya pada lukisan Monalisa itu.
"Sudah, ayo,Yaya!" ucap Billy. Dia menarik tangan Qia.
"Setelah ini kita mau kemana?" tanya Qia.
"Landmark kota ini!" sahut Billy.
Jangan lupa like dan vote ya 😄 biar author tambah semangat buat nulis dan update
Cara vote dan like gampang kok 😄
Tinggal pencet tanda jempol 👍 di pojok kiri bawah untuk like 😄
Untuk vote tinggal pencet tanda 'Vote' di halaman sampul novel
Mohon doa dan dukungannya ya supaya Billy dan Qia bisa menang di Lomba You Are A Writer #3 😊
__ADS_1
Thank you 😍