
"Ayo makan lagi, Yaya!" Billy dengan sabar menyuapkan bubur ke arah Qia.
"Aku udah kenyang. Udah makannya, aku pengen bobok lagi aja!" tolak Qia. Dia duduk dalam posisi tegak di tempat tidurnya. Tangan kanannya masih terbalut gips warna putih. Kepalanya sudah tak lagi diperban, hanya dilindungi dengan kapas putih yang ditempel dengan plester warna coklat.
"Ayo, makan lagi! Kamu baru makan beberapa suap! Nanti tubuhmu kekurangan asupan buat penyembuhan lukamu. Ayo, Yaya, Sayangku, bukalah mulutmu!" bujuk Billy.
"Nggak mau, aku sudah kenyang. Aku mau langsung tidur aja!" Qia menolak suapan itu. Tangan kirimya dipakai untuk membekap mulutnya sendiri. Billy hanya menghela napas. Dia meletakkan piring dan semdok itu ke atas nampan.
"Ya, sudah sekarang minum obatmu, ya," Billy menyiapkan obat yang akan diminum oleh Qia. "Ini! Ayo diminum, Yaya,"ujar Billy dengan lembut. Tangan kanannya sudah memegang obat. Tangan kirinya memegang gelas kaca berisi air putih.
"Nggak mau, obatnya pahit! Nggak enak!" tolak Qia. Dia membekap mulutnya dengan tangan kiri semakin erat.
"Ayo, minumlah, nanti kau semakin lama sembuhnya," bujuk Billy.
"Nggak mau, obatnya pahit. Rasanya aneh. Aku mau langsung bobok aja!" tolak Qia lagi. Billy menghela napas.
"Qia sudah sarapannya, Sayang?" terdengar suara dari balik pintu.
"Bunda Lia," sapa Billy.
"Lho, kok masih banyak. Kamu harus makan banyak, Sayang. Aduh, obatmu juga belum diminum. Ayo, minum obatmu biar cepat sembuh!" bujuk Mama Lia.
"Nggak mau, Ma. Obatnya pahit. Aku mau langsung tidur aja," tolak Qia lagi. Dia membekap mulutnya.
Astaga, bagaimana caranya membujuk Yaya agar mau minum obat. Dia sydah diizinkan pulang dari rumah sakit tadi sejak dua hari yang lalu tapi jika seperti ini proses penyembuhan lukanya bisa semakin lama. Aku punya ide, gumam Billy.
"Kamu nggak mau minum obat? Yakin? Ya sudah, tak apa-apa. Sudah kamu tidur saja, proses kesbuhanmu butuh waktu lama. Sayang sekali, padahal beberapa bulan lagi akan ada konser boyband idolamu di negara tetangga. Karena kamu sakit jadi kubatalkan saja pemesana tiketnya," ujar Billy.
__ADS_1
"Konser boyband idolaku?" mata Qia langsung melotot seketika. "Ah iya, kan sudah ada infonya. Kenapa aku bisa lupa sih! Hubby, kau sudah memesankan tiketnya? Sungguh?" tanya Qia.
"Ehm, aku sudah memesan tiket, penerbangan dan penginapannya, tapi sebaiknya dibatalkan saja. Aku akan meminta June untuk membatalkannya," Billy mengambil smartphone-nya.
"Jangan-jangan! Aku mau nonton! Aku mau nonton!" Qia menarik-narik tangan Billy.
"Kamu kan masih sakit karena menolak minum obat pasti sembuhnya semakin lama daripads biasanya. Sudah, lebih baik kubatalkan saja. Sayang uangnya jika nanti hangus begitu saja," Billy pura-pura cuek. Dia kembali menatap ke arah lauar smartphone-nya.
"Iya, iya. Aku mau minum obat!" teriak Qia. Dia segera mengambil obat itu dan meminumnya. "Sudah! Aku sudah jadi anak baik dan penurut! Jangan batalkan! Jangan! Jangan!" Qia merengek kembali sambil menarik-narik tangan Billy.
"Baiklah, asal berjanjilah rajin minum obatmu!" perintah Billy.
"Iya, iya. Aku janji! Janji!" sahut Qia.
Seharusnya kukeluarkan jurus ini dari kemarin, gumam Billy. Dia meletakjan smartphone-nya kembali.
"Apa masih sakit?" Billy membelai kepala Qia. Qia hanya menggeleng. "Sudah sekarang istirahatlah," tubuh Qia ditutupi dengan selimut oleh Billy.
"Hubby, apa nggak papa aku dirawat di rumah orang tuaku? Aku kan udah nikah sama kamu. Seharusnya kan pulang ke rumahmu."
"Memangnya kenapa? Kau juga tetap putri dari keluarga ini, tak masalah. Sudah sekarang tidur," Billy membantu Qia berubah menjadi posisi terbaring.
"Kamu gimana? Kamu udah semingguan lebih nggak pulang ke rumah karena nemenin aku."
"Rumah keluargamu adalah rumahku juga, itu tak masalah. Sekarang tidurlah, ya."
"Aku nggak bisa tidur kalo nggak dipeluk kamu. Masih suka mimpi buruk. Sini, bobok sini!" pinta Qia.
__ADS_1
"Iya, iya," Billy berbaring di sebelah kiri Qia. Tepat di belakang Billy berbaring adalah tembok kamar itu.
"Kamu memang guling yang paling nyaman buat dipeluk!"
"Yang benar itu aku yang memelukmu. Kau yang jadi guling," sahut Billy sambil memeluk Qia. "Oh ya, ada yang ingin aku tanyakan padamu, Yaya," Billy menatap Qia.
"Apa? Katanya tadi mau nemenin aku tidur."
"Sebentar saja. Aku hanya ingin tahu apa ada hal aneh yang kau alami sebelum kecelakaan itu? Apa ada sesuatu yang aneh?"
"Aneh? Aneh, bagaimana maksudmu?" tanya Qia.
"Aku hanya ingin memastikan saja. Aku tak yakin kecelakaan yang menimpamu murni kecelakaan. Bisa saja itu ulah dari musuh keluargaku," ucap Billy.
________________________________________
Terima kasih sudah setia membaca, memberi like, vote dan komentar pada novel saya 😍
Mohon maaf selama kurang lebih dua bulan ke depan novel ini hanya akan update setiap hari Minggu 😊
Hal itu karena author sedang fokus mengejar target wisuda tahun ini 😁
Mohon doanya ya agar author diberi kelancaran dan kemudahan dalam menyelesaikan penyusunan skripsi 😊
Mohon doanya juga semoga bulan ini bisa selesai dalam menyusun skripsi 😄 dan semoga bisa segera sidang dengan lancar dan tak bayak revisi 😊
Thank you 😍
__ADS_1